Beranda Feature Ponsel Jadul Sang Professor Muda

Ponsel Jadul Sang Professor Muda

Ponsel Jadul sang Professor (foto: mfaridwm)
Ponsel Jadul sang Professor (foto: mfaridwm)

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – KALAU  tidak menyaksikannya sendiri, mungkin saya pun tidak akan percaya. Seorang professor muda menelepon rekan dosen mengajarnya dengan menggunakan ponsel jadul (jaman dulu).

Beberapa bulan lalu saya sempat mewawancarainya untuk kepentingan penulisan buku dan kemarin, kembali penulis mendatangi untuk keperluan yang sama, ponsel dari jaman baheula itu masih saja tergenggam di tangannya.

Penulis sama sekali tidak ada maksud merendahkan seorang guru besar hanya dengan melihat dari ponselnya, karena itu tak perlu penulis menyebutkan namanya. Beliau tentu seorang yang bersahaja, yang memelihara dirinya dengan kesederhanaan hidup dan penampilannya.

Beliau tentu seorang dosen yang lebih mengutamakan esensi dibanding sensasi. Beliau tentu seorang yang dalam pemahamannya terhadap bidang ilmunya —-hal ini dapat diketahui dari jawabannya yang bernas— adalah akademisi yang lebih mengutamakan isi dibanding kulit.

Sedikit keanehan yang sempat terbersit di benak penulis, Masih ada juga orang seperti ini? “Hape itu khan buat nelpon. Kalau masih bisa dipake nelpon, buat apa diganti?”, ujarnya tanpa ditanya saat menyaksikan penulis memotret ponsel jadulnya diatas buku, “Cara Cerdas Mendapatkan Dana Riset”.

Sesaat kemudian ia mengambil hapenya itu untuk dicas, bergantian ia memakainya dengan ponsel keduanya, Nokia 3230. Penulis jadi malu untuk menunjukkan ponsel milik penulis, yang meskipun juga jadul tapi paling tidak sudah berkamera.

Tidak mudah untuk konsisten dengan kesederhanaan, di saat yang sama begitu banyak tawaran gila untuk tampil jamani, prestisius dan  serba terkini.

Tablet. Simbol prestisius? (foto: ist/ict)
Tablet. Simbol prestisius? (foto: ist/ict)

Penampilan langka sang Professor muda dengan ponsel jadulnya tersebut, sangat kontras dengan pemandangan umum yang saya dapati di sekolah dan kampus, pelajar dan mahasiswa yang saling berlomba berganti-gantian hape, berburu merk dan keluaran terbaru Ponsel dan Tablet.

Mereka saling melirik dan meniru apa yang tergenggam di tangan masing-masing, meskipun kebanyakan diantaranya belum berpenghasilan dan hanya mengandalkan keuangan orangtuanya.  OppoF1S, BlackBerry Bellagio, Samsung Galaxy S II, IPad 2, HTC Radar, Nexian Tap, IPhone 4S, Nokia Asha 303, Motorola Razr menjadi pembicaraan hebat mereka.

Professor muda ini bercerita kepada saya, suatu waktu ia pernah menasehati seorang mahasiswinya yang gila-gilaan penampilannya dengan tiga ponsel terbaru di genggamannya. “Be your self”, katanya.

Apa jawab sang mahasiswi? Hellooo….. hari gini Prof, masih pake ponsel jadul gitu. Ke laut aja dech? Dua sisi tampilan yang berbeda.

Penulis sedikit khawatir, apa ponsel pintar yang kita pakai juga mengajarkan kekurang-ajaran dalam bertutur dan bersikap? Tak ada larangan sebenarnya untuk memiliki smartphone terbaru, hanya saja sangat disayangkan jika itu dilakukan berlebihan dan sekedar  gaya-gayaan. Lebih disayangkan lagi, jika hanya ponselnya yang pintar, bukan pemakainya. (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT