BerandaFeatureMy Life by Design

My Life by Design

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Minggu pertama Desember 2014, saya terjatuh dari motor. Saya tahu persis lokasi jatuh itu, tapi tidak tahu nama jalannya dan sudah berada di daerah mana. Yang pasti, celana panjang saya robek pada bagian lutut dan tangan kiri mengelupas.

Darah begitu banyak keluar. Tangan saya bergetar diluar kendali. Sangat sulit untuk bangkit dan kembali berkendara.

Beberapa warga berlarian hendak menolong, namun segera kutampik dan mencoba melajukan kembali motor yang juga bengkok pada bagian remnya.

Yang terbersit di benak pada saat itu, teman-teman di belakang saya tak boleh mengetahui kalau baru saja terjatuh dari motor. Malu tentunya, apatah lagi saya selalu gembar gembor sebagai pembalap tanpa tanding di jalur Tondong Tallasa.

Saya terlambat sadar bahwa jalanan beton puluhan meter di depan saya terhenti pengerjaannya dan menyisakan bengkalai sisa timbunan pada potongan jalanan beton berikutnya.

Saat tersadar, motor saya banting seketika ke kiri namun dalam laju cepat, nasib sial tak dapat dielakkan. Terjatuh dan terluka cukup parah.

Dalam laju motor yang kuperlambat, akhirnya sampai juga di Kelurahan Bontoa. Saya singgah di rumah seorang teman dekat, bernama Syahrir dan atas inisiatifnya, ia mengantarku ke Puskesmas terdekat.

Jelajah alam Bulu Tellue. (foto: ist)
Jelajah alam Bulu Tellue. (foto: ist)

My Life by Design

Minggu kedua Januari 2015, bekas luka terjatuh dari motor pada tangan dan kaki sudah tak nampak. Teman dekat, Syahrir di Bontoa menginformasikan bahwa Konsultan CSR PT. Semen Tonasa membuka lowongan kerja untuk tenaga pendamping desa.

Saat itu, saya memang lagi butuh tambahan pekerjaan setelah hengkang dari Kantor Bupati Pangkep sebagai staf humas.

Syahrir ini pula yang mengantar saya mengikuti tes wawancara ke Sekretariat CSR PT. Semen Tonasa yang saat itu berada di Mattampa Kecamatan Bungoro.

Minggu keempat, Januari 2015, saya terima pemberitahuan kelulusan sebagai Local Community Organizer (LCO), sebutan bagi pendamping desa di Bagian CSR PT. Semen Tonasa.

Ketika itu, saya mengetahui ada 9 desa/kelurahan dalam wilayah Ring 1 PT. Semen Tonasa (Taraweang, Biringere, Mangilu, Sapanang, Bontoa, Kalabbirang, Samalewa, Bowong Cindea, Bulu Cindea) dan 2 Desa baru tambahan, yaitu Desa Tabo-Tabo dan Bulu Tellue.

Karena ingin enjoy menikmati bidang pekerjaan baru itu, sehingga berharap dapat ditempatkan di Kelurahan Kalabbirang, karena dekat dari lokasi rumah di Biraeng Minasatene.

Siapa sangka, saya ditempatkan sebagai LCO di Desa Bulu Tellue. Saya ditakdirkan untuk mengenali ulang lokasi jatuh dari motor dua bulan sebelumnya. Lokasinya bernama Ba’lea, kampung pertama setelah melewati Desa Mangilu yang masuk dalam wilayah Desa Bulu Tellue, desa dampingan saya.

Bersama Kades Bulu Tellue, M. Husni (foto: ist)
Bersama Kades Bulu Tellue, M. Husni (foto: ist)

Thanks to Allah SWT for Everything

Selama di Bulu Tellue, banyak kegiatan yang terlaksana, yang sebelumnya menjadi kesepakatan bersama dengan Forum desa setempat.

Saya sebut “kesepakatan bersama” karena kegiatan yang terlaksana di desa tersebut murni inisiatif LCO bersama forum desa: Jelajah/wisata alam yang didahului dengan pembentukan “Bulu Tellue Adventure”, Kelas Inspirasi, Festival Anak Saleh, Bakti Sosial, Kelas Menulis/LCO Mengajar, dan lain sebagainya yang pembiayaannya bersifat swadaya.

Dana CSR sendiri dari perusahaan nanti cair di akhir Bulan Agustus tahun berjalan. Suatu kesyukuran bahwa forum desa setempat yang dibentuk secara musyawarah setelah saya ditempatkan di desa itu, cukup gesit menyelesaikan program RKAPM-nya dengan baik.

Setahun berstatus pendamping desa di Bulu Tellue, terasa ada yang hilang. Saya yang dahulunya dikenal sebagai pegiat budaya, tiba-tiba saja “brand” yang tercipta dan dilekatkan pada saya: pegiat desa.

Status di akun media sosial penuh foto kegiatan di desa, yang sebelumnya dipenuhi foto kegiatan budaya, seni, dan sastra. Saat saya memikirkan hal ini, Januari 2016 ada pergiliran dan penambahan lokasi desa dampingan, dan saya mendapatkan jatah untuk membenahi Desa Biringere.

Desa Biringere ini adalah desa yang unik, desa yang sudah lama saya mengenalnya  sebagai “desa budaya”. Akh, ini akan menjadi menarik lagi, Pegiat budaya ditempatkan di “Desa Budaya”!

Saya ditakdirkan untuk bertemu dan menjalin kemesraan kembali dengan A.Simpuang Ago, Tokoh adat di Desa Biringere tersebut, seorang tokoh penting yang pernah hadir dengan hikmat bersama tokoh masyarakat lainnya dalam suatu Seminar Sejarah dan Kebudayaan Pangkep dimana saya sebagai pematerinya di Gedung Kesenian Mattampa, Bungoro.

Bersama Tokoh Adat Biringere, AS Simpuang Ago (foto: ist)
Bersama Tokoh Adat Biringere, AS Simpuang Ago (foto: ist)

Desember 2015, saya menyelesaikan buku “Profil Seni Tradisional di Pangkep” dan Januari 2016, setelah bertugas sebagai LCO di Biringere, saya menyerahkan buku itu ke Simpuang Ago, yang juga merupakan tokoh pelestari seni tradisi. Beberapa seni tradisi yang hidup di Biringere, ada saya sebutkan dalam buku tersebut.

Dan di tahun ketiga, Tahun 2017 ini sebagai LCO CSR PT. Semen Tonasa, saya mendapatkan amanah baru: ditempatkan di Kelurahan Kalabbirang. Lokasi yang memang saya inginkan sejak pertama diterima sebagai LCO.

Entah kenapa saya menginginkan Kalabbirang sejak pertama masuk? Mungkin karena rindu berdiskusi dengan Tuan Guru Pakkai (Ketua Fordes Kalabbirang), sohib saya waktu kami sama-sama bertugas sebagai Panitia Pemilu di tingkat PPK Minasatene.

Tanyakanlah pada dirimu, adakah skenario Tuhan atas segala yang terjadi dalam hidupmu? Adakah hidup kita by design dan kita hanya tinggal menjalaninya? Bersyukurlah dan ucapkan “Thanks to Allah SWT for everything. (*)

 

(* Etta Adil, LCO CSR PT. Semen Tonasa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT