Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Bisakah Puisi Akrostik ditulis berdasar Istilah Budaya Bugis Makassar atau berdasar istilah/identitas suku lain di Nusantara? Jawabnya tentu bisa, dong. Justru disitulah salah satu tantangan kreatifitasnya. Ya, Puisi akrostik yang ditulis berdasarkan istilah budaya Bugis-Makassar memiliki nilai yang sangat khas karena memadukan unsur sastra, identitas lokal, filosofi hidup, dan pelestarian budaya. Puisi seperti ini bukan hanya indah secara estetika, tetapi juga menjadi media pewarisan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Budaya Bugis-Makassar sendiri kaya dengan istilah filosofis seperti: siri’ na pacce, lempu’, getteng, reso, sipakatau, sipakalebbi, sipakainge’, dan berbagai ungkapan adat lainnya. Ketika istilah-istilah tersebut dijadikan dasar dalam puisi akrostik, maka puisi menjadi lebih bermakna, beridentitas, dan bernilai budaya tinggi. Salah satu kelebihan Puisi Akrostik berdasar Istilah Budaya Bugis Makassar adalah Memunculkan Pemaknaan ulang akan identitas kultural.
Puisi biasa mungkin bersifat umum, tetapi puisi berbasis istilah budaya Bugis-Makassar langsung menunjukkan akar budaya penulisnya. Misalnya penggunaan istilah: siri’ (harga diri), pacce (empati dan solidaritas), reso (kerja keras), malebbi’ (kemuliaan akhlak). Istilah-istilah ini membuat puisi terasa khas dan tidak kehilangan jati diri lokal. Selain itu, dapat menjadi Media Pelestarian Budaya. Banyak istilah budaya daerah mulai jarang digunakan generasi muda. Puisi akrostik membantu: mengenalkan kembali istilah tradisional, menjaga kosakata budaya tetap hidup, memperkenalkan filosofi lokal dalam bentuk kreatif. Dengan demikian, sastra menjadi sarana pelestarian budaya, bukan sekadar hiburan.
Istilah Bugis-Makassar umumnya bukan sekadar kata, tetapi mengandung pandangan hidup. Contohnya: siri’ na pacce → menjaga kehormatan dan solidaritas, lempu’ → kejujuran, getteng → keteguhan prinsip, warani → keberanian, sipakatau → saling memanusiakan. Ketika dimasukkan ke dalam puisi, maknanya menjadi lebih mendalam dan reflektif.
Puisi budaya Bugis-Makassar sarat dengan nilai moral dan adab. Oleh karena itu, manfaatnya besar dalam pendidikan karakter, terutama bagi pelajar dan santri. Nilai yang dapat ditanamkan antara lain: hormat kepada orang tua, menjaga martabat, kerja keras, solidaritas sosial, kesantunan, keberanian, dan tanggung jawab. Puisi menjadi sarana pendidikan yang halus tetapi menyentuh.
Berikut ini salah satu contoh Puisi Akrostik “Etta Adil Ettanya Putri IMMIM Pangkep” ditulis berdasar Istilah Budaya Bugis Makassar.
Etta adalah peneguh siri’, menjaga martabat para santriwati,
Teduh laksana payung di musim hujan,
Tanpa pamrih menanamkan lempu’—kejujuran yang lurus,
Ajarannya berakar pada ade’ yang santun.
Adil dalam sikap, memegang teguh getteng pendirian,
Dalam setiap nasihat tersimpan reso—kerja keras tanpa lelah,
Ia memelihara sipakatau, memanusiakan setiap putri,
Lembut tutur katanya memancarkan warani yang bijak.
Etta menjadi teladan mappesona hati,
Tegas membangun pesse—empati yang menguatkan,
Tumbuhkan semangat mappakalebbi’ saling menghargai,
Anak-anak santri dirangkulnya penuh kasih.
Nafas perjuangannya adalah reso temmangingngi,
Yakin bahwa pendidikan adalah jalan malebbi’,
Amanah dijaga seperti pusaka leluhur.
Putri IMMIM dibimbingnya dengan sipakainge’—saling mengingatkan,
Untuk bangkit dengan sumange’ membara,
Tak gentar menghadapi tantangan zaman,
Ruh budaya ditanamkan agar tak tercerabut akar,
Ilmu dipadukan dengan adab dan siri’.
IMMIM menjadi rumah sipakalebbi’,
Menghidupkan nilai ade’ na rapang,
Menyemai generasi berprestasi,
Ikhtiar tanpa henti demi masa depan gemilang,
Menjadi kebanggaan Pangkep dan umat.
Pangkep menyimpan jejak baktinya,
Anak-anak tumbuh dalam pelindungan,
Nurani dipupuk dengan pesse dan kasih,
Gurindam budaya menyatu dalam pendidikan,
Keteguhan berpadu kelembutan,
Erat hubungan bak keluarga sendiri,
Penuh doa seorang ayah untuk putri-putrinya tercinta.
***
Puisi Akrostik ini setidaknya membantu pelajar muslim, santri, dan para penikmat puisi pada umumnya agar lebih mengenal budaya lokal, memahami istilah adat, meningkatkan kemampuan berbahasa, serta memperluas wawasan sejarah dan budaya Sulawesi Selatan. Ia dapat digunakan dalam pembelajaran muatan lokal, kegiatan literasi, lomba sastra, hingga pentas budaya sekolah. Selain itu, Puisi berbasis budaya lokal memperkaya dunia sastra Indonesia karena menghadirkan diksi etnik, metafora khas daerah, filosofi lokal, dan nuansa tradisional yang unik. Hal ini membuat karya lebih autentik dibanding puisi yang terlalu umum. Dampaknya, Generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui buku sejarah, tetapi juga melalui karya sastra yang menyentuh perasaan.
Puisi akrostik biasa hanya menonjolkan permainan huruf dan keindahan bahasa. Sedangkan puisi akrostik berdasar istilah budaya Bugis-Makassar memiliki beberapa lapisan makna, diantaranya estetika sastra, identitas budaya, pendidikan karakter, filosofi hidup, dan pelestarian tradisi. Karena itu, puisinya terasa lebih “hidup” dan memiliki ruh kebudayaan. Puisi akrostik berdasarkan istilah budaya Bugis-Makassar adalah bentuk sastra yang tidak hanya indah, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga identitas budaya dan media pendidikan karakter. Ia menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur dalam bahasa yang kreatif dan menyentuh.
Di tengah arus modernisasi, puisi semacam ini penting dikembangkan agar generasi muda tetap mengenal akar budayanya, falsafah hidup masyarakat Bugis-Makassar, serta nilai kemanusiaan yang diwariskan para leluhur Sulawesi Selatan. Salamakki Tapada Salama’. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Pangkep/Guru dan Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep.



