BerandaBisnisBerkenalan dengan Mama Naura: Menanak Mimpi lewat Sop Saudara di Kota Parepare

Berkenalan dengan Mama Naura: Menanak Mimpi lewat Sop Saudara di Kota Parepare

Oleh: Etta Adil

Related Post: Inilah Sejarah Sop Saudara itu

PALONTARAQ.ID – “Setiap mangkuk yang tersaji bukan sekadar makanan, melainkan doa seorang ibu yang sedang memperjuangkan masa depan anak-anaknya.”

Di setiap kota, selalu ada kisah-kisah kecil yang luput dari perhatian. Kisah yang tidak pernah menjadi berita utama, tidak pula menghiasi layar televisi. Namun justru dari cerita-cerita sederhana itulah kita belajar bahwa kehidupan dibangun oleh Orang-orang biasa yang menjalani hari-harinya dengan cara yang luar biasa.

Di Kota Parepare, tepatnya di sepanjang Jalan Andi Bau Massepe, berdiri sebuah warung Sop Saudara yang setiap hari dipenuhi aroma rempah yang menguar dari dapur. Sepintas, warung itu tampak seperti warung makan pada umumnya. Meja-meja sederhana, dengan sajian khas sop daging, konro dan kikil yang terus memancing selera pengguna jalan yang lalu lalang, memancing pelanggan datang silih berganti.

Namun, siapa sangka, di balik setiap mangkuk sop yang tersaji, tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan perantau asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), sebut saja namanya Mama Naura yang telah mengabdikan hampir satu dekade hidupnya untuk sebuah cita-cita sederhana: membesarkan ketiga anaknya dengan hasil yang halal.

Sejak tahun 2016, ia memulai lembaran baru kehidupannya di Parepare dengan membuka warung sop saudara, yang menghubungkannya dengan mata rantai bisnis kuliner Aji Dollahi, yang membuka pertama kali warung sop saudaranya di bilangan Jalan Andalas Makassar, sekaligus dikenal sebagai pencipta Sop Saudara.

Demikianlah Mama Naura, dengan tekad yang kuat untuk bekerja, tekad untuk bertahan, dan tekad untuk memastikan bahwa anak-anaknya tidak kehilangan harapan hanya karena kehidupan tidak selalu berpihak kepada orang tuanya. Sejak mendapatkan restu, ilmu “bumbu” sop saudara dan pengalamannya melayani di warung sop saudara kerabatnya, kini ia bertekad menjadi penyaji Sop Saudara Pangkep di Kota Parepare.

Menjadi perantau bukanlah perkara mudah. Seseorang harus meninggalkan kampung halaman, keluarga, lingkungan yang telah lama dikenalnya, lalu memulai semuanya dari nol di tempat yang baru. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengambil langkah itu, terlebih bagi seorang perempuan yang harus memikul tanggung jawab sebagai ibu.

Tetapi hidup sering kali tidak memberi banyak pilihan. Ketika keadaan menuntut seseorang untuk terus berjalan, maka langkah yang paling berat sekalipun harus tetap diayunkan. Begitulah perjalanan Mama Naura, yang mendapatkan dukungan penuh dari sang suami, yang juga seasal daerah dari Pangkep.

Pangkep adalah tanah kelahirannya. Di sanalah ia tumbuh, belajar tentang kehidupan, mengenal nilai kejujuran, kerja keras, dan pentingnya menghargai sesama. Nilai-nilai itu pula yang kemudian ia bawa ke Parepare ketika memutuskan membuka usaha Sop Saudara.

Ketika penulis menyambangi warungnya, Ia bercerita bahwa dirinya tidak datang membawa modal besar. Yang ia bawa justru adalah pengalaman, kemauan untuk belajar, dan keyakinan bahwa rezeki akan datang kepada siapa pun yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh.

Foto bersama Mama Naura. (foto: ist/*)
Foto bersama Mama Naura. (foto: ist/*)

Diceritakannya, ketika membuka pertama kali warungnya, Hari-hari pertama tentu tidak mudah. Warung yang baru dibuka belum banyak dikenal orang. Pelanggan masih sedikit. Ada hari ketika dagangan hampir tidak habis. Ada pula saat ia harus menunggu berjam-jam sebelum pelanggan pertama datang.

Tetapi ia tidak pernah kehilangan semangat, Mama Naura percaya bahwa usaha yang dibangun dengan kesabaran akan menemukan jalannya sendiri. Pelan-pelan, masyarakat mulai mengenal warung Sop Saudara Pangkep di Parepare itu, apalagi berada di jalan poros yang padat, Jalan Andi Bau Massepe.

Penikmat Sop saudara datang bukan hanya karena ingin menikmati semangkuk Sop Saudara, tetapi juga karena merasakan suasana yang berbeda. Pemilik warung itu selalu menyambut pelanggan dengan senyum. Tidak pernah terlihat wajah masam meskipun lelah. Tidak pernah terdengar kata-kata yang membuat pelanggan merasa tidak dihargai.

Mama Naura memahami satu hal yang sering dilupakan sebagian orang dalam dunia usaha: pelanggan bukan sekadar pembeli. Mereka adalah tamu yang patut dihormati. Keramahan itu bukan strategi pemasaran. ]Bukan pula hasil pelatihan pelayanan pelanggan. Itu lahir dari hati.

Sebab sejak kecil, Mama Naura diajarkan bahwa menghormati orang lain merupakan bagian dari akhlak yang harus dijaga. Mungkin karena itulah pelanggan merasa nyaman. Mereka datang kembali. Lalu mengajak teman. Kemudian membawa keluarga.

Sedikit demi sedikit, warung itu menjadi bagian dari keseharian masyarakat Parepare. Namun, mempertahankan pelanggan jauh lebih sulit daripada mendapatkannya. Hal itu sangat dipahaminya. Karena itu Mama Naura memilih satu prinsip yang tidak pernah berubah sejak awal berdagang: jangan pernah mengurangi kualitas.

Penulis saat berada di Warung Sop Saudara Cabang Andalas di Parepare yang dikelola oleh Mama Naura. (foto: ist/*)
Penulis saat berada di Warung Sop Saudara Cabang Andalas di Parepare yang dikelola oleh Mama Naura. (foto: ist/*)

Dalam dunia kuliner, godaan terbesar sering datang ketika harga bahan baku naik. Tidak sedikit pelaku usaha yang memilih jalan pintas. Mengurangi kualitas daging. Mengurangi takaran bumbu. Mengganti rempah dengan bahan yang lebih murah. Mengurangi porsi.

Banyak pedagang kulier melakukan hal apa saja demi mempertahankan keuntungan. Tetapi ia memilih jalan yang berbeda. Bagi Mama Naura, pelanggan datang karena percaya. Kepercayaan itu tidak boleh dipertaruhkan demi keuntungan sesaat. Karena itu kualitas daging tetap dijaga.

Mama Naura memilih daging yang layak disajikan. Rempah-rempah tetap diracik sebagaimana mestinya. Kaldu tetap dimasak dengan kesabaran. Setiap mangkuk sop harus memiliki cita rasa yang sama seperti hari pertama warung itu dibuka.

Kejujuran menjadi modal yang nilainya jauh lebih mahal daripada keuntungan harian. Ia percaya bahwa rezeki tidak akan tertukar.

Apa yang menjadi hak seseorang akan sampai kepadanya apabila diperjuangkan dengan cara yang benar. Prinsip itu mungkin terdengar sederhana. Namun menjalankannya setiap hari selama bertahun-tahun membutuhkan komitmen yang tidak kecil.

Ada saat-saat ketika keuntungan menurun. Mama Naura lugas bercerita pengalamannya membuka warung sop saudara di masa Covid-19. Menurutnya, warung sop saudara itu bukan hanya tempat menjual makanan. Warung itu adalah ruang tempat harapan dimasak setiap pagi. Setiap subuh, ketika sebagian besar orang masih terlelap, aktivitas di dapur telah dimulai. Daging dipersiapkan. Rempah-rempah dihaluskan. Kuah mulai direbus.

Segala sesuatu dikerjakan dengan teliti. Tidak ada yang instan. Sebab cita rasa yang baik selalu lahir dari kesabaran. Begitu pula kehidupan. Ia tidak pernah mengeluh kepada pelanggan mengenai beratnya perjuangan yang dijalani. Hal kehidupan yang sulit sekalipun ia ceritakannya dengan senang, sekalipun matanya berkaca-kaca berharap kelak anaknya, Naura menjadi hafidzah Qur’an, buah hatinya yang disekolahkannya di Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep.

Tidak semua orang mengetahui bahwa setiap keuntungan yang diperoleh bukan semata untuk memenuhi kebutuhan hari itu. Sebagian besar justru disimpan demi masa depan ketiga anaknya. Biaya sekolah. Keperluan belajar. Kesehatan. Kebutuhan rumah tangga. Semuanya berasal dari warung kecil itu.

Mangkuk demi mangkuk. Piring demi piring. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Begitulah seorang ibu membangun masa depan keluarganya. Tidak dengan pidato yang panjang. Tidak dengan janji-janji besar. Melainkan melalui kerja yang nyaris tidak pernah berhenti.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ungkapan itu terasa nyata dalam kisah perempuan ini. Anak-anaknya tumbuh menyaksikan bagaimana ibunya bekerja tanpa mengenal malu. Mereka melihat bahwa mencari nafkah adalah pekerjaan yang mulia. Mereka belajar bahwa keberhasilan tidak datang dalam semalam.

Mereka memahami bahwa kejujuran adalah warisan yang lebih berharga daripada harta. Pelajaran semacam itu tidak diajarkan melalui buku. Ia diajarkan melalui keteladanan. Melalui tangan yang setiap hari sibuk meracik bumbu. Melalui langkah yang tak pernah lelah menuju pasar. Melalui senyum yang selalu diberikan kepada pelanggan meski tubuh telah kehabisan tenaga.

Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, mempertahankan eksistensi selama bertahun-tahun bukanlah perkara sederhana. “Setiap tahun selalu muncul warung baru. Menu baru. Konsep baru. Promosi baru. Namun ada satu hal yang tidak pernah usang: kepercayaan”, demikian ujarnya yang tetap yakin bisa bersaing dengan “Mie Gacoan” yang telah berdiri dengan modal kapital berjejaring disamping warung sederhananya. (*)

 

(* Etta Adil, Gastronom/Foodies Tourist

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT