BerandaBeritaDaerahRiwayat Raja Bone (8): La Inca

Riwayat Raja Bone (8): La Inca

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya: Riwayat Raja Bone (7): La Tenrirawe’ BongkangE

PALONTARAQ.ID – DUA tahun setelah Perjanjian TellumpoccoE, Arumpone La Tenrirawe’ BongkangE memanggil saudaranya yang bernama La Inca. Kepada La Inca, La Tenri Rawe berpesan agar mewarisi takhta Kerajaan Bone karena dirinya tidak memiliki ana’ pattola (putra mahkota).

Arumpone La Tenrirawe’ juga berpesan agar kalau sampai ajalnya, La Inca dapat mengawini iparnya (istri La Tenrirawe) yaitu We Tenri Pakiu Arung Timurung. Adapun anak La Inca dari istrinya We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE adalah La Tenri Pale To Akkeppeang yang kawin dengan kemenakannya We Palettei KanuwangE anak dari We Tenri Patuppu dari suaminya To Addussila. (Makkulau, 2009).

Setelah menjadi Mangkau’, KaraengE ri Gowa yang tetap berambisi menaklukkan Bone kembali menyerang. Gowa memanfaatkan kelemahan La Icca yang tidak secakap saudaranya dalam memerintah.

Setalah 10 tahun I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa berkuasa, entah apa gerangan Raja Gowa ini tidak menaati Ulu Ada’ (perjanjian) yang dibuat pendahulunya bersama Arumpone, La Tenrirawe Bongkange.

Perang akhirnya tidak terhindarkan, serangan militer ke Bone kembali dilakukan. Kerajaan Wajo pada waktu itu menjadi daerah kekuasaan Gowa, sedangkan Kerajaan Soppeng pun berada dibawah pengaruhnya”.

Serangan Gowa ke Bone tersebut dikemukakan pula dalam Sejarah Bone, ”Sewaktu La Icca menjadi Raja Bone, Karaeng Gowa, I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa menyerang Bone. Tetapi serangan Gowa kali ini, sebelum memasuki ibukota Kerajaan Bone, tiba – tiba ditarik kembali dengan tidak diketahui apa gerangan sebabnya”.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Gowa telah melakukan serangan militer terhadap negara anggota Tellumpoccoe (Bone, Soppeng dan Wajo). Gowa sengaja memecah belah kekuataan tellumpoccoe bahkan menggunakan kekuatan militer Wajo dan soppeng untuk balik menyerang Kerajaan Bone. (Kasim, 2002 dalam Makkulau, 2009).

Serangan militer kelima Gowa terhadap Bone (1576) juga tetap gagal, walaupun Watampone, ibukota Kerajaan nyaris diduduki. Perang ini tidak ditutup suatu perjanjian ataupun gencatan senjata. Suasana perang antara kedua kerajaan tetap mengambang, tetap saja berpotensi mengganggu ketenteraman hidup rakyat Bone.

Sementara Arumpone La Inca banyak menyalahkan dan menghukum Arung Lili. Salah seorang diantaranya, La Patiwongi To Pawawoi diasingkan ke Sidenreng. Sekembalinya ia pun diusir dan dibunuh. Arung Paccing dan cucunya La Saliwu, Maddanreng Palakka To Saliwu Riwawo serta banyak lagi bangsawan Bone dibunuhnya.

Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone, dijelaskan peristiwa Arumpone La Inca melakukan tindakan memalukan, yaitu mengganggu istri orang. Karena didapati oleh suaminya, ia lantas mengancam orang tersebut akan dibunuhnya, sehingga orang tersebut melarikan diri.

Untuk menutupi kesalahannya, istri orang tersebut yang dibunuh. Ia pun membakar sebahagian Bone sampai di Matajang dan Macege. Orang Bone pun mengungsi sampai ke Majang. Melihat orang Bone datang, Arung Majang bertanya, ”Ada apa gerangan di Bone?” Dengan ketakutan orang Bone berkata ; ”Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, Puang. Silahkan Puang melihat sendiri bagaimana Bone sekarang”. Arung Majang keluar dan disaksikannya api melahap rumah penduduk.

Arung Majang pun menyuruh orang agar ke Palakka memanggil I Damalaka. Sesampainya di rumah Arung Majang ia pun disuruh ke Bone menghadapi La Inca. I Damalaka menyuruh salah seorang untuk pergi menemui Arumpone dan menyampaikan agar tindakannya dihentikan. Akan tetapi setelah suruhan itu tiba langsung dibunuhnya, bahkan La Inca lalu membakar semua rumah di Lalebbata. Maka habislah rumah di Bone. Mendengar itu, Arung Majang pergi ke Bone disusul oleh I Damalaka untuk menghadapi La Inca, cucunya sendiri. “Mari kita menghadapi La Inca, dia bukan lagi Arumpone karena melakukan pengrusakan”.

Di Bone, didapatinya La Inca sendirian di depan rumahnya. Setelah melihat orang banyak datang, La Inca lalu menyerbu dan menyerang membabi buta. Banyak orang yang dibunuhnya pada saat itu dan kurang yang mampu bertahan, akhirnya La Inca kehabisan tenaga. Karena merasa sangat payah, ia pun melangkah menuju tangga rumahnya. Ia bersandar dengan nafas yang terputus-putus. Melihat cucunya sekarat, Arung Majang berlari mendekati dan memangku kepalanya. La Inca pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Oleh karena itu disebutlah MatinroE ri Addenenna (artinya : yang meninggal di tangga rumahnya). (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT