Medan Jihad tiada henti di Palestina

Abu Heen

Syekh Yaser Abu Heen (foto: ist/palontaraq)

PANGKEP, Palontaraq.id – Perasaan haru, bangga, miris, geram, bercampur jadi satu.  Adalah Lembaga Kemanusiaan, Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menggandeng Syekh Yaser Abu Heen, Imam di 3 Mesjid di Gaza, Palestina (Mesjid al-Ishlah, Mesjid Ridwan, Mesjid Syahid Abu Heen) dalam safari dakwah sekaligus pengumpulan donasi dan bantuan untuk Palestina, menceritakan kondisi terakhir yang terjadi di Bumi Jihad Palestina.

Di Sulawesi Selatan sendiri, beberapa kabupaten/kota sudah dikunjunginya, Makassar, Gowa, Pangkep, dan kabupaten lainnya.  Beberapa waktu lalu, Selasa (26/2/2019) di Mesjid Quba Pangkep, dan akan kembali ke Pangkep, safari dakwah di Mesjid Mujahidin Palampang, Pangkajene dan Mesjid Raodhatul Muttaqien Tonasa 2, Biringere-Bungoro.

Lihat juga:  Warga Palestina gelar Aksi Penutupan Pintu Al-Aqsha

“Ada rasa haru dan bangga menyelimuti hati. Bangga karena Rakyat Palestina tetap teguh berjuang mempertahankan setiap jengkal tanahnya.  Semoga Allah menurunkan bantuan dan bala tentaranya untuk menjaga bumi Palestina dan mengukuhkan perjuangan saudara-saudara kami disana. Disini kami hanya bisa berdo’a dan membantu seadanya,” ujar Muhammad, salah seorang jamaah Mesjid Quba, Pangkajene.

Secara rinci, Syekh Yaser Abu Heen menguraikan kondisi terakhir Palestina dan perjuangan warga Gaza bertahan dari serangan dan kedzaliman tentara Israel. “Warga Palestina menyampaikan salam kepada semua warga muslim Indonesia. Terima kasih juga kami ucapkan atas segala bantuan, donasi, dan doanya untuk perjuangan Palestina.  Sesungguhnya perjuangan warga Palestina adalah perjuangan kaum muslimin seluruh dunia, dimanapun berada. Biarlah kami untuk saat ini yang mewakili kaum muslimin seluruh dunia melawan Yahudi Israel, menjaga Al-Aqsa, mempertahankan Baital Maqdis, dan kiblat pertama umat Islam,” ungkap Syekh Yaser.

Lihat juga:  Palestina Terkini: Kegentingan lingkupi Jalur Gaza

Sejarah mencatat, Baitul Maqdis menjadi saksi bisu pertemuan 3 agama samawi: Islam, Kristen dan Yahudi.  Baitul Maqdis  merupakan kota suci tiga agama yang senantiasa diperebutkan dari masa ke masa mengingat posisinya yang strategis. Namun, Baitul Maqdis tidak selalu dibumbui oleh konflik. Ketiga agama pernah hidup berdampingan dengan damai di kota warisan para Nabi, raja dan kekaisaran ini pada suatu masa.

Bagi kaum Muslim, Baitul Maqdis adalah tanah penuh berkah sekaligus tempat dimana kiblat pertama umat Islam berdiri: Masjidil Aqsha. Baitul Maqdis juga bukan wilayah geografis semata, lebih dari itu, di dalamnya ada nilai-nilai perjuangan, keyakinan, aqidah serta hak yang harus diambil dan dipertahankan.

Lihat juga:  Do’a untuk Palestina, Rohingnya, dan Uyghur

Pernyataan resmi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengakui Baitul Maqdis sebagai ibukota Israel yang baru memiliki makna khusus bagi kaum Muslim. Pengakuan itu memang tak berarti apa-apa bagi Baitul Maqdis yang praktis telah berada di bawah kontrol zionis israel sejak 50 tahun silam. Akan tetapi, pengakuan tersebut semakin membuka lebar jalan zionis israel untuk berbuat kezaliman dan kerusakan di Baitul Maqdis al Mubarak.

Karena itu, Palestina adalah medan jihad tiada henti bagi kaum muslimin dimanapun berada. Mempertahankan bumi Palestina, Baital Maqdis, Mesjid Al-Aqsa adalah harga mati bagi kaum muslimin dimanapun berada. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response