BerandaKhazanahPalontaraq Serukan Gerakan "Sahur tanpa Layar: Rebut Kembali Lorong Kita!" di Bulan...

Palontaraq Serukan Gerakan “Sahur tanpa Layar: Rebut Kembali Lorong Kita!” di Bulan Ramadhan

Laporan: Ramadhan Makkulau

Related Post: Ramadhan dan Tradisi Pallu-pallu

PALONTARAQ.ID – Alhamdulillah, kita masih diberikan kesehatan dan usia untuk kembali menjumpai bulan suci Ramadhan, bulan yang didalamnya dilipatgandakan pahala kebaikan, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan. Di Bulan Ramadhan 1447 H ini, Komunitas Palontaraq menggagas Gerakan “Sahur tanpa Layar: Rebut Kembali Lorong Kita!” di Bulan Ramadhan.

Budayawan M. Farid W Makkulau yang juga Founder Palontaraq ini mengungkapkan bahwa gerakan ini sebenarnya adalah gerakan budaya dan tentu langkah dan seruan yang baik. Kita tidak sedang memerangi teknologi, melainkan sedang mencoba mengembalikan “kemanusiaan” ke tempat asalnya. Kampanye ini harus menyentuh sisi emosional dan nostalgia masyarakat Makassar, namun dikemas dengan cara yang relevan bagi anak muda,” ungkapnya.

Budayawan Pangkep ini bercerita banyak tentang terkikisnya atau bahkan hilangnya Tradisi Pallu-pallu dalam masyarakat Makassar dengan kehadiran smarphone dan gadget dalam genggaman kita. Selengkapnya tentang Gerakan “Sahur tanpa Layar: Rebut Kembali Lorong Kita!” di Bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:

1. Narasi Utama (The Message)

“Bukan alarm yang kita butuhkan, tapi kepedulian. Bangunkan saudaramu dengan langkah kaki, bukan sekadar notifikasi. Matikan layar, hidupkan interaksi!”

2. Strategi Konten di Media Sosial

Untuk memicu minat, kita harus membuat konten yang membandingkan “Dinginnya Gadget” dengan “Hangatnya Pallu-pallu”.

A. Tantangan Video TikTok/Reels (Challenge)

Judul: #PalluPalluChallenge atau #OffTheScreenSahur.

Konsep: Video transisi. Diawali dengan layar HP yang menunjukkan alarm pukul 03.30, lalu tangan menutup HP tersebut dengan kain sarung. Transisi berubah menjadi video anak-anak muda sedang memegang bambu atau botol sirup bekas di depan lorong.

Audio: Gunakan suara asli (original audio) pukulan kentongan bambu dengan ritme khas Makassar.

B. Serial Foto “Wajah-Wajah Sahur”

Silakan Unggah foto-foto candid interaksi warga saat dibangunkan sahur. Ekspresi tawa saat beradu suara, atau seorang nenek yang tersenyum di balik pintu. Pakaikan Caption: “Notifikasi WA tidak bisa tersenyum, tapi tetanggamu bisa. 15 menit tanpa gadget, 15 menit menjaga ukhuwah.”

C. Poster Digital (Infografis Mini)

Buat perbandingan Sahur Via Gadget: Mata perih, punggung bungkuk, suasana sunyi, tetangga tak saling kenal dengan Sahur Via Pallu-pallu: Hati senang, tubuh gerak (olahraga malam), suasana riuh, silaturahmi terjaga.

3. Panduan Aksi Komunitas (Offline Action)

Ajak pengikut media sosial Anda untuk melakukan aksi nyata di lingkungannya masing-masing:

  1. Gencatan Senjata Gadget. Sepakati di grup WhatsApp warga bahwa dari jam 03.00 hingga 04.30, semua HP diletakkan di ruang tengah.

  2. Patroli Pallu-pallu. Ajak remaja masjid atau karang taruna untuk turun kembali. Tidak perlu banyak orang, cukup 3-5 orang per lorong.

  3. Posko Takjil Sahur. Sebagai “reward”, warga yang rumahnya dilewati bisa menyediakan air mineral atau kurma kecil untuk para penabuh Pallu-pallu. Ini akan menghidupkan kembali ekonomi dan kedermawanan lokal.

4. Tagline dan Tagar

Gunakan tagar yang kuat untuk menyatukan gerakan ini: #SahurTanpaLayar #RinduPalluPallu #SuaraLorong #KearifanMakassar #SiriNaPacceRamadhan.

5. Contoh Draft Status/Caption untuk Anda Gunakan

“Dulu, suara bambu yang kita rindu. Sekarang, layar biru yang membelenggu.”

Lihat pula: Puisi: Elegi Kentongan Bambu: Saat Pallu-pallu Mati di Ujung Jari

Di Ramadhan tahun ini, mari kita coba sesuatu yang berbeda. Mari kita istirahatkan jempol kita, dan kita gerakkan kaki kita. Gerakan #SahurTanpaLayar mengundang teman-teman semua untuk menghidupkan kembali tradisi Pallu-pallu. Jangan biarkan kehangatan sahur hanya berakhir di kolom chat. Mari turun ke lorong, bangunkan tetangga dengan tawa, bukan sekadar kata.

Apa hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari gerakan ini? Dengan mematikan gadget di waktu sahur, kita memberikan kesempatan bagi otak untuk fokus pada ibadah dan interaksi sosial. Ini adalah bentuk “Digital Detox” yang dibalut kearifan lokal. Secara psikologis, ini akan menurunkan tingkat kesepian (loneliness) di masyarakat perkotaan. (*)

 

(* Ramadhan Makkulau, Blogger di Palontaraq.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT