Cukupkan diri dengan Mengejar Ridha Allah

by Penulis Palontaraq | Senin, Mar 25, 2019 | 79 views
Syaikh Sayyid Thanthawi

Syaikh Sayyid Thanthawi

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

PERNAHKAH kita membaca ungkapan yang menyatakan bahwa kita semua adalah orang biasa dalam pandangan Orang-orang yang tidak mengenal kita, kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita, kita istimewa dalam penglihatan Orang-orang yang mencintai kita, kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian, dan kita adalah Orang-orang jahat di dalam tatapan Orang-orang yang iri.

Jadi, siapa kita tergantung dari siapa yang memandang kita. Maka sebenarnya kita akan menghabiskan banyak waktu yang sia-sia jika selalu memikirkan dan mengambil hati dari penilaian manusia. Ungkapan bijak dan penuh makna tersebut berasal dari nasehat  Syaikh Sayyid Thanthawi, seorang ulama besar dunia yang dilahirkan pada 28 Oktober 1928  di Provinsi Suhaj, Mesir

Propinsi Suhaj, adalah salah satu dari 26 provinsi di Mesir, berbatasan langsung dengan Al-Wadi Al-Jadid di barat, Al-Bahr Al-Ahmar di timur, Asyut di utara dan Qina di selatan. Syaikh Sayyid Thanthawi  menempati posisi tertinggi di Al-Azhar sebagai grand syaikh sejak 27 Maret 1996.

Menarik untuk melihat sejenak perjalanan pendidikan Syaikh Sayyid Thanthawi.  Beliau memperoleh ijazah Licence (Lc) pada Fakultas Ushuluddin di Universitas Al-Azhar pada Tahun 1958, kemudian menjadi imam dan khatib sekaligus pengajar di bawah Kementerian Wakaf  Tahun 1960.

Syaikh Sayyid Thanthawi  menggondol gelar Magister dan Doktor di Fakultas Ushuluddin dalam bidang Hadits dan Tafsir pada Tahun 1966 dengan predikat nilai:  Mumtaz (Sempurna).Pada Tahun 1972, Syaikh Sayyid Thanthawi  diangkat menjadi menjadi tenaga pengajar di Fakultas Ushuluddin Asyuth.

Beberapa tahun kemudian beliau mengajar di Libya selama 4 tahun, kemudian Tahun 1980 pindah ke Madinah Al-Munawwarah untuk mengajar sekaligus menjabat Dekan Fakultas Tafsir Universitas Ad-Dirasat Al-‘Ulya di Jamiatul Islamiyyah.

Pada tanggal 28 oktober 1986, beliau kembali ke Mesir dan diangkat menjadi mufti negara pada saat ulang tahunnya yang ke-58. Fatwa-fatwa Syeikh Sayyid Thanthawi  membawa pengaruh besar dalam dunia Islam saat itu. Beliau memengang posisi ini kurang lebih sepuluh tahun sampai kemudian diangkat menjadi Syaikhul Al-Azhar oleh Presiden Mesir Husni Mubarak.

Walaupun memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan Mesir, Syaikh Sayyid Tanthawy tidak terlena dengan jabatan dan kedudukannya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang zuhud, tenang, santun, dan gemar membaca dimana saja. Syaikh Sayyid Thanthawi kerapkali  meminta salah satu pembantunya untuk menunggu dan mengingatkan waktu shalat kepada beliau, disebabkan sibuknya dalam membaca dan mengkaji Hadits dan Tafsir.

Beberapa karya tulis Syaikh Sayyid Thanthawi, diantaranya ialah  Bani Israel fi Al-Qur’an wa As-Sunnah (1969),  At-Tafsir Al-Wasit li Al-Qur’an Al-Karim (1972),  Al-Qissah fi Al-Qur’an Al-Karim ( 1990 ), dan  Muamalat Al-Bunuk wa Ahkamuha As-Syar’iyyah (1991).

Syaikh Sayyid Tanthawy berpesan agar jangan mengejar segala hal yang tidak dibawa mati. “Cukupkanlah diri dengan mengejar Ridha Allah,” ujarnya. Syaikh Sayyid Thanthawi menghembuskan nafas terakhir pada pagi hari Kamis 24 Rabi’ul Awwal 1431 H/10 Maret 2010 M di Riyadh, Saudi Arabia pada umur 81 tahun dan dikemumikan di Baqi’.

Berikut ini beberapa ungkapan terkenal Syaikh Sayyid Thanthawi:

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِى نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا

، وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا

، وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا

، لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ

، يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك

، وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ

 

 

Artinya:

Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita

Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita

Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita

Kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian

Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri

Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah lelah agar tampak baik di mata orang lain

Cukuplah dengan ridha Allaah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang tak kan pernah tergapai

Sedangkan Ridha Allaah, destinasi yang pasti sampai .

“Maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah. (Qs. 2:207)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response