Oleh: Etta Adil *)
Related Post: Jika berada di Losari, Shalatlah di Masjid Amirul Mukminin
PALONTARAQ.ID – Di setiap kota, selalu ada masjid yang tidak hanya menjadi tempat menunaikan shalat, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, peradaban, dan identitas masyarakatnya. Di Watampone, ibu kota Kabupaten Bone, salah satu masjid yang menghadirkan pengalaman spiritual sekaligus pengalaman kebudayaan itu adalah Masjid Songkok Recca.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Kota Watampone—baik sebagai musafir, peneliti, wisatawan, santri, maupun peziarah sejarah—sempatkanlah melangkahkan kaki menuju Masjid Songkok Recca. Di sana, seseorang tidak sekadar melaksanakan shalat lima waktu. Ia akan merasakan suasana yang teduh, nyaman, dan sejuk. Udara yang tenang, arsitektur yang memadukan nilai religius dengan sentuhan budaya lokal, serta atmosfer yang bersahaja menghadirkan kekhusyukan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Shalat di masjid ini menghadirkan sensasi yang berbeda. Ada rasa damai yang menyelimuti hati. Ada kesan bahwa seseorang sedang berdiri di hadapan Allah Swt. sambil tetap berpijak pada akar sejarah dan budayanya sendiri. Masjid ini seolah menyampaikan sebuah pesan sederhana namun mendalam: menjadi seorang Muslim yang taat tidak berarti harus tercerabut dari identitas budayanya. Justru ketika budaya diposisikan sebagai media dakwah, ia akan menjadi jembatan yang indah untuk membumikan ajaran Islam kepada masyarakat.

Nama “Songkok Recca” sendiri bukanlah nama yang asing bagi masyarakat Bugis. Songkok recca merupakan salah satu simbol kebanggaan masyarakat Bone. Songkok yang dianyam dari serat pelepah lontar dengan teknik tradisional itu telah dikenal selama berabad-abad sebagai warisan budaya Bugis yang memiliki nilai estetika tinggi. Bahkan hingga kini, songkok recca telah menjadi identitas budaya Bone yang dikenal luas di Indonesia.
Menjadikan songkok recca sebagai identitas sebuah masjid bukan sekadar pilihan artistik. Ia adalah simbol bahwa rumah Allah dapat menjadi ruang yang merangkul kebudayaan lokal tanpa mengurangi sedikit pun kemurnian ajaran Islam. Di sinilah salah satu letak keindahan budaya yang telah tersentuh Islam. Islam datang bukan untuk menghapus budaya yang baik. Islam datang untuk menyucikan, memperbaiki, mengarahkan, dan mengisinya dengan Nilai-nilai Tauhid.
***
Sejarah mencatat bahwa Islam masuk ke Kerajaan Bone pada awal abad ke-17, ketika gelombang Islamisasi menyebar dari Kerajaan Gowa-Tallo ke berbagai kerajaan Bugis. Setelah Raja Gowa XIV, Sultan Alauddin (memerintah 1593–1639), memeluk Islam pada tahun 1605 melalui dakwah tiga ulama Minangkabau—Dato ri Bandang, Dato ri Tiro, dan Dato Patimang—proses penyebaran Islam di Sulawesi Selatan berlangsung semakin intensif.

Dalam konteks politik kerajaan saat itu, Gowa kemudian mengajak kerajaan-kerajaan Bugis untuk menerima Islam sebagai agama resmi. Kerajaan Bone pada mulanya tidak langsung menerima ajakan tersebut. Hubungan politik antarkerajaan pada masa itu bahkan sempat diwarnai konflik dan perang yang berkepanjangan. Dalam historiografi Sulawesi Selatan, Upaya Gowa (Kerajaan Makassar) memerangi Kerajaan-kerajaan Bugis disebut “Musu’ Selleng” atau “Perang Pengislaman”. Setelah melalui berbagai dinamika politik dan militer, akhirnya Raja Bone ke-11, La Tenri Ruwa Sultan Adam Matinroe ri Bantaeng, menerima Islam sekitar tahun 1611 M. Sejak saat itu Islam berkembang pesat dan menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bone hingga hari ini.
Peristiwa tersebut dicatat dalam berbagai sumber sejarah, antara lain: Mattulada, “Islam di Sulawesi Selatan” (Hasanuddin University Press, 1983), * Christian Pelras, “The Bugis” (Blackwell Publishers, 1996), Ahmad M. Sewang, “Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI–XVII” (Yayasan Obor Indonesia, 2005), Noorduyn, “A Critical Survey of Studies on the Languages of Sulawesi” dan kajian-kajiannya mengenai kronik Bugis, Lontaraq Attoriolong ri Bone yang telah diterjemahkan dan dikaji oleh berbagai sejarawan Bugis.

Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa Islam akhirnya tumbuh menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Bone. Bahkan setelah Islam diterima, nilai-nilai adat Bugis kemudian mengalami proses penyesuaian dengan ajaran agama, dan bahkan melahirkan ungkapan yang sangat terkenal di Sulawesi Selatan, “Ade’ nappunnai sara’, sara’ nappunnai Kitabullah”, Adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan Kitabullah. Ungkapan ini menunjukkan bahwa adat tidak diposisikan sebagai tandingan agama, melainkan sebagai ruang sosial yang diarahkan oleh nilai-nilai Islam.
***
Masjid Songkok Recca sesungguhnya menghadirkan sebuah pelajaran penting. Bahwa masjid tidak harus tampil asing bagi masyarakat di sekitarnya. Masjid justru akan lebih hidup apabila mampu berbicara dengan bahasa kebudayaan masyarakatnya. Hal ini bukan sesuatu yang baru dalam sejarah Islam.

Rasulullah saw. sendiri ketika berdakwah di Jazirah Arab tidak menghapus seluruh tradisi masyarakat Arab. Beliau mempertahankan tradisi-tradisi yang tidak bertentangan dengan tauhid dan syariat, lalu mengoreksinya apabila mengandung unsur kemusyrikan, kezaliman, atau kemaksiatan. Banyak praktik sosial Arab yang kemudian diberi ruh Islam sehingga menjadi bagian dari peradaban Islam. Demikian pula para ulama penyebar Islam di Nusantara.
Di Sulawesi Selatan, para ulama memanfaatkan bahasa Bugis dan Makassar, aksara lontaraq, sastra lisan, pappaseng, syair-syair keagamaan, hingga pranata adat sebagai sarana memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat. Inilah hakikat integrasi agama dan budaya. Integrasi tersebut sama sekali bukan memasukkan unsur budaya ke dalam ‘aqidah. Akidah Islam tetap murni dan Tauhid tetap menjadi fondasi utama.

Al-Qur’an dan Sunnah tetap menjadi sumber hukum meskipun pembangunan masjid diwarnai nuansa budaya setempat. Yang dilakukan adalah menjadikan budaya sebagai media komunikasi dakwah. Budaya menjadi kendaraan. Islam tetap menjadi tujuan. Perbedaan ini sangat penting dipahami agar masyarakat tidak keliru memaknai hubungan agama dengan budaya.
Penulis yang pada Rabu malam kemarin (29/7/2026) melaksanakan shalat Magrib di Masjid Songkok Recca’ merasakan ketenangan dan kesejukan yang berbeda. Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika seseorang melaksanakan shalat di Masjid Songkok Recca. Seakan-akan penulis menerima pesan kepada dirinya sendiri, “Aku seorang Muslim.” Dan pada saat yang sama ia juga berkata, “Aku seorang Bugis.” Dua identitas itu tidak saling bertentangan. Justru saling menguatkan.
Bugis sejak dahulu dikenal memiliki falsafah sipakatau, sipakalebbi, sipakainge’, serta menjunjung tinggi nilai lempu’, getteng, amaccang, dan warani. Ketika Nilai-nilai tersebut bertemu dengan Islam, lahirlah karakter masyarakat yang religius sekaligus berbudaya. Karena itu tidak ada alasan bagi seorang Muslim Bugis untuk merasa malu terhadap budayanya selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan syariat.

Sebaliknya, budaya dapat menjadi identitas yang memperkaya cara seseorang menampilkan keindahan Islam. Songkok recca, sarung tenun, rumah adat, ukiran Bugis, bahasa Bugis, sastra lontaraq, hingga seni kaligrafi bercorak lokal semuanya dapat menjadi bagian dari syiar Islam apabila diarahkan kepada kebaikan.
Bukankah Dakwah Harus Menghadirkan Keindahan? Dan Allah Swt. mencintai keindahan. Karena itu dakwah tidak selalu hadir melalui mimbar dan ceramah. Kadang-kadang dakwah hadir melalui arsitektur sebuah masjid. Melalui motif ukiran. Melalui senyum masyarakat. Melalui kebersihan lingkungan. Melalui keramahan para pengurus masjid. Melalui keteduhan halaman. Melalui kenyamanan ruang shalat. Semua itu adalah bahasa dakwah yang sering kali lebih mudah dipahami daripada ribuan kata.
Masjid Songkok Recca memperlihatkan bahwa dakwah dapat dikemas secara elegan melalui pendekatan budaya. Orang datang karena penasaran terhadap nama dan desainnya. Lalu mereka masuk. Berwudhu. Melaksanakan shalat. Merasakan ketenangan. Kemudian pulang dengan membawa pengalaman spiritual. Bukankah itulah tujuan dakwah? Mengantarkan manusia semakin dekat kepada Allah.

Lihat pula: Monumen Badik di Kabupaten Bone: Simbol Sejarah, Kehormatan, dan Falsafah Hidup Orang Bugis
Jadi, Jika berkunjung ke Watampone, jangan hanya mencari kuliner khasnya, menelusuri jejak Kerajaan Bone, atau mengunjungi destinasi sejarahnya. Datanglah pula ke Masjid Songkok Recca. Berwudhulah dengan tenang. Laksanakan shalat. Nikmatilah suasana yang sejuk. Rasakan bagaimana rumah Allah itu menghadirkan kedamaian sekaligus mengingatkan bahwa Islam telah tumbuh subur di tanah Bone selama lebih dari empat abad.
Di Masjid Songkok Recca’, kita belajar bahwa agama dan budaya tidak selalu harus dipertentangkan. Ketika budaya dijadikan sebagai media dakwah, bukan sebagai sumber akidah, maka ia justru menjadi sarana syiar Islam yang indah, santun, dan membumi. Masjid Songkok Recca adalah salah satu contoh bahwa identitas keislaman dan identitas kebudayaan Bugis dapat berjalan berdampingan. Ia menjadi penanda bahwa masyarakat Bugis mampu menjaga kemurnian tauhid sekaligus merawat warisan leluhur yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Maka, shalatlah di Masjid Songkok Recca. Bukan hanya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah Swt., tetapi juga untuk merasakan denyut sejarah, menikmati kesejukan budaya, dan menyaksikan bagaimana Islam dan kearifan lokal berpadu dalam harmoni yang memperkukuh jati diri seorang Muslim Bugis yang bangga terhadap agamanya sekaligus mencintai budayanya. (*)
(* Etta Adil, Blogger dan Jurnalis Independen


