Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – SALAH satu obyek wisata eksotis di Pangkep yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara adalah Tanarajae.
Kawasan ekowisata ini berada di Desa Bontomanai Kecamatan Labakkang yang mana untuk mencapainya dapat diakses melalui jalan darat akses jalan darat, di Bontoa Labakkang (poros Makassar-ParePare) ke arah barat, 12 km dengan menggunakan kendaraan tradisional Bendi dan mobil penumpang umum.
Tanarajae bisa pula diakses dengan menyusuri Sungai Limbangan dalam waktu 45 menit seraya menikmati keindahan hutan mangrove dengan fauna unik seperti biawak, ratusan burung imigran, serta kelelawar yang bergelantungan di pohon mangrove.


Tanarajae adalah sebuah perkampungan petani tambak yang sangat indah dan banyak ditumbuhi rerimbunan bambu.
Kampung ini dikelilingi dengan tambak di wilayah pesisir yang sangat luas. Lebih dari 1000 hektar diantaranya merupakan tambak produktif dengan rata-rata produksi ikan bandeng sebanyak 2 ton/tahun.
Di sini tersedia rumah penduduk (10 Unit Homestay) tempat menginap wisatawan, berinteraksi dengan penduduk lokal dan mengamati bagaimana mereka mengelola tambak seperti menabur benih, memberi pakan, serta memanen ikan Bandeng dan Udang yang dalam bahasa lokal disebut Bolu dan Doang.

Tanarajae merupakan salah satu destinasi yang dikunjungi dalam paket ekowisata (ecotourism destination) diantara dewi (desa wisata) nelayan lainnya yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten Pangkep bagi turis asing.
Wisatawan mancanegara yang sudah pernah menyinggahi Tanarajae umumnya berasal dari Swiss, Belanda, Belgia, Perancis, dan Inggris.
Saat sore hari, mereka menyusuri tambak dan sungai di wilayah pesisir Tanarajae seraya menyaksikan berkumpulnya burung emigran dalam berbagai jenis sampai menjelang matahari terbenam. Bagi turis yang hobi fotografi, pemandangan panorama tersebut sangat memukau.


Pada malam harinya, turis asing tersebut menginap di rumah panggung penduduk yang berfungsi sebagai homestay bagi mereka.
Para wisatawan mancanegara umumnya dikenalkan dengan budaya masyarakat setempat yang makan duduk di lantai (papan rumah kayu) dan tidur dengan memakai sarung.
Para turis dari Eropah tersebut sangat senang belajar tentang sarung serta memakainya saat makan dan tidur. Selain itu, mereka juga diajarkan cara makan nasi dan lauk, khususnya ikan bandeng dan udang.
Seraya menikmati angin pantai yang berhembus perlahan, para turis itu juga disuguhkan alunan musik gambus turiolo yang biasanya dimainkan 8-10 orang di teras rumah.
Para turis tersebut sangat menikmati keindahan Tanarajae selaras dengan keramahan penduduknya yang setia mengenalkan kehidupan sosial budayanya. (*)


