Berita Daerah KaraEng LoE ri Pakere, Raja Pertama di Maros

KaraEng LoE ri Pakere, Raja Pertama di Maros

-

- Advertisment -

Kantor Bupati Maros
Kantor Bupati Maros. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Andi Fahry Makkasau

PALONTARAQ.ID – “….. Karaeng Loe ri Pakere uru Karaeng ri Marusu…..” dan seterusnya.  Begitu bunyi mukaddimah Lontaraq Marusu, jadi jelas tertulis bahwa Karaeng LoE ri Pakere adalah Raja Pertama di Marusu, atau Maros.

Mengapa menyamakan Marusu dengan Maros, ini disebabkan bahwa pada saat tersebut sekitar akhir abad XV belum ada Kerajaan lain di kawasan (Maros) ini selain Marusu.

Karaeng LoE ri Pakere oleh masyarakat setempat (Pakere) diyakini sebagai seorang Tomanurung. Olehnya itu beliau juga disebut dengan Manurunga ri Pakere. Mengapa demikian?

Kalau kita membaca Lontara maupun Buku-buku Sejarah Kerajaan di Sulawesi Selatan terutama kerajaan-kerajaan yang tertua, seperti Luwu, Gowa, Bone, Siang, Soppeng, Sangalla, Sidenreng, Bacukiki, dan sebagainya, maka akan kita ketahui bahwa Kerajaan-kerajaan tersebut berdiri diawali dengan sebuah keadaan yang kacau balau atau kondisi “chaos” yang oleh Lontaraq disebut dengan masa “sianre balei tauwe”.

Masa dimana peradaban manusia menjadi hilang, jiwa sosial bermasyarakat sama sekali lenyap. Yang ada adalah manusia hidup dalam kekacauan, kehidupan laksana ikan yang saling memangsa, yang kuat memakan yang lemah, yang lemah dimangsa oleh yang kuat. Masyarakat hidup tanpa pemimpin yang dipatuhi. Demikian yang terjadi secara berkepanjangan. Rupanya kondisi ini menjadi prolog akan datangnya Tomanurung.

Pada suatu hari tiba-tiba hujan turun dengan deras, petir kilat saling sambar menyambar, guntur bersahut-sahutan, langit hitam kelam seolah malam tanpa siang, begitu terus yang terjadi selama seminggu, seluruh penduduk dalam ketakutan, mereka mengira adzab dewata telah datang memusnahkan kehidupan mereka.

Saat demikian Gallarang Pakere, Ketua Kaum yg slama ini dalam ketidak-berdayaan mengajak beberapa warganya yang masih berfikiran tenang untuk berdoa dan bermunajab kepada Dewata SeuwaE agar keadaan yang sangat kacau itu kembali normal.

Siang dan malam mereka berdoa dan bermunajab, hingga pada akhirnya kondisi alam yang selama seminggu begitu mengerikan tiba-tiba berhenti dan berubah cerah, keadaan menjadi begitu teduh, damai dan nyaman, tanah tak ada yang becek, tak ada pula genangan air, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Yang membuat rakyat kaget adalah berdirinya sebuah Saoraja (Istana kayu berbentuk rumah panggung) di sebuah padang di Pakere. Tempat yang selama ini hanya berupa padang ilalang tempat rakyat menggembalakan ternaknya. Betul-betul sebuah keajaiban telah terjadi.

Gallarang Pakere diiringi oleh para penduduk segera bergegas menuju saoraja tersebut dan kemudian tampak di depan tangga duduk santai seorang lelaki gagah, tegap dan tampang dengan wajah tersenyum namun sangat kharismatik. Pakaiannya berkilauan dan di kepalanya terpasang sebuah lingkayo (semacam mahkota), memangku sebuah alameng (pedang) yang warangkanya terbungkus emas bertatahkan permata aneka warna.

Di pinggangnya terselip sebilah keris tatarapang (warangka terbalut emas) berhulu gading model pantat lebah. Siapa lelaki tersebut dari mana asal usulnya tak seorang pun yang tahu. Gallarang Pakere lalu berdialog dan tentang asal usul hanya dijawab bahwa dia datang dari negeri yang jauh.

Rakyat kemudian mendaulatnya untuk bersedia menjadi pemimpin yang dipertuan dan terjadilah semacam kesepakatan tentang hak dan kewajiban masing-masing dalam memposisikan diri sebagai Pemimpin dan Yang Dipimpin. Karaeng LoE ri Pakere (Maharaja di Pakere) demikian kemudian rakyat menggelari rajanya yang baru.

Dengan adanya KaraEng LoE ri Pakere memimpin rakyat sebagai Raja. Keadaan hidup masyarakat menjadi sangat berubah. Suasana hidup rakyat menjadi tenteram, kehidupan rakyat pun berubah sejahtera.

KaraEng LoE ri Pakere mengajarkan rakyatnya dalam banyak hal tidak saja berkaitan dengan adat istiadat, tata krama dan kesusilaan, membangun semangat persatuan dan gotong royong, tetapi juga Beliau mengajarkan rakyat cara bercocok tanam dan beternak dengan baik.

Visi KaraEng LoE ri Pakere adalah menjadikan negeri dan rakyatnya sejahtera lahir dan bathin atau dalam bahasa Makassar disebut Butta Salewangang. Dari sinilah diambil julukan Maros sebagai Butta Salewangang, sebuah konsepsi di era KaraEng LoE ri Pakere yang menjadi obsesi masa depan Maros.

Sejak itu Marusu tumbuh dan berkembang pesat. Pakere sebagai Ibu negeri menjadi sangat terkenal, Wilayah Marusu pun makin luas dan berkembang disebabkan banyaknya Ketua2 Kaum (Gallarang) yang datang menyatakan perhambaannya dengan mempermaklumkan bahwa kampungnya menjadi bagian dari kekuasaan Karaeng LoE. Secara ikhlas tanpa invasi atau penaklukan bersenjata.

Usaha KaraEng LoE tidak berhenti sampai disitu, beliau lalu membuka hubungan dengan Kerajaan2 lain yang ada di sekitar Marusu. Tercatat kemudian beliau turut serta dalam permufakatan perjanjian persahabatan 4 Kerajaan yaitu: Karaeng LoE ri Pakere (Raja Pertama Marusu) dengan Karaeng Tumapa’risi Kallongna (Raja Gowa IX), dengan La Olio Bote’e (Raja Bone VI) serta KaraEng LoE ri Bajeng (Raja Polongbangkeng I).

Perjanjian persahabatan empat kerajaan ini mencatatkan bahwa di awalnya Kerajaan Marusu adalah Kerajaan yang berdiri setara dengan Gowa, Bone dan Polongbangkeng.

Kisah selanjutnya disebutkan dalam Lontara bahwa KaraEng LoE tidak memiliki istri namun diketahui bahwa beliau mendapatkan seorang perempuan dari belahan bambu betung di daerah Pasandang, dan dijadikannya anak angkat, anak angkat KaraEng LoE ini bergelar Manurunga ri Pasandang.

Setelah anak tersebut dewasa, KaraEng LoE lalu mendengar adanya Tomanurung di Luwu yang turun di daerah Asa’ang bergelar Manurunga ri Asa’ang, Beliau lalu pergi menjemput Tomanurung tersebut lalu dinikahkan dengan putri angkatnya Manurunga ri Pasandang. Pasangan Tomanurung inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya dinasti bangsawan di Maros.

Kita tinggalkan dulu sejenak cerita tentang pasangan Tomanurung di Maros ini. Penulis ingin mengulas sedikit perihal eksistensi Tomanurung sebagai Tonggak awal dinasti penguasa di Kerajaan-kerajaan besar dan tua yang semuanya juga mengakhiri masa “sianre bale” nya dengan kedatangan Tomanurung.

Kerajaan Luwu, datang Tomanurung perempuan yang bernama SIMPURUSIANG yang hadir melalui seruas bambu, Simpurusiang selanjutnya diangkat menjadi raja di Kerajaan Luwu dengan gelar Pajung (Yang Berpayung).

Di Kerajaan Bone datang Tomanurung di daerah Matajang bergelar Mata SilompoE’ yang kemudian kawin dengan Tomanurung ri Tonro bernama We Tenri Awaru, selanjutnya Tomanurung ri Matajang diangkat sebagai Raja Bone pertama dengan gelar Petta MangkauE (Yang Bertahta).

Di Kerajaan Gowa di sebuah daerah yang bernama Taka’bassia, turun seorang Tomanurung Wanita yang kemudian kawin dengan Karaeng Bayo cucu Puang Tamboro’langi Tomanurung ri Kandora Tana Toraja. Putri Tomanurung ini lalu dilantik menjadi raja di Kerajaan Gowa dengan gelar Sombayya (Yang Disembah).

Demikian pula di beberapa daerah lain turun pula Tomanurung. Di Kerajaan Soppeng datang Tomanurung di Sekkanyili’ bernama La Temmamala. Di Kerajaan Sidenreng datang Tomanurung di Bulu’lowa, di Kerajaan Sawitto hadir Tomanurung di Akkajeng dan di Pare-pare turun Tomanurung di Bacukiki yang bernama La Bangengnge. Demikian pula daerah-daerah lain semua masa “sianre bale”nya diakhiri dengan kedatangan Tomanurung.

Di Maros pun di atas sudah diceritakan demikian pula adanya. Manurunga ri Pakere dengan penerus sepasang Tomanurung telah eksis membawa masyarakat Marusu menyongsong masa depan yang cerah.

Selanjutnya dari pasangan Manurunga ri Pasandang dan Manurunga ri Asaang lahir seorang putera yang diberi nama I Sangaji Gaddong. Karena lahir dari ayah ibu seorang Tomanurung, rakyat lalu memberinya Gelar Batara Marusu.

Lahirnya Batara Marusu seolah menjadi tanda berakhirnya missi KaraEng LoE ri Pakere hadir ke dunia. Karena tak lama berselang dalam suatu acara adat Mattoeng atau Mattojang (Bermain ayunan), KaraEng LoE ri Pakere lalu naik ke atas sebuah ayunan, sambil berayun Beliau menyampaikan banyak pesan dan petuah diujung pesannya Beliau menyampaikan amanat bahwa Batara Marusu diamanahkannya sebagai Raja berikutnya dan tiba-tiba KaraEng LoE mairat (menghilang) di atas ayunan.

Demikianlah sehingga gelar anumerta KaraEng LoE ri Pakere adalah Sayanga ri Toenna (Yang mairat di atas ayunan). Bersamaan dengan itu pula pasangan Tomanurung ri Pasandang dan suaminya Manurunga ri Asaang ikut mairat.

Rakyat Marusu sangat bersedih mereka sangat mencintai KaraEng LoE, jasa nya yang telah membangun Marusu menjadi Kerajaan besar, eksis dan disegani karena kesejahteraan rakyat dan ketenteraman Kerajaannya menjadi kenangan yang tak akan bisa terlupakan.
Marusu kemudian harus berjuang dibawah pemerintahan I Sangaji Gaddong Batara Marusu sebagai peletak dasar Dinasti penguasa di Kerajaan Marusu, sebagai Raja Maros II. Akankah Marusu akan terus eksis berdaulat. Sejarah yang akan menceritakannya kelak.

Itulah sepenggal kisah berdirinya Marusu dengan Raja Pertama KARAENG LOE RI PAKERE SAYANGA RI TOENNA.

Maros, Subuh 27 Juli 2019

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

1 KOMENTAR

  1. Bisakah diuraikan senior, bagaimana bentuk perjanjian ketika gallarrang pakere datang menemui karaeng loe di saoraja tempat pertama kali karaeng loe hadir sebagai manurunga di pakere. Isi perjanjiannya ketika ia hendak diangkat menjadi raja ( kararng Loe ri pakere)/ memjadi raja pertama saat itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you