Tulisan Sebelumnya: Catatan Harian Etta Adil: EGO (56-60)
EGO (61): Di rumah bibi, pesta perjamuan perkawinan berlangsung meriah. Tanpa diminta, aku mendokumentasikan prosesi sakral dan bersejarah bagi adikku, Taufiqurahman,S.Pd dan Nurjannah (asal Sinjai) yang pada hari itu melangsungkan hari bahagianya.
Iring-iringan pengantin dari Sinjai disambut dengan Gendang Adat dan Tari Padduppa sebelum pasangan pengantin dipersilakan menuju lamming (pelaminan). Simbol-simbol kebangsawanan sangat mewarnai perkawinan adik sepupuku tersebut, mulai dari gapura, walasuji, tangga sapana, sampai prosesi penyambutan rombongan pengantin dari Sinjai tersebut.
“Tapi ada satu hal berbeda yang tidak kita dapatkan di Pangkep, yaitu gendangnya. Jumlahnya hanya ada dua dan satu alat musik hanya pengiring gendang mirip katto-katto besi. Menurutku itu kurang sempurna, dan tidak pas buat keluarga bangsawan yang menikahkan anaknya,” ujar seorang adik sepupu yang kini bermukim di Makassar.
“Itu sangat bangsawan. Coba dengar dan simak baik-baik ketukannya. Bagaimana bunyinya,” kataku setengah berbisik ditengah keasyikan melayani tetamu yang datang.
“Saya tidak paham, Daeng,” ujarnya kala mencoba menyimak lebih teliti bunyi gendang adat.
“Yang bisa paham bunyi gendang adat begitu hanya Orang-orang tertentu. Kalau kamu simak lebih dalam, bunyi gendang itu berkata: Petta Tongeng …… Petta Tongeng …… Petta Tongeng …….” ujarku seraya berlalu menahan tawa.
Catatan Ego (61) Etta Adil, Bone, 8 Nopember 2012.
EGO (62): Aku Shalat Isya bersama dua ulama kharismatis, yang satu maju sebagai imam dan satunya lagi makmum bersamaku. Dibelakangku sekitar dua ratusan jamaah santriwati di lingkungan tempat tinggalku.
Usai shalat dan memimpin do’a, sang imam yang akrab disebut Anrong Gurutta berbalik kepada kami berdua namun hanya ustadz di dekatku yang ditemani cerita.
Kedua ulama itu akhirnya terlibat diskusi serius, dan aku mendekat sebagai pendengar yang baik sementara ratusan jamaah perempuan satu persatu keluar dari masjid usai shalat sunnat.
Tinggallah kami bertiga dalam masjid dan semakin lama diskusi kedua ulama yang sangat disegani tersebut semakin menundukkan hati dan pikiranku untuk tidak melibatkan diri, cukup sebagai pendengar yang baik.
Sang imam tetap bersikukuh untuk tidak menyhalatkan orang mati yang selama hidupnya tidak dilihatnya beribadah sekalipun orang mati itu beragama Islam sedangkan ustadz yang makmum bersamaku berbeda pendapat, asalkan dia Islam dan pernah mengucapkan dua kalimat syahadat maka kita wajib menyhalatkannya.
Dari yang awalnya diskusi ringan akhirnya menjadi debat yang seru, segala macam dalil dikeluarkan keduanya, baik dari Al Qur’an maupun Al-Hadits. Pendapat para ulama dan kisah teladan Rasulullah terkait hal tersebut juga dikemukakan. Meski begitu, keduanya tetap tenang dan saling menghargai pendapat.
Sebuah diskusi yang bernas, tanpa bersitegang, setiap kata dan kalimat yang keluar dari mulut kedua ustadz itu penuh hikmah dan menjadi cermin betapa keduanya adalah pencinta-pencinta ilmu yang bijaksana.
Sepulang dari masjid, istriku bertanya, “Mengapa melibatkan diri dalam debatnya pak ustadz,” tanyanya.
Aku marah. Tersingung.
Pertanyaan istri itu kuanggap meremehkanku.
“Coba kalian para guru di sekolah ini belajar tentang bagaimana diskusi yang baik dari kedua ustadz itu. Sangat jauh dari gosip seperti kebanyakan kaum perempuan atau aktivis berkumpul. Diskusinya bernas, tidak saling menyinggung perasaan, apalagi meremehkan pendapat orang lain.”
“Dan ingat! Aku melibatkan diri dalam debat dua ulama itu bukan untuk menawarkan pendapatku yang miskin ilmu, tetapi untuk mendapatkan pahala bermajelis.” – ujarku seraya membuka rak buku, mencari referensi tentang diskusi kedua ulama itu.
Catatan Ego (62) Etta Adil, Pangkep, 9 Nopember 2012.
EGO (63): Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Gedung LAN, Antang, Makassar berlangsung meriah. Aku dan seorang kawan yang Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Pangkep menyempatkan hadir pada hari kedua.
Tiba-tiba saja aku gagap, tak tahu harus menjawab apa kala seorang peserta asal Ambon menanyaiku, “Sudah berapa penghasilan yang didapatkan dari hasil ngeblog?” Jujur, selama ini aku ngeblog bukan dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi lebih kepada berbagi pengetahuan, pengalaman dan menambah kawan.
Blogger asal Ambon menunjukkan alamat blognya pada iPAD yang setia ditentengnya. “Ini blog saya dan bapak lihat sendiri iklan-iklan yang mewarnai halamannya. Bapak tahu sendiri kan, iklan itu berarti apa?” ujarnya.
Tak mau kalah dan tak ingin diremehkan, kupinjam iPADnya dan foto-foto private facebook yang memuat gambar buku yang pernah kutulis kuperlihatkan padanya. “Ini Buku-buku yang saya terbitkan dari hasil ngeblog. Beta tahu kan, buku itu berarti apa? Berarti rupiah, bung.” – Aku menindis log out facebook, menyerahkan kembali iPADnya.
Kepada kawan yang Blogger asal Ambon itu kukatakan, “Tidak semua orang menghabiskan waktunya ngeblog untuk mencari tambahan penghasilan. Tapi itu bagus, tapi jangan cepat berpuas diri, karena blogmu itu masih blog gratisan.”
Aku berlalu meninggalkannya dan memilih memojok memeriksa note di ponsel, mencari akun dan password blog gratisanku.
Catatan Ego (63) Etta Adil, Makassar, 10 November 2012.
EGO (64) : Dua pekan terakhir ini, aku hampir tiap hari harus menghadiri undangan perkawinan, dari undangan kawan seprofesi, kenalan, sahabat dan bahkan keluarga dekat. Undangan perkawinan tersebut kadang kuhadiri sendiri, kadang pula kuhadiri bersama istri.
Satu dua undangan perkawinan di luar kabupaten mengharuskan kami bersama kerabat dekat menyewa mobil rental. “Kalau banyak begini undangan, bisa-bisa gaji kita berdua habis di amplop undangan.” – ujar istri sembari mengungkapkan uang belanjanya yang menipis.
Aku hanya menanggapinya dengan senyum. “Bukankah kita makan di rumah orang yang punya hajatan.” – jawabku sembari berjanji akan menambah uang belanjanya dari rezeki yang tidak terduga.
“Tenang saja, dalam waktu dekat ini aku akan menerima honor menulis dari pemda. Lagian, jangan pernah memberi harga pada sebuah silaturahim. Bukankah memenuhi undangan itu berarti menyambung dan mempererat silaturahim,” ujarku seraya berkemas memenuhi undangan ketiga pada hari itu.
Catatan Ego (64) Etta Adil, Pangkep, 11 November 2012.


