Beranda Sosial Budaya Seni Pertunjukan Patahuddin, Berjuang Sendiri Mempertahankan Mandali’

Patahuddin, Berjuang Sendiri Mempertahankan Mandali’

Patahuddin dengan dua alat musik Mandali buatannya (foto: mfaridwm)
Patahuddin dengan dua alat musik Mandali buatannya (foto: mfaridwm)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya:  Hamzah Leo, Hidup untuk Menjadi Wartawan

PALONTARAQ.ID – TAK  banyak orang yang bisa memainkan alat musik tradisional Mandali’. Alat musik petik ini lazim juga disebut Mandoling, merupakan alat musik khas Bugis Makassar yang masih lestari dan dimainkan di daerah Pangkep. Meski terancam punah karena umumnya masyarakat saat ini, khususnya generasi mudanya lebih menyukai musik pop modern atau lagu-lagu barat.

Pemerintah Daerah, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pun nampaknya alpa dan kurang mengapresiasi keberadaan seniman lokal dan sanggar seni yang ada.

Seorang pegiat seni pertunjukan musik tradisional di Pangkep, Daeng Ramli (52), menyebutkan bahwa ada tiga hal yang langka terkait eksistensi alat musik Mandali, yaitu:

Pertama, kenyataan bahwa alat musiknya sendiri sudah langka disebabkan hanya satu dua orang saja yang bisa membuat dan menekuninya.

Kedua, orang (pemusik) yang bisa memainkan alat musik mandali juga sudah langka.

Ketiga, karena sebab pertama dan kedua diatas, juga mempengaruhi hilangnya lagu-lagu daerah yang biasa dinyanyikan dengan iringan alat musik Mandali.

Di Kabupaten Pangkep dimana alat musik Mandali’ ini pernah menjadi primadona, kini yang bisa memainkannya sudah bisa dihitung jari, tak sampai sepuluh orang, itupun yang aktif berkesenian hanya tujuh orang, yaitu lima orang di Minasatene, satu orang di Jagong, Pangkajene, dan seorang lagi di Labakkang.

Adalah Daeng Hasa (63), pemusik yang piawai memainkan Mandali mengaku sejak tujuh tahun terakhir tak memiliki minat lagi membuat Mandali sehingga boleh dibilang saat ini hanya Patahuddin yang akrab disapa Daeng Pata (44) yang tinggal seorang diri di Pangkep menekuni kerajinan membuat alat musik Mandali.

(foto 1)
(foto 1)

(foto 2)
(foto 2)

(foto 3)
(foto 3) foto 1,2, dan 3 adalah Alat dan Bahan dalam Membuat Mandali (Foto: mfaridwm)

Menurut Patahuddin, warga Bulu Sipong Desa Bara Batu Kecamatan Labakkang ini mengungkapkan bahwa Mandali sudah ada sejak ia belum lahir. “Saya tidak tahu sejarahnya alat musik Mandali ini, pak,” ujarnya. Ia mengaku baru tujuh tahun terakhir ini menekuni kerajinan membuat alat musik Mandali.

“Awalnya saya mengenal Mandali dari paman, itupun sebenarnya Mandali pinjaman dari seorang kawan paman. Karena tertarik dengan bunyi dan irama yang dihasilkannya, akhirnya penulispun belajar dan minta diajarkan cara memainkannya. Karena ingin juga memiliki Mandali, akhirnya sayapun sedikit demi sedikit belajar bagaimana cara membuatnya,” ungkap Patahuddin.

Bagi Patahuddin, tak banyak yang bisa dia harapkan dari menekuni kerajinan Mandali selain kecintaan kepada alat musik tersebut. Dalam tujuh tahun terakhir, ia hanya bisa memproduksi 20 Mandali disebabkan memang tak banyak lagi yang melirik alat musik tersebut.

“Dahulu, Mandali digemari karena dipakai sebagai alat musik pengiring Tari Pamaseri, sekarang Tari Pamaseri pun sudah tidak dimainkan lagi dan tinggal satu dua orang saja yang mengetahui bahwa tari khas Bugis Makassar ini pernah berjaya di Pangkep. Saat ini kalau ada yang memesan alat musik Mandali, biasanya berasal pegiat seni tradisional yang Mandalinya rusak dan ingin diganti dengan yang baru,” ungkap Patahuddin.

Patahuddin bersama tiga orang tamunya,termasuk penulis saat mencoba alat musik tradisional buatannya (foto: subhan)
Patahuddin bersama tiga orang tamunya,termasuk penulis saat mencoba alat musik tradisional buatannya (foto: subhan)

Kini, Patahuddin berjuang sendiri mempertahankan eksistensi alat musik Mandali. Selain Mandali (lihat videonya DISINI), ia juga piawai membuat alat musik gambus. Mandali dan Gambus, termasuk Tennong-tennong yang biasanya dipadukan dalam setiap pertunjukan seni musik tradisionalnya bersama 12 orang kawannya yang tergabung dalam Orkes “Citra Sahabat”.

Selain di Pangkep, orkes musik tradisional yang digawanginya ini biasa tampil manggung di Kabupaten Gowa dan Barru. Diantara kawan-kawannya, hanya dia sendiri yang memiliki kemampuan memainkan berbagai alat musik tradisional sekaligus membuatnya. Untuk satu mandali’, dijualnya dengan kisaran harga antara Rp750.000,- sampai Rp1.000.000,- dan dari keahlian membuat alat musik tradisonal itulah, ia berharap bisa terus bertahan dan menghidupi keluarganya. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...