Sekilas Sejarah Bulu Tellue

by Penulis Palontaraq | Selasa, Jun 27, 2017 | 1347 views
Pemandangan gunung dan persawahan di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Pemandangan gunung dan persawahan di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Oleh:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – SECARA harfiah, penyebutan “Bulu Tellue” (Bahasa Bugis) berarti gunung tiga atau gunung yang tiga atau tiga gunung. Bulu artinya gunung sedang Tellue berarti tiga atau yang tiga.

Penyebutan Bulu Tellue ini bisa diasumsikan bahwa ada terdapat tiga gunung, namun dalam konteks khazanah kearifan lokal Bugis Makassar, bisa juga “gunung” yang dimaksudkan adalah kepemimpinan, dalam konteks penguasa lokal digelari dengan sebutan “Lo’mo”.

Persawahan di Buknea, Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Persawahan di Buknea, Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Infrastuktur jalan desa dan kawasan persawahan di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Infrastuktur jalan desa dan kawasan persawahan di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Bulu Tellue yang penulis maksudkan disini adalah Bulu Tellue sebagai salah satu desa dalam lingkup wilayah Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pangkep. Desa ini luasnya sekitar 16,25 km2 dengan ketinggian wilayah 171 mdpl.

Lihat juga: Sekilas Sejarah dan Budaya Biringere

Desa Bulu Tellue pada sebelah utaranya berbatasan dengan Desa Bulo-bulo Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru, sebelah timurnya berbatasan dengan Kampung Sero Desa Malaka Kecamatan Tondong Tallasa, sebelah selatannya berbatasan dengan Bakka Kelurahan Bontoa Kecamatan Minasatene, dan sebelah baratnya berbatasan dengan Desa Mangilu Kecamatan Bungoro.

Untuk mencapai Desa Bulu Tellue dapat ditempuh jarak sekitar 19 km dari Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep, melalui sebelah selatan jalanan Kantor Pusat PT. Semen Tonasa, pabrik semen terbesar di Indonesia Timur.

Kantor Desa Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Kantor Desa Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Berdasarkan data kependudukan terakhir, yaitu pada Tahun 2015, Desa Bulu Tellue berpenduduk sekitar 2082 jiwa atau 630 KK yang secara administratif terbagi atas 2 dusun, yaitu Dusun Kantisang dan Dusun Libureng, dan 6 kampung, yaitu Kampung Ba’lea, Kantisang, Bulukumba, Libureng, Buknea, dan Janna Labbu.

Sebagaimana desa-desa lainnya di Tondong Tallasa, Bulu Tellue pun mempunyai iklim tropis. Warga Desa Bulu Tellue menggantungkan penghidupannya dari lahan pertanian, perkebunan dan kehutanan dari dua musim, hujan dan kemarau.

Infrastruktur jalan desa di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Infrastruktur jalan desa di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Kawasan persawahan menyatu dengan perbukitan di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Kawasan persawahan menyatu dengan perbukitan di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Dari sumber penulis, Bohang (55 Tahun), T. Dg Maroa (68 Tahun), Muhammad Yunus (55), dan Pani (56), dari narasi tutur yang diterimanya secara turun temurun, dikisahkannya bahwa pada awalnya Bulu Tellue adalah sebuah kampung kecil yang dikelilingi hutan belantara.

Lihat juga: Sekilas Sejarah dan Budaya Tabo-tabo

Pada mulanya merupakan bagian dari Ondefafdeeling Bungoro (sekarang Kecamatan Bungoro) dan masih belum mempunyai nama. Dalam Tahun 1870, dikisahkan seorang pencuri yang malang melintang di wilayah Bungoro dan tak ada seorangpun yang mampu menandingi dan menangkapnya.

Pencuri itu diyakini sakti, tidak menpan senjata tajam, dan sepak terjangnya sudah sangat meresahkan warga. Akhirnya Karaeng Bungoro ketika itu mengeluarkan maklumat bahwa siapa saja yang dapat menangkap pencuri itu akan diberikan hadiah berupa wilayah-tanah.

Penulis bersama Kepala Desa Bulu Tellue, M. Husni (foto: haspar)

Penulis bersama Kepala Desa Bulu Tellue, M. Husni (foto: haspar)

Dari sayembara itu, akhirnya muncullah Lala Pua Pallaso, seorang warga setempat yang dikenal sakti dan terbukti berhasil menangkap pencuri yang meresahkan Warga Bungoro tersebut.

Sesuai janji Karaeng Bungoro, maka Lala Pua Pallaso kemudian diberikan wilayah-tanah di sebelah timur Bungoro, yang dalam Tahun 1875, diangkat dan dikukuhkan kedudukannya sebagai Lo’mo Tondong pada wilayah yang sekarang bernama Bulu Tellue. Lala Pua Pallaso memerintah selama 10 tahun dan setelahnya digantikan oleh kerabatnya sendiri, Laimun Pua Sitta dalam Tahun 1885.

Mangilu - jalanan menuju Desa Bulu Tellue di sebelah timur Desa Mangilu. (foto: mfaridwm)

Mangilu – jalanan menuju Desa Bulu Tellue di sebelah timur Desa Mangilu. (foto: mfaridwm)

Di tahun kelima belas memerintah, Lo’mo Tondong Laimun Pua Sitta jatuh sakit hingga akhirnya mengundang semua sesepuh warga untuk bermusyawarah tentang siapa penggantinya. Akhirnya terpilihlah anak kandungnya sendiri bernama Sitta sebagai Lo’mo ketiga dan memerintah dengan baik selama dua tahun, sebelum masuknya serdadu Belanda ke wilayah kekuasaan Lo’mo Tondong. Lo’mo Sitta mengundurkan diri karena tak tahan pengaruh adu domba Belanda dan menyerahkan sepenuhnya kepada para tokoh adat untuk memilih penggantinya.

Para tokoh adat Tondong kemudian meminta Katto Lo’mo Buung agar bersedia mengambil alih kekuasaan wilayah Lo’mo Tondong. Akhirnya Katto Lo’mo Buung dalam Tahun 1910 diangkat menjadi Lo’mo Tondong dan diberi gelar “Senggolang Lo’mo Janggo”.

Di masa kekuasaannya Lo’mo Janggo sebagai Lo’mo Tondong, pemerintahannya diakui dan warga mendapatkan perlindungan dan kesejahteraan dengan baik, sekalipun ketika itu serdadu Belanda sudah mulai menancapkan pengaruhnya.

Peta Desa Bulu Tellue. (foto: mfaridwm/ist)

Peta Desa Bulu Tellue. (foto: mfaridwm/ist)

Pengaruh kekuasaan Lo’mo Janggo kian melebar dan diakui oleh Karaeng Bungoro. Perluasan wilayahpun dilakukannya untuk tanah permukiman dan bercocok tanam. Hutan dirambah dan dibabat sampai jauh ke selatan Sungai Bawa Allu untuk dijadikan permukiman dan lahan berkebun warga, sampai daerah yang banyak pepohonan kajuara dan tirolo.

Saat itu terlihat tiga gunung yang menonjol, yaitu Janna Labbu, Buknea dan Tondongan, sehingga muncullah sebutan “Bulu Tellue”, yang artinya gunung tiga, yang mana pada tiap wilayah pegunungan itu juga diangkat seorang lo’mo (palili) untuk memerintah.

Dalam Tahun 1950, Senggolang Lo’mo Janggo digantikan oleh menantunya, Lo’mo Cice sebagai Lo’mo Tondong. Era pemerintahan Lo’mo Cice (1950-1965) mengakhiri pemerintahan kekaraengan dengan gelar Lo’mo Tondong. Dalam Tahun 1965, Lo’mo Cice digantikan oleh Nompo Ali, dan sejak saat itu Bulu Tellue mulai dikenal sebagai nama desa.

Dalam Tahun 1970, Nompo Ali digantikan oleh Mustafa Daeng Limpo, memerintah dari Tahun 1970-1978, kemudian digantikan oleh Junta Daeng Situjuh yang memerintah dari Tahun 1978-1985.

Pada Tahun 1985, H. Hanaping MS diangkat menjadi Kepala Desa di Bulu Tellue dan perkembangan wilayah ini kemudian semakin pesat dengan masuknya perusahaan tambang marmer dan silika, sejak itu pula diperkenalkan perluasan sawah dan penggilingan padi gabah untuk meningkatkan produksi pertanian.

Lahan pertanian dan tiga puncak gunung di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Lahan pertanian dan tiga puncak gunung di Bulu Tellue. (foto: mfaridwm)

Seiring pemekaran wilayah Kecamatan pada Tahun 2000 dengan terbentuknya Kecamatan Tondong Tallasa yang sebagian wilayahnya adalah bekas wilayah kecamatan Balocci dan Bungoro, maka sejak itu pula dimekarkan tersendiri satu wilayah Desa Bulu Tellue sebagai salah satu desa dalam lingkup wilayah pemerintahan Kecamatan Tondong Tallasa.

Di era otonomi daerah ini, Muhammad Yusri, SE kemudian terpilih menjadi kepala desa sejak Tahun 2008 menggantikan Pjs Kepala Desa H. Marawiah Razak (2007-2008) yang menggantikan Kepala Desa H. Hanaping MS (1985-2007). Saat ini kepala Desa Bulu Tellue dijabat oleh Muhammad Husni, sejak Tahun 2014 sampai sekarang. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response