Beranda Sosok Andi Mappangara, Dosen Teknik Perkapalan Pertama di Indonesia Timur

Andi Mappangara, Dosen Teknik Perkapalan Pertama di Indonesia Timur

Andi Mappangara (foto: mfaridwm)
Andi Mappangara (foto: mfaridwm)

Laporan: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Tiba-tiba saja saya teringat akan sarjana muda pertama Teknik Perkapalan Universitas Hasanuddin (UNHAS) ini dan mengkhawatirkan kesehatannya.

Saya kehilangan nomor kontaknya. Lima tahun lalu saya pernah mewawancarainya di rumahnya di bilangan Jalan Sunu, kompleks Perumahan Dosen UNHAS. Ketika itu beliau mengeluhkan nyeri sendi pada kedua pergelangan kakinya.

Kini, saya kelimpungan karena tak lagi menemukan nomor kontaknya di ponselku. Akh semoga beliau sehat-sehat saja.

Kutuliskan profilnya kini agar mahasiswa teknik UNHAS, khususnya Teknik Perkapalan dapat mengambil pelajaran dari kisah hidupnya yang luar biasa dalam meraih pendidikan tinggi di bidang Teknik Perkapalan.

Dialah Ir. H. Andi Mappangara, Alumni pertama Teknik Perkapalan yang kembali mengabdi di almamaternya dan beliaulah dosen teknik perkapalan pertama di Indonesia Timur dari UNHAS.

* * *

Ir H Andi Mappangara dilahirkan di Palopo, 12 Juni 1940. Usai menamatkan sekolahnya di SMA Negeri 1 Makassar pada Tahun 1960.

Pada tahun itu juga beliau masuk di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang baru dibuka secara resmi dengan menerima mahasiswa baru sebanyak 150 orang, 50 Orang Jurusan (dahulu disebut Departemen, sekarang Jurusan) Teknik Mesin, 50 orang Jurusan Teknik Sipil, dan 50 orang jurusan Teknik Perkapalan.

Rektor UNHAS ketika itu adalah Prof Dr Arnold Manunutu dan Ir John Pongrekung sebagai Dekan Fakultas Tekniknya.

Dalam perjalanannya, banyak mahasiswa Departemen Teknik Perkapalan yang berhenti dan pindah jurusan (Departemen) ke Teknik Mesin atau Teknik Sipil yang kampusnya berada Gowa sebelum pindah ke Bara-baraya.

Banyak pula diantaranya yang tidak tertib kuliahnya, sehingga pada Tahun 1963, hanya tercatat 7 orang yang lulus sebagai sarjana muda Angkatan pertama Teknik Perkapalan UNHAS. Mereka adalah Supiah Lahadeng (alm), Otto Sampo, Pieter Batti, Andi Mappangara, Kuoe Eng Goan, Sophia Syamsuddin, dan Saleh Habsyah (alm).

Ketujuhnya kemudian diangkat sebagai PNS Dosen di almamaternya dan terikat ikatan dinas untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Perkapalannya di Universitas Pancasila di Jakarta yang kerjasama dengan UNHAS.

Pada Tahun 1964 berangkatlah mereka bertujuh ke Jakarta lewat Pelabuhan Pare-pare dengan menggunakan KM Arnold Manunutu selama tiga hari perjalanan.

Pengiriman ketujuh sarjana muda perkapalan UNHAS ini ke Jakarta ditempuh karena pada waktu itu dosen perkapalan masih sangat langka.

Salah satu jalan adalah mahasiswa yang mendatangi dosennya yang umumnya bermukimnya di Jakarta sehingga dijalinlah kerjasama dengan pihak Universitas Pancasila untuk menyiapkan ruangan kuliah bagi mereka bertujuh sebagai mahasiswa kelas jauh UNHAS.

Menurut Ir. Muchtar Ali, angkatan kedua (tanpa ikatan dinas) sarjana muda Teknik Perkapalan UNHAS yang diberangkatkan ke Jakarta, ketika itu UNHAS belum bisa membiayai dosen terbang ke Makassar, sehingga mahasiswalah yang mendatangi dosennya ke Jakarta.

Tentu dapat dipahami betapa beratnya perjuangan untuk melahirkan sarjana perkapalan ketika itu, apalagi masa tersebut bersamaan dengan masa “new emerging forces”, inflasi tinggi, munculnya G 30 S / PKI yang mengacaukan kondisi keamanan Ibukota serta lahirnya tuntutan Trikora.

Masa kekacauan Tahun 1965 itu, melahirkan banyak mahasiswa aktivis yang dikenal sebagai Angkatan 1965, termasuk mahasiswa kelas jauh UNHAS ini yang bergabung dalam gerakan mahasiswa Tahun 1965 bersama-sama dengan Cosmas Batubara, Fahmi Idris, Radius Prawiro, serta Tokoh mahasiswa lainnya.

Tokoh mahasiswa UNHAS, Ir Muchtar Ali yang pernah memimpin Senat Mahasiswa Fakultas Teknik (Muchtar Ali seangkatan dengan Jusuf Kalla yang juga pernah memimpin Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNHAS) ikut terlibat dalam gerakan mahasiswa di Jakarta tersebut.

Dua mahasiswa UNHAS, Otto Sampo dan Sofia Lahadeng-lah yang kemudian menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dan dianggap sebagai sarjana kembar pertama Teknik Perkapalan sementara yang lainnya harus berhenti kuliah dan mencari kerja selama masa kondisi sosial politik kacau dan ekonomi tidak menentu di Jakarta.

Teman-teman seangkatan Andi Mappangara usai menamatkan sarjana perkapalannya seperti Ir Pieter Batti terpikat masuk di Pertamina, Ir. Saleh Hafsah dan Ir Sofyan Syamsuddin masuk di BKI. Sarjana kembar Ir. Otto Sampo sendiri masuk di Bapindo dan Ir. Sofyah Lahadeng masuk di PT. Kodja (PN).

Disinilah kecewanya Ir. Andi Mappangara terhadap keenam teman seangkatannya karena menganggap telah ‘melupakan’ satu hal : mereka adalah PNS Asisten Dosen yang terikat ikatan dinas UNHAS.

Andi Mappangara sendiri nanti menyelesaikan kuliahnya pada Tahun 1975. Saat berhenti kuliah karena kondisi keamanan dan sosial politik Jakarta masih kacau, beliau memilih bekerja sambilan di PN Kodja, Industri Perkapalan IPPA, dan magang setahun di Perusahaan Negara (PN) Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

Ketika itu Direktur Utama BKI pertama dijabat oleh Ir. Natzir, MSc yang juga Ketua Jurusan Teknik Perkapalan UNHAS sehingga mahasiswa perkapalan kelas jauh dari UNHAS di Jakarta mendapatkan penerimaan yang baik di BKI, magang maupun kerja tetap di perusahaan negara (BUMN) tersebut.

Ir. Andi Mappangara sendiri mengurai masa sulit kuliahnya bukan hanya karena sosial politik dan ekonomi yang kacau di Jakarta, tetapi juga pada masa itu yang menjadi dosennya adalah Sarjana-sarjana Indonesia yang baru pulang dari Jerman, Amerika, dan Belanda.

“Ketika itu sangat sulit kita dapati Buku – buku Perkapalan, kalaupun ada itu berbahasa Jerman dan Belanda. Itulah sebabnya sambil kuliah di Jakarta, saya juga mengambil Kursus Bahasa Jerman di Goethe Institute”, kenangnya kepada penulis (Mei 2011).

Tidak seperti teman – teman seangkatannya, Ir. Andi Mappangara tidak terpikat untuk masuk di perusahaan meski gaji tinggi sudah siap menanti. Ia memilih kembali ke almamaternya, dari Asisten Dosen pada saat berangkat Tahun 1964 ke Jakarta menjadi Dosen Tetap UNHAS usai menyelesaikan sarjananya pada Tahun 1975.

Beliaulah alumni pertama Teknik Perkapalan UNHAS yang kembali mengabdi di almamaternya sekaligus Dosen Teknik Perkapalan pertama di Indonesia Timur yang pernah ditelorkan UNHAS. Di Indonesia, dua jurusan Teknik Perkapalan tertua dan berdaya saing tinggi hanyalah UNHAS dan ITS (Institut Teknologi Surabaya).

“Saya punya tanggung jawab mengajar di UNHAS dan tidak tergoda masuk di perusahaan perkapalan ataupun perusahaan besar lainnya, meski diiming-imingi jabatan dan gaji tinggi.” ujarnya.

“Kalau semua ‘lari’, siapa lagi yang diharapkan membesarkan Teknik Perkapalan kalau bukan alumninya sendiri. Kalau saya ikut ‘lari’ barangkali jurusan Teknik Perkapalan tinggal sejarah,” tambahnya.

Ditambahkan Andi Mappangara, betapa beratnya saat kembali ke UNHAS. “Hampir semua mata kuliah saya ajarkan. Saya ketika itu banyak dibantu Ir. Hadisuroto, alumni perkapalan dari Rusia yang juga bekerja di PT. PAL, ada juga dari Angkatan Laut, kami dengan staf pengajar terbatas memberi semangat kuliah agar mahasiswa tetap mencintai Teknik Perkapalan”, kenang pensiunan Dosen UNHAS tahun 2005 ini.

Beberapa murid Ir. Andi Mappangara kini telah menjadi Guru Besar Teknik di UNHAS, diantaranya Prof Dr Mansyur, Prof Dr Ir Muhammad Alham Djabbar, M.Eng, dan Prof Dr Yamin Jinca. Anaknya sendiri, Ir Khaerun Nisa kini juga mengabdi di almamaternya sebagai Sekretaris Jurusan Teknik Perkapalan.

“Sekarang Buku-buku Perkapalan sudah lengkap, sudah banyak berbahasa Inggris dan Indonesia, jadi tinggal kemauan belajar mahasiswa saja”, ujar Penulis buku “Teori Bangun Kapal 1-3 ” ini. (*).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT