Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Apa itu Herbalogi? Ya, istilah etnoherbalogi pernah digunakan, meskipun tidak sepopuler istilah seperti etnobotani atau etnomedisin. Kata ini bersifat gabungan dari “etno–” (budaya/masyarakat) dan “herbalogi” (ilmu tentang tanaman obat/herbal).
Etnoherbalogi adalah kajian tentang pengetahuan dan praktik masyarakat tradisional dalam mengenal, meramu, dan menggunakan tanaman obat berdasarkan warisan budaya lokal. Fokusnya bukan hanya pada tanamannya, tetapi juga pada nilai budaya di balik penggunaannya, cara pewarisan ilmunya (lisan, keluarga, tabib, dukun, orang tua), serta konteks ritual atau kebiasaan sosial yang menyertainya.
Secara akademik, istilah yang lebih sering dipakai sebenarnya adalah Etnobotani yang fokus studinya tentang hubungan manusia dan tumbuhan secara umum, dan Etnomedisin yang mempelajari praktik pengobatan tradisional masyarakat. Etnoherbalogi bisa dianggap irisan khusus dari keduanya yang menitikberatkan pada tanaman obat herbal.
Bagaimana Praktiknya? Praktik etnoherbalogi biasanya muncul dalam bentuk pendokumentasian dan pemanfaatan kearifan lokal tanaman obat, misalnya: Inventarisasi Tanaman Lokal, terkait pencatatan jenis tumbuhan yang dipercaya masyarakat bermanfaat untuk kesehatan, nama lokalnya, bagian yang dipakai (daun, akar, kulit batang), dan musim panennya.
Begitu pula dengan Cara Peracikan Tradisional, dimana mempelajari teknik turun-temurun seperti direbus, ditumbuk, diseduh, atau dioles. Yang ditekankan adalah proses budaya dan kebiasaan, bukan sekadar resepnya. Beberapa ramuan digunakan bersamaan dengan doa, pantangan makanan tertentu, atau waktu khusus. Ini menjadi bagian penting kajian etno karena menunjukkan makna simbolik dan kepercayaan masyarakat.
Dalam prakteknya, terkait Pendidikan dan Pelestarian, etnoherbalogi ini sebenarnya bisa dikembangkan di sekolah, pesantren, atau lingkungan akademik lainnya. Praktiknya bisa berupa kebun tanaman obat keluarga, proyek literasi budaya tentang tumbuhan lokal, serta wawancara dengan tokoh masyarakat/ orang tua tentang pengetahuan herbal.
Etnoherbalogi bisa dikolaborasikan dengan Sains Modern, dimana pengetahuan lokal didialogkan dengan ilmu sains modern untuk memastikan keamanan, memahami kandungan zat alami, dan menghindari kesalahpahaman penggunaan.
Jadi, Inti Nilai Etnoherbalogi disini sebenarnya melingkupi Pelestarian budaya dan pengetahuan leluhur, Penghargaan terhadap alam dan lingkungan, Penguatan identitas lokal dalam ilmu kesehatan tradisional, dan jembatan antara tradisi dan sains modern. Singkatnya, etnoherbalogi bukan sekadar “obat herbal”, tetapi cerita budaya di balik tanaman obat itu sendiri—tentang bagaimana masyarakat mengenal alamnya, merawat kesehatan, dan mewariskan kebijaksanaan dari generasi ke generasi. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Praktisi Thibbun Nabawi (Pengobatan Bekam, Ruqyah, dan Herbal)/Guru dan Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.


