Pakurru Sumange’, Melacak Sejarah Seni Pertunjukan Sulsel

Buku Pakkurru Sumange

Buku karya R. Anderson Sutton – “Pakkurru Sumange’-Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan. (foto: ist/palontaraq)

 

Judul Buku           : Pakkurru Sumange’ – Musik, Tari, dan Politik Kebudayaan Sulawesi Selatan

Penulis                  : R Anderson Sutton

Judul Asli             : Calling Back the Spirit – Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi

(Oxford University Press, Inc., 2002)

Penerjemah          : Anwar Jimpe Rachman

Penerbit                : Ininnawa, Makassar.

ISBN                      : 978-602-19636-6-1

 

Buku ini secara khusus bercerita banyak tentang Profil Seni Tradisional di Sulawesi Selatan.  Buku Pakkurru  Sumange’ ini patut diapresiasi, bukan saja karena ditulis oleh pemerhati budaya dan akademisi di luar Sulsel, bahkan dari Amerika, juga karena secara khusus cukup banyak melacak Sejarah Seni Pertunjukan Sulawesi Selatan mulai 1940-an hingga tahun-tahun menjelang pergantian millennium.  Penulis buku ini, Dr. R. Anderson Sutton adalah Professor Etnomusikologi di Universitas Wisconsin-Madison sejak meraih gelar Ph.D (S3) dalam Bidang Etnomusikologi dari Universitas Michigan sejak Tahun 1982.

Seni Musik Tradisi "Makkacaping". (foto: mfaridwm/palontaraq)

Seni Musik Tradisi “Makkacaping”. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku Pakkurru Sumange ini sekaligus menceritakan pada kita bagaimana tradisi musik dan tari itu berkembang dari praktek  ritual masa lampau sampai menjadi acuan dalam seni avant garde.  Buku ini berjudul asli “Calling Back the Spirit – Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi”, diterbitkan pada Tahun 2002 oleh Oxford University Press, Inc., 2002. Suatu kebanggaan sebenarnya Dunia keilmuan Barat mau mengenal dan mendalami Seni Tradisional Sulawesi Selatan dan perkembangannya, di sisi lain patut menjadi keperihatinan bersama, di dalam negeri sendiri, khususnya di Sulawesi Selatan, Seni Tradisional terseok-seok mempertahankan eksistensinya, banyak diantaranya hanya tampil sebagai seni pertunjukan dan kehilangan aspek ritualnya.

Sang penulis, Anderson Sutton, menuntun pembaca menuju sebuah kaleidoskop sejumlah acara Seni Tradisional di Sulawesi Selatan, menelusuri kedalaman bunyi-bunyian, struktur-struktur, dan kekuatan simbolik dari sinrilik (lagu dan syair epos berbahasa Makassar), lagu-lagu rilis yang diiringi kacaping, dan gendang, sekaligus melacak perkembangan music pop kawasan Sulsel. Buku ini terdiri atas 337 halaman yang terbagi atas 10 Bab, dari Pendahuluan,  Sulawesi Selatan dalam Parade,  Dari Ritual ke Panggung,  Dari Hiburan ke Seni dan Kembali ke Ritual, serta  Patriotisme dan Pertunjukan.

Seni tradisi "Magganrang". (foto: mfaridwm/palontaraq)

Seni tradisi “Magganrang”. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku yang telah dipertanggung jawabkan secara akademik oleh penulisnya, Anderson Sutton ini juga mengulas tentang Sinrilik dan Kacaping (Bab VI ), dilanjutkan Bab VII tentang Bunyi dan Kuasa, Bab VIII Melembagakan Pertunjukan, Bab IX Suara dari Pinggiran, dan Bab X Penutup. Sebagai sebuah karya akademik, dunia Seni Tradisional dan panggung budaya Sulawesi Selatan patut bersyukur atas penerbitan buku ini, ditengah kurangnya literatur dan naskah akademik tentang ini, yang lahir dari cendekiawan, akademisi dan seniman Sulawesi Selatan.

Buku ini juga mendapatkan apresiasi dari Ilmuwan Etnomusikologi Barat lainnya, seperti Benjamin Brinner  (Professor Etnomusikologi, University of California, Barkeley), Andrew N Weintraub (Profesor Musik, University of Pittsburgh, penulis Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia), dan Sean Williams,  Profesor Musik, Evergreen State College (Penulis buku “The Sound of the Ancestral Ship: Highland Music of West Java”)

Seni Tradisi "Tari Paduppa". (foto: mfaridwm/palontaraq)

Seni Tradisi “Tari Paduppa”. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Sebagai pemerhati budaya, tentu kita akan selalu mengaku bahwa kitalah yang lebih mengetahui tentang sosial budaya masyarakat kita, termasuk panggung seni pertunjukan yang ada didalamnya, namun dari Tinjauan Etnomusikologi, terkait musik tradisi yang dijadikan referensi: Sinrilik Kappala Tallumbatua, Sinrilik 50 Tahun Indonesia Merdeka, Sinrilik I Datu Museng, Kacaping Tokko Remba-rembayya, Kacaping Tokko Sinrilik, Kacaping Tokko Deng Riak, Ganrang Tunrung Pakballe (Sumangak), 12 Ganrang Tunrung Pakarena, Pengiring Tari Pakkurru Sumange’, Pengiring Tari Anging Mammiri, “Ati Radja”, Orkes Turiolo Rambang-rambang: Dendang-dendang dan Dendang Manjina, Losquin Makassar: “Rera Ejaya”, “Rera Atia”, Pop Makassar: Bangkenga Cini dan Ati Radja, sangat patut diacungi jempol.

Seperti kata Benjamin Brinner, “Tak ada yang sebanding dengan buku ini, bukan hanya karena subjeknya, tapi cara penulis mendekatinya ….” Lewat buku ini, kita jadi lebih tahu tentang Sinrilik, Ganrang, Tari dan Musik serta Lagu Pop Makassar dari Tinjauan Etnomusikologi, dan itu bukan hanya memberi warna bagi panggung budaya Sulawesi Selatan, tapi juga cara lain melihat budaya musik dan tradisi Indonesia. Sebagai pemerhati budaya, saya merekomendasikan agar buku ini dibaca dengan baik dan diambil pelajaran di dalamnya. Selamat membaca! (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response