Laporan: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID, YAMAN – Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dalam konferensi donor di Jenewa City, Swiss, (26/2/2019) waktu setempat mengungkapkan realitas memilukan.
Perang berkepanjangan di Yaman telah membuat Anak-anak menjadi korban. Lebih dari 80 ribu anak-anak di bawah usia lima tahun telah meninggal akibat kelaparan di negara konflik tersebut.
Guterres menambahkan bahwa Konflik Yaman yang berkepanjangan telah meningkatkan jumlah warga yang kehilangan tempat tinggal menjadi 3,3 juta orang. Angka tersebut menandai lonjakan tajam dari setahun sebelumnya sebesar 2,2 juta orang. Serangan militer terhadap Yaman sejak Maret 2015 lalu bertujuan untuk memerangi kelompok Pemerintah Houthi.
PBB telah menyatakan bahwa situasi di Yaman yang dilanda perang, terus memburuk dengan lebih dari 14 juta orang saat ini sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. “Anak-anak tidak memulai perang di Yaman, namun mereka membayar mahal. Sekitar 360.00 anak-anak menderita akibat malnutrisi akut yang parah, berjuang untuk hidup mereka setiap hari.
Sebuah laporan kredibel menyebutkan bahwa jumlah anak-anak di bawah usia 5 tahun yang meninggal akibat kelaparan adalah lebih dari 80.000. Guterres mengingatkan tentang memburuknya situasi kemanusiaan dan kesehatan di Yaman. “Lebih dari separuh fasilitas kesehatan tidak berfungsi, dan hampir 20 juta orang kekurangan akses ke layanan kesehatan,” ujarnya.
“Pada 2017, epidemi kolera terburuk dalam sejarah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya saat persediaan air dan sanitasi serta layanan kesehatan masyarakat kolaps. Sekitar 18 juta warga Yaman masih tidak memiliki akses yang memadai ke air minum atau sanitasi yang aman,” kata Guterres seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (27/2/2019).
Sekjen PBB tersebut juga mengatakan, Krisis Yaman telah berdampak parah pada pendidikan anak-anak di negara tersebut. “Dua juta anak-anak di Yaman putus sekolah, dan 2.000 sekolah telah terdampak langsung.
Sekolah telah berubah menjadi tempat penampungan bagi rakyat yang kehilangan tempat tinggal atau diduduki pihak combatan. Separuh dari Guru-guru di Yaman belum digaji dalam dua tahun lebih,” ungkap Guterres. (*)


