Beranda Berita Banjir Barru telan Korban Jiwa dan Rumah Hilang

Banjir Barru telan Korban Jiwa dan Rumah Hilang

Luapan air banjir di jalan poros Kabupaten Barru. (foto: ist/palontaraq)
Luapan air banjir di jalan poros Kabupaten Barru. (foto: ist/palontaraq)

Laporan:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID, BARRU– Kabupaten Barru tergenang banjir. Ini yang paling parah sejak lima tahun terakhir. Enam dari tujuh kecamatan tergenang banjir akibat tingginya curah hujan selama tiga hari berturut-turut.

Selain merusak dan menggenangi rumah warga, banjir juga menelan korban jiwa. Satu orang dinyatakan tewas karena terbawa arus air banjir di Pacciro, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Jumat (28/12).

Kapolres Barru dan Bupati Barru turun langsung memantau evakuasi. “Baru saja kita evakuasi satu korban karena terseret air,” jelas Kapolres Barru, AKBP Burhaman. Sementara itu, dua orang lainnya yang merupakan ayah dan anak dinyatakan hilang di Balusu.  Bupati Barru, Suardi Saleh menuturkan, dari 6 kecamatan yang terkena banjir, paling parah terjadi di Balusu. “Paling parah di Kecamatan Balusu. Di titik ini, jalur trans Sulawesi sempat putus akibat antrian panjang kendaraan dari dua arah”, ungkapnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan menyebut, wilayah terdampak banjir di Kabupaten Barru terjadi di enam kecamatan. Desa Takkalasi, Kecamatan Balusu merupakan wilayah terparah yang diterjang banjir, Jumat (28/12/2018). “Terdampak terparah di Kelurahan Takkalasi (Pacciro). Dua orang dinyatakan hanyut dengan ketinggian air sekitar 150-170 cm,” kata Kepala BPBD Sulsel Syamsibar.

Sementara Desa Balusu lanjut Syamsibar, ketinggian airnya mencapai 120-150 cm, Desa Lampoko 130-150 cm, Desa Ajjakkang 75-120cm. Desa Siawung 50-70cm, kelurahan Coppo 150-170 cm, kelurahan mangempang 100-150 cm. Desa Lempang, Lompo Tengah dan Tellumpanua sekitar 150-200 cm. “Ada satu rumah panggung terseret arus banjir dan hilang dari pandangan”, ungkap seorang warga Takkalasi. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT