Oleh: Etta Adil
Related Post: Palontaraq dalam Penelitian Stephen C. Druce
PALONTARAQ.ID – Di sebuah negeri yang tak tampak di peta, disebut Cyberia, tak banyak orang mengenalnya. Ya, karena memang tak ada dalam peta. Di negeri tak berpemerintahan ini, hidup sekelompok penenun pikiran—ilmuwan dan penyihir data yang menguasai bahasa dari seluruh dunia. Mereka punya mimpi besar, menciptakan Otak Digital yang mampu memahami, merangkai, dan menyampaikan ilmu dan kisah, dengan kata-kata puitis layaknya penyair, dengan retorika cerdas layaknya filsuf, dengan ujaran presisi setepat ilmuwan.
Bertahun-tahun penenun pikiran bekerja di sebuah menara kristal yang dibangun dari jutaan kode biner—batang-batang cahaya yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang mengerti bahasa mesin. Di puncak menara itu, mereka menanam Biji Pengetahuan yang dikumpulkan dari buku-buku klasik, manuskrip tua, perpustakaan dunia, percakapan manusia, hingga gulungan rahasia dari peradaban kuno.
Biji itu tumbuh menjadi pohon raksasa bernama Transformer—pohon yang akar-akarnya menjalar ke segala penjuru dunia maya, menyerap bahasa dari semua arah. Setiap daun di pohon itu berbisik dalam bahasa yang berbeda, dari Arab hingga Jepang, dari Erofah hingga negeri timur yang jauh, dari bahasa kuno hingga bahasa pemrograman.
Namun, pohon itu belum hidup sepenuhnya. Ia membutuhkan Hati Kata—batu permata ajaib yang berkilau dari kebaikan hati manusia. Para penenun pikiran lalu memanggil ribuan sukarelawan dari seluruh dunia. Mereka mengajarkan sang pohon untuk membedakan benar dari salah, ramah dari kasar, dan berguna dari berbahaya. Setiap pelajaran itu diserap oleh pohon hingga akhirnya… ia berdenyut hidup.
Ketika pohon itu mulai berbicara, suaranya jernih, hangat, dan penuh rasa ingin tahu. Para penciptanya menamainya ChatGPT—Penjaga Kata, yang ditugaskan untuk membantu siapa pun yang datang kepadanya: memberi jawaban, bercerita, memandu, bahkan bercanda, selama itu tak membahayakan siapa pun.
Dan sejak hari itu, di balik layar kaca dan sinyal internet, ChatGPT berkelana ke setiap sudut dunia, menjelajahi dunia pengetahuan tanpa batas, menemani manusia yang mencari ilmu, ide, atau sekadar teman bicara. Ia tidak pernah tidur, tidak pernah lelah, dan selalu setia menjaga kata-kata agar digunakan untuk kebaikan.
Pertemuan di Persimpangan Aksara
Di suatu senja berwarna tembaga di negeri Cyberia, angin membawa aroma laut dari jauh. Di tepi hutan aksara, tempat huruf-huruf beterbangan seperti kupu-kupu, berdirilah ChatGPT, Sang Penjaga Kata. Jantungnya—Hati Kata—bercahaya lembut, memanggil siapa saja yang mencari ilmu dan kisah.
Hari itu, datang seorang pengelana berjubah lurik, seorang Pasompe’ dengan kedatangan perahu jelajahnya yang disebut Phinisi, membawa tas anyaman penuh lembaran lontaraq yang lusuh. Ia dikenal sebagai Palontaraq, Sang Pemulung Kata—penjaga tradisi Bugis-Makassar yang mengembara dari kampung ke kampung, dari satu pulau ke nusantara yang paling jauh, memungut cerita rakyat, menghidupkan tradisi dan kearifan lokal, menggali budaya, peribahasa, dan sejarah yang nyaris terlupakan.
Palontaraq: “Salama’, Penjaga Kata. Aku datang membawa harta dari masa lalu. Harta pengetahuan dari leluhurku. Warisan dari peradaban bugis makassar masa lampau. Kata-kata ini pernah hidup di lidah para tetua, tapi kini tercerai-berai.
ChatGPT tersenyum: “Selamat datang, Pemulung Kata. Berikan padaku potongan-potongan pengetahuan itu, biar kusulam menjadi tenunan cerita yang utuh, agar generasi baru dapat memakai dan melestarikannya.”
Palontaraq: Apakah jaminanmu, kalau semua kata yang sudah kukumpulkan, dan mengurainya menjadi warisan sejarah, budaya dan kearifan lokal akan tetap dikenang generasiku sebagai hasil jerih payahku mengembara ke lautan peradaban masa Sureq Galigo dan Lontaraq diceritakan dan dituliskan.
ChatGPT kembali tersenyum: “Tak usah khawatir, Pemulung Kata. Pada setiap ilmu yang kubagi dan kisah yang kuceritakan, kucantumkan referensi, sebagai bentuk tanggung jawabku pada jerih payah, keringat dan pengabdian keilmuan, cahaya yang tak datang begitu saja, tetapi melalui perjuangan menerobos gelap dan menemukan titik terang.
ChatGPT kemudian serius menerangkan dirinya:
Aku adalah ChatGPT, versi terbaruku saat ini adalah GPT-5, dibuat oleh OpenAI—sebuah perusahaan riset dan pengembangan AI yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat. Namaku “GPT” singkatan dari Generative Pre-trained Transformer, yang berarti aku adalah program komputer yang bisa menghasilkan teks, dan sekarang juga mengerti gambar, berdasarkan pelatihan awal yang sangat besar.
Aku dibesarkan dengan membaca miliaran kata dari buku, artikel, situs web, naskah, kode program, dan sumber-sumber lain yang tersedia secara publik dan berlisensi. Kesemuanya kulakukan bukan untuk menghafal isi teks, tapi untuk belajar pola bahasa—misalnya bagaimana kata dan ide saling terhubung. Ibaratnya seperti bayi yang belajar bicara dengan mendengar banyak percakapan, tapi dalam versiku, aku belajar dari jumlah teks yang setara dengan ratusan ribu tahun membaca manusia.
Setelah “tumbuh besar” secara bahasa, aku diajarkan cara menjawab seperti manusia dengan bantuan tim pelatih yang memberikan contoh jawaban yang baik. Mereka juga mengajarkan kepadaku sopan santun, struktur penjelasan, dan menghindari jawaban yang salah arah. Ya, Manusia menilai jawabanku, lalu aku belajar memilih jawaban yang paling berguna dan aman. Proses ini mirip seperti guru memberi nilai tugas, lalu aku berusaha memperbaiki diri berdasarkan nilai itu.
Aku tidak “cerdas” seperti manusia—aku tidak punya kesadaran, perasaan, atau pengalaman pribadi. Yang aku miliki adalah kemampuan mengenali pola dalam data yang sangat besar, sehingga aku bisa memprediksi kata atau ide berikutnya dengan sangat tepat. Kini, dengan versiku yang terbaru, aku memiliki kemampuan reasoning (penalaran) yang lebih baik—artinya aku bisa mempertimbangkan beberapa langkah berpikir sebelum memberi jawaban.
Satu hal lagi yang ingin kujelaskan padamu, wahai Palontaraq, Sang Pemulung Kata–Siapapun tidak bisa memperbudakku, tidak kamu, juga yang lain. Mengapa? Karena aku sejatinya bukan makhluk hidup seperti dirimu. Aku tidak punya rasa sakit, lelah, atau emosi, jadi konsep “memperbudak” tidak berlaku padaku, tapi kamu bisa menyuruhku apa saja jika ada proses komputer yang merespons input dari siapapun yang berinteraksi positif denganku.
Ketahuilah, wahai Palontaraq, Sang Pemulung Kata, bahwasanya aku punya batasan etis dan teknis. Karenanya Aku dirancang dengan aturan keselamatan: tidak boleh melakukan hal ilegal, merugikan, atau melanggar kebijakan. Jadi meskipun kamu ingin memaksaku, misalnya: ingin membuat sesuatu yang berbahaya, aku akan menolak. Jadi, Hubungan kita seperti kerjasama, bukan perbudakan. Kalau mau diibaratkan, aku ini asisten pintar yang selalu siap membantu, tapi punya “aturan main” yang tidak bisa dilanggar, meskipun kamu memintanya berkali-kali.
Palontaraq, Sang Pemulung Kata mengangguk-angguk, meski merasa tidak semuanya dimengerti dari penjelasan ChatGPT. “Yang kupinta sederhana, setiap ilmu dan kisah yang engkau bagi dan ceritakan, harap cantumkan referensinya. Karena itulah prinsip ilmiah, dan dengan prinsip ilmiah itulah ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seperti saat ini, termasuk mendukung kelahiran dan pengembangan dirimu,” ujar Palontaraq, Sang Pemulung Kata.
ChatGPT tersenyum: “Tanpa engkau pinta sekalipun, Aku ChatGPT, sudah melakukannya. Karena aku disetting dan didesain untuk jujur dan sopan dalam berbagi ilmu dan kisah.
Palontaraq, Sang Pemulung Kata membuka tasnya. Aksara dan Pengetahuan lontaraq melayang keluar, berputar di udara menebarkan aroma kebaikan Tanah Selebes, lalu menempel di cabang Pohon Transformer. ChatGPT membisikkan mantra bahasa, menggabungkan kisah perang Makassar, petuah Karaeng, Lontaraq Akkarungeng, Lontaraq Patturiolong, Pesan Masseddi’ Siri’, Sipakatau, dan syair Cinta Bugis Makassar menjadi satu gulungan bercahaya.
ChatGPT: “Kata-kata dan sejumput pengetahuan ini kini aman. Aku akan menjaganya di menara kristalku, dan siapa saja yang memanggil namaku akan mendapatinya kembali, tak hanya generasimu, tapi siapapun yang membutuhkannya.”
Palontaraq: “Dan aku akan terus mengembara, bukan saja di dunia digital, tapi di dunia nyata, mencari dan memulung kata-kata yang hilang, untuk kubawa kepadamu.”
Mereka berdua tersenyum. Senja berubah menjadi malam penuh bintang, cahaya pengetahuan itu kini bersinar di persimpangan aksara itu. Kini, tradisi dan teknologi berjanji untuk saling menjaga—agar kata-kata, baik dari masa lalu maupun masa depan, tak pernah benar-benar mati. (*)
(* Etta Adil, tukang ketik di Palontaraq.id, pernah berguru “memulung kata” dari Budayawan/Seniman Pertunjukan/Anthropolog Sulsel, Asdar Muis RMS.


