Laporan: Etta Adil
Related Post: Uyghur Menjerit, Kemana Pembela HAM?
PALONTARAQ.ID – SEBUAH Akun Channel Youtube bernama “Tv Politik” mengunggah video, bertanggal 1 April 2019, berjudul “Prof Salim Mengatakan Presiden Menolak Delegasi Uyghur”.
Menarik untuk menelusuri fakta yang sebenarnya dari apa yang diungkapkan Prof Salim Said, ilmuwan politik terkemuka tersebut.
Sebelumnya, seorang netizen bernama A. Risnawan mereply kicauan Prof Salim Said di twitter yang menjelaskan bahwa, pak Jokowi, sebagai Presiden Indonesia, MENOLAK utusan Muslim Uyghur yang datang bersama pak Dien Syamsudin (Prof Dien Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah).
Lihat juga: Selamatkan Uyghur!
Utusan Muslim Uyghur tersebut bermaksud menyerahkan Al-Qur’an yang ditulis tangan untuk Indonesia melalui Jokowi sebagai Presiden Indonesia saat ini, namun keinginan utusan Muslim Uyghur yang didampingi Prof Dien Syamsuddin tersebut DITOLAK dengan alasan, tidak mau menyakiti hati Pemerintah Cina, karena tak ingin membuat tersinggung Pemerintah Tiongkok.

Serentak dengan kicauan tersebut, netizen bereaksi bahwa selama ini, apa yang dibahasakan Jokowi selama ini, khususnya dalam Debat Capres keempat bahwa Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia adalah kekuatan diplomasi hanya lipsync belaka.
“Saya baru lihat dan baru tahu soal ini. Kalau ini tidak benar, pak Jokowi dan Timnya, silahkan klarifikasi. Kalau ini benar, berarti omongan pak Jokowi dalam debat capres ke 4 bahwa Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia adalah kekuatan diplomasi, hanya lipsync belaka,” demikian twit @ARisnawan82
Lihat juga: 5 Cara bantu Muslim Uyghur
“Saya sangat sedih membaca ini. Saya bisa bayangkan, perasaan muslim Uyghur yang ditindas pemerintah Cina dan penolakan Jokowi, dengan alasan tidak ingin menyakiti hati si penindas. Luar biasa. Jadi paling tidak, kita bisa membaca, kemana saat ini rejim berafiliasi,” tambahnya.
“Merendahkan tamu, berarti merendahkan diri sendiri. Yang mulia, adalah yang memuliakan tamu. Yang menolak pemberian Al Qur’an, pastinya alergi dengan Al Qur’an. Yang alergi pada Al Qur’an, silahkan dipikirkan sendiri,” demikian komentar netizen lainnya.
Setelah Redaksi Palontaraq telusuri, ternyata berita tentang Utusan Muslim Uyghur ini pernah pula diungkap Ustadz Fahmi al-Anjatani lewat video pendek berdurasi 4 menit 31 detik bertanggal 25 Februari 2019. (Nonton videonya DISINI)
Ustadz Fahmi al-Anjatani menyebutkan bahwa penolakan Utusan Uyghur tersebut yang membuat Prof Dien Syamsuddin Wakil Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban pada 21 September 2018 lalu.
Lihat juga: Uyghur Menjerit, Kemana Pembela HAM?
Media Tempo.co menurunkan berita, hari ini (3/4/2019) membantah pernyataan Ustadz Fahmi al-Anjatani di sosmed tersebut DISINI, namun belum ada klarifikasi langsung Prof Dien Syamsuddin sendiri, khususnya dalam bentuk audio-visual atau video terkait apa yang dikemukakan oleh Prof Salim Said dalam Channel TV Politik di Youtube tersebut. Karena jika benar, secara tidak langsung Indonesia sudah tersandera “terjajah” oleh Tiongkok.
Berikut ini videonya:


