Terorisme Global dan Tren yang Terjadi

by Penulis Palontaraq | Senin, Nov 11, 2019 | 109 views
Ilustrated, sumber foto: islami.co

Ilustrated, sumber foto: islami.co

Laporan: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Apa itu Terorisme global?  Benarkah Terorisme global itu ada dan bagaimana bentuknya?  Siapa sajakah dibalik terorisme global itu? Adakah terorisme itu ‘proyek invasi’ suatu negara atau gabungan kepentingan dari berbagai negara? Beberapa pertanyaan ini sudah terjawab, dan yang lainnya masih dalam analis terorisme.

Secara harfiah, dapat dikatakan bahwa teroris adalah orang, atau sekelompok orang, yang melakukan tindakan teror.  Dalam prakteknya, tentu definisinya berbeda, dan bahkan tiap negara  memiliki definisi tersendiri tentang siapa yang berhak dicap, diklaim, disemati atau dilabeli sebagai teroris. Perdebatan soal ini bisa panjang!

Meski begitu, kita sepakat tentang satu hal, yaitu bahwa pembuat definisi tunggal tentang terorisme, secara internasional, adalah Amerika Serikat, sebagai penggagas tunggal Global War on Terrorism, dan lebih gencar lagi pasca 9/11.

Hari-hari terakhir ini, sangat sulit untuk menyangkal bahwa label teroris lebih sering disematkan kepada kelompok jihadis dan umat Islam yang memperjuangkan kembali tegaknya khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam.

Robert Muggah, seorang jurnalis, mengungkap 5 hal yang menjadi pokok-pokok pikiran “Global World Terrorism” di situs web Small Wars Journal, yaitu:

(1)  Adanya temuan penurunan yang signifikan dalam insiden dan kematian teroris, setelah sempat memuncak pada 2014.  Global Terrorism Database (GTD) telah mengidentifikasi beberapa gelombang kekerasan teroris sejak 11 September 2001.

Gejala penurunan ini terlihat pada fase puncak Pasukan AS di Irak (2007-2011) jika dibandingkan setelah invasi AS ke Irak (2002-2007) dan peningkatan kekerasan dari Tahun 2012-2014, ternyata tidak hanya karena membesarnya perang di Irak, tetapi juga akibat dari ketegangan di Nigeria, Suriah dan pecahnya Musim Semi Arab.

Robert Muggah menilai, terorisme ditandai dengan penurunan tajam dalam hal insiden dan korban jiwa —dari 2015 hingga pertengahan 2019. Penurunan sejak 2014 sangat signifikan: pada 2015 (total kematian turun 12%), 2016 (total kematian turun 10%), 2017 (total kematian turun 24%), dan penurunan serupa pada 2018 dan 2019.

Sejauh ini, secara statistik, pada paruh pertama 2019 telah terjadi 780 serangan dan 3.488 kematian karena kekerasan. Sangat jauh jika dibandingkan dengan 10.900 serangan dan 26.445 kematian karena kekerasan pada jangka waktu yang sama tahun 2017, atau 17.000 serangan dan 45.000 korban pada tahun 2014.

(2) Terus terjadinya peningkatan konsentrasi insiden dan korban terorisme di sejumlah kecil negara dan dilakukan oleh sejumlah kecil kelompok.

Sebagian besar peristiwa dan kematian terjadi di sejumlah kecil negara di Timur Tengah, Afrika Utara dan Barat, dan Asia Selatan. Selama dekade terakhir, negara “kontributor” utama terjadinya terorisme yaitu Irak, Afghanistan, Suriah, Somalia, Pakistan, Ukraina, Nigeria dan pada tingkat lebih rendah Mesir, Yaman, India, Filipina dan Myanmar.

Di Irak, ada 4.271 insiden pada 2017. Sebagai perbandingan, di Kanada, hanya ada dua. Hanya lima kelompok yang dicantumkan oleh GTD sebagai pelaku: ISIS, Taliban, al-Shabaab, Boko Haram, dan Republik Rakyat Donetsk (negara-proto yang didukung Rusia, yang hendak memerdekakan diri dari Ukraina) menyumbang hampir 60 persen dari korban pada 2017 (naik dari 32 persen pada 2012).

Ancaman terorisme sangat kecil di negara-negara Barat, dan, ketika hal itu terjadi, sebagian besar korban adalah Muslim.
Hal itu berarti masih ada sejumlah besar negara di mana insiden terorisme terjadi.

Pada tahun 2004, hanya 39 negara yang menjadi tempat kejadian terorisme, meningkat menjadi 60 negara pada tahun 2012 dan menjadi 79 negara pada tahun 2016. Pada tahun 2018, sekitar 67 negara mengalami setidaknya satu kematian terkait terorisme.

(3) Terorisme nasionalis kulit putih bukan hanya ancaman domestik, tetapi juga ancaman global.  Menurut GTD 2019, insiden kekerasan supremasi kulit putih, yang secara khusus difokuskan pada serangan terhadap sasaran imigran non-kulit putih, non-Kristen, dan terutama Muslim berbeda berdasarkan wilayah dan demografi.

Muslim lebih sering menjadi sasaran di Eropa dan Amerika Utara, sementara kelompok minoritas dan komunitas LGBTQ lebih sering diserang di Amerika Latin.

Antara 2010-2017 ada 263 insiden terorisme domestik di AS, di mana 92 di antaranya dilakukan oleh ekstremis sayap kanan dan 38 oleh Jihadis atau simpatisan Jihadis. Antara 2009-2018, kelompok supremasi kulit putih bertanggung jawab atas 75 persen dari 313 kematian yang dikaitkan dengan organisasi “ekstremis”.

Terorisme sayap kanan, termasuk supremasi kulit putih dan kekerasan ekstrimis sayap kanan telah meningkat dengan kecepatan yang berbeda di AS dan negara-negara di seluruh Eropa Barat.

GTD menyebut bahwa ada peningkatan tajam di AS sejak 2016: ada lebih banyak serangan anti-Muslim yang dilaporkan kepada FBI, yaitu sebanyak 127 serangan, pada 2016, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 2001 (93 serangan).

Sementara itu, di Eropa, serangan supremasi kulit putih mulai meningkat sejak 2010, dan terutama sejak gelombang imigrasi pengungsi ke Eropa tahun 2015-2016.

(4) Media sosial berperan dalam meminimalkan penghalang antara ideolog dan pengikut, serta memperkuat perekrutan/aksi terorisme. Ada ekosistem yang luas dan kompleks dari kegiatan terkait teroris di media sosial.

Sebagian besar kelompok teroris terorganisir dan pelaku terorisme adalah individu yang melek teknologi. Mereka  menggunakan media sosial untuk menyiarkan tindakan mereka (secara real-time atau setelah kejadian), dengan tujuan tertentu, termasuk untuk meningkatkan rasa solidaritas di antara mereka serta memancing respons yang terlalu berlebihan dari pemerintah.

Media sosial membantu penyebaran narasi ekstrem dan revisionis. Gagasan yang disebar, misalnya adalah bahwa Yahudi dan kelompok non-kulit putih (terutama Muslim) adalah penjajah dan sengaja diimpor untuk menggantikan etnis Eropa. Dalam kasus kelompok-kelompok Jihadis, Robert menyebut, orang Kristen adalah tentara perang salib dan Muslim menjadi korban.

Usulan inisiatif oleh negara-negara untuk memblokir konten teroris (seperti yang terlihat di Australia, Inggris, dan Uni Eropa) adalah hal yang kontroversial, dengan beberapa analis khawatir bahwa penghapusan konten (termasuk yang di media sosial) akan lebih memberdayakan kelompok teroris, daripada melemahkan mereka.

(5) Muncul ancaman terorisme yang membutuhkan perhatian lebih dekat dari pembuat kebijakan.  Selain jaringan Jihadis seperti ISIS atau al-Qaidah dan ancaman nasionalis kulit putih, ada aktor terorisme lain yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Misalnya, para pejuang yang berasal dari negara-negara bekas Uni Soviet di Rusia yang sebelumnya aktif di Timur Tengah, yang sedang melakukan diversifikasi fokus kelompok mereka. Diperkirakan 8.500 orang dari mereka terlibat di Suriah dan Irak saja.

Beberapa dari mereka pindah kembali ke Negara-negara bekas Soviet, serta muncul di medan lain seperti Bangladesh dan Myanmar. Potensi ancaman dari kelompok ini ialah adanya peningkatan keterlibatan warga Uzbek, misalnya, dalam insiden terorisme di Istanbul, New York City (NYC), dan Stockholm.

Robert menyebut bahwa penurunan secara global dalam tingkat keseluruhan dan kematian insiden teroris adalah berita baik, tentu saja bagi Barat.  Munculnya berbagai ancaman dari terorisme Jihadis, terorisme supremasi kulit putih transnasional, dan aksi lonewolf (aktor tunggal) masih menjadi perhatian utama.

Robert menambahkan bahwa fokus pada insiden dan jumlah korban diperlukan tetapi tidak cukup untuk sepenuhnya menilai perkembangan dan perubahan sifat terorisme.  Robert mengakui selalu ada bias pada jenis ancaman terorisme tertentu di wilayah tertentu.

Fokus Terorisme sangat banyak dibentuk oleh prioritas dan kebijakan kontra-terorisme pemerintah yang dominan dan perhatian masyarakat.  Sebuah studi baru-baru ini atas lebih dari 3.400 artikel, dari Tahun 2007-2016 menemukan bahwa fokus terbesar terorisme adalah pada al-Qaidah, dan kelompok-kelompok Jihad Timur Tengah dan Afrika Utara.

Para peneliti tampaknya lebih memberi penekanan pada analisis ‘event-driven’ (disebabkan oleh kejadian tertentu) dan kurangnya fokus pada terorisme negara dan terorisme non-Jihad. Padahal, kata Robert, hal tersebut adalah blind spot yang berbahaya.

Karena itu patut dipertanyakan,  ketika statistik menunjukkan penurunan terorisme dari segi kuantitas, apa penyebab sebenarnya? Apakah strategi kontraterorisme AS dan PBB yang telah berhasil, atau justru kelompok-kelompok teroris yang melemah? Atau kombinasi keduanya?

Tak ada yang tahu secara pasti. Saat garis tren yang mengacu pada GTD dan sumber lain menunjukkan bahwa jumlah total dan tingkat insiden terorisme dan korban telah menurun, ada faktor-faktor lain yang menunjukkan bagaimana tingkat risiko tetap tinggi.

Disinilah pentingnya, menurut Robert Muggah, penggunaan berbagai metrik untuk mengukur ancaman nyata dan relatif,  tidak hanya insiden dan jumlah korban yang dilaporkan.

Robert Muggah  mengurai beberapa penyebab penurunan tingkat terorisme. Hanya saja, masih berfokus pada penyebab dari satu sisi, yaitu AS, PBB, dan pemerintahan negara setempat. Ia tidak menyebutkan penyebab internal dari sisi kelompok terorisme.

Berikut ini adalah beberapa penyebab menurunnya angka terorisme secara global, menurut Robert:

(1)  Terlokalisirnya perang di Suriah, dan hilangnya wilayah ISIS di Irak dan Suriah.

Robert Muggah menulis bahwa terdapat lebih dari 50 persen penurunan dalam insiden terorisme terkait ISIS pada tahun 2017, dan penurunan yang berkelanjutan pada tahun 2018 dan 2019.

Melemahnya keberadaan dan kemampuan fisik ISIS telah memiliki dampak global. Salah satunya, jumlah keseluruhan korban yang dikaitkan dengan ISIS telah menurun.

Meskipun begitu, banyak pakar kontraterorisme masih bersikukuh bahwa ISIS masih belum dikalahkan, dan sebagian juga memprediksi bahwa pendekatan desentralisasi / franchise akan menghasilkan ancaman baru di masa depan.

Kedua, adanya peningkatan kerja sama dan investasi dalam mengacaukan dan menggulung kelompok-kelompok teroris, meskipun mungkin hanya memiliki efek jangka pendek.

Robert menyebut bahwa AS memperluas operasi militer dan anti-terorisme selama dua dekade terakhir. Negara-negara Eropa Barat, yang tergabung dalam NATO, juga telah memperluas operasi keamanan dan intelijen, termasuk di dataran Sahel dan Timur Tengah.

Efek-efek ini kemungkinan bersifat jangka pendek karena mereka menekankan pengacauan dan menggulung jaringan teroris, yang tidak serta merta mengalahkan ideologi Jihadis atau ideologi kelompok ekstremis sayap kanan.

(3) Pemerintah, PBB, dan perusahaan teknologi semakin banyak berkolaborasi.

Pemerintah mendukung penelitian, bekerja dengan perusahaan teknologi untuk mengurangi konten terorisme (dan ekstremisme), dan mendukung pedoman literasi digital/narasi alternatif.

Negara-negara G7 (Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS) dan perusahaan-perusahaan teknologi seperti Facebook, Microsoft, Twitter dan Youtube membentuk Forum Internet Global untuk Menangkal Terorisme (Global Internet Forum to Counter Terrorism) bersama dengan Royal United Services Institute (RUSI) dan 8 lembaga think-tank pada tahun 2017.

Direktorat kontra-terorisme PBB dan program PBB yang bertajuk Tech Against Terrorism diklaim telah melibatkan lebih dari 100 perusahaan teknologi di empat benua.

Keempat, perusahaan teknologi telah mengambil beberapa tindakan, tetapi juga menghadapi tantangan terkait regulasi, out-linking, dan migrasi ke platform alternatif.

Perusahaan teknologi sedang ditekan untuk mengambil tindakan lebih proaktif untuk menangani konten / akun teroris. Facebook menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi / menghapus foto / video yang terhubung ke konten terorisme.

Youtube mengklaim bahwa 98 persen dari ribuan video yang telah dihapus diidentifikasi menggunakan algoritma machine learning. Twitter telah menangguhkan setidaknya satu juta akun karena mempromosikan terorisme sejak 2015.

Tantangan yang dihadapi oleh perusahaan media sosial adalah ‘out-linking’, atau tautan ke web di luar platform induk. Ketika konten-konten mereka dibatasi, Robert menyebut, kelompok teroris biasanya memposting ulang konten ke platform lain seperti justpaste.it, sendvid.com dan archive.org.

Tantangan lain yang ditemui adalah termasuk platform terenkripsi seperti Telegram dan WhatsApp, dan lebih sulit lagi untuk memonitor ekosistem digital seperti Darknet.

Mengingat fokus yang tidak proporsional pada ISIS dan al-Qaidah, ada juga kekhawatiran bahwa banyak gerakan ekstremis brutal yang tidak diawasi, seperti kelompok ekstremis sayap kanan.

Berkembangnya internet dan menjamurnya berbagai platform media sosial memang telah mengubah banyak hal tentang ancaman terorisme.

Selama dasawarsa terakhir, kelompok-kelompok Jihadis telah beralih dari operasi ‘mirip mafia’ monolitik dan mem-waralaba kegiatan mereka. Seperti terbukti dalam serangan dari Mumbai (2008) ke Nairobi (2019), mereka sangat mahir dalam menyebarkan platform digital untuk mendorong perekrutan, radikalisasi, dan mengelola operasi secara real-time.

Bukan hanya jaringan Jihadis seperti ISIS, al-Qaidah, Boko Haram, atau al-Shabaab yang telah memperluas keterampilan digital mereka. Ada banyak tanda bahwa individu dan kelompok supremasi kulit putih (sayap kanan) telah memperluas jejaring transnasional mereka, dimungkinkan oleh alat digital dan polarisasi yang semakin dalam. Pemicu satu ini adalah hal yang kompleks dan memungkinkan lebih banyak individu mengalami radikalisasi.

Selain tantangan dari kelompok Jihadis dan kelompok supremasi kulit putih, ada ancaman jangka pendek dan potensial tambahan di cakrawala yang menimbulkan kekhawatiran negara-negara Barat.

Salah satunya yaitu kembalinya pejuang asing dan militan dari Timur Tengah, setelah kehilangan wilayah secara fisik, yang dialami oleh ISIS ini di Suriah dan Irak. Banyak pejuang asing yang dipenjara selama 10-20 tahun terakhir juga akan bebas setelah selesai menjalani masa tahanannya, dan memunculkan kekhawatiran baru.

Maka, tren penurunan terorisme secara global ini sebenarnya bukanlah hal yang amat menggembirakan bagi AS, PBB, dan negara-negara Barat, selama mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka sebut dengan terorisme. Ibarat dokter, mereka hanya mengobati gejala, tanpa benar-benar menyembuhkan penyakit. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response