BerandaBeritaDaerahWisata Sejarah ke Benteng Sombaopu

Wisata Sejarah ke Benteng Sombaopu

Oleh: M. Farid W Makkulau *)

Related Post:  Menelusuri Sejarah Makassar di Fort Rotterdam

PALONTARAQ.ID – Benteng Sombaopu adalah benteng peninggalan Kerajaan Gowa yang dibangun di Abad XVI, diperkirakan pada Tahun 1525, pada masa kekuasaan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna.

Benteng Sombaopu berada di sepanjang daerah pesisir pantai bagian selatan Kota Makassar. Berbeda halnya dengan Fort Rotterdam yang berada dalam wilayah administratif Kota Makassar, Benteng Sombaopu ini berada di wilayah Kabupaten Gowa yang berbatasan dengan wilayah Kota Makassar.

Raja Gowa ke-9, Karaeng Tumapakrisika Kallonna adalah peletak dasar modernisasi kerajaan. Di masa kekuasaannya, Gowa mulai aktif melakukan politik ekspansi perluasan wilayah, mulai dibangun benteng dan pelabuhan, penataan militer serta hubungan kerjasama dengan negara lain.

Kehadiran Benteng Sombaopu dengan bandar pelabuhannya semakin populer dan ramai dikunjungi para pedagang dari sebelah barat kepulauan nusantara, bahkan dari China dan Eropah. Bandar Pelabuhan Sombaopu ketika itu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah, kain, keramik, dan lain sebagainya.

Bekas dan Sisa Reruntuhan Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Bekas dan Sisa Reruntuhan Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di sisi Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di sisi Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Bercermin dari Sejarah

Kemajuan pesat Pelabuhan Sombaopu, secara ekonomi berdampak terhadap penurunan pengaruh politik dan kehancuran perdagangan Pelabuhan Kerajaan Siang yang berada di sebelah baratnya, disamping juga karena pengaruh pengendapan yang terus menerus terjadi selama 800 tahun, yang berujung pada matinya Pelabuhan Siang.

Pembangunan Benteng Sombaopu dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Gowa ke-10, Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada Tahun 1545, Raja Gowa ke-10 ini memperkuat struktur dinding benteng dengan batu padas.

Pada masa kekuasaan Raja Gowa ke-12, Karaeng Tunijallo, Benteng Sombaopu mulai dipersenjatai dengan meriam-meriam berkaliber berat pada setiap sudut bastion. Benteng yang memiliki luas 113.590 meter persegi ini diapit diantara dua sungai, yaitu Sungai Balang Baru dan Sungai Jene’berang.

Para pengunjung foto bersama di depan Baruga Sombaopu dalam Kompleks Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Para pengunjung foto bersama di depan Baruga Sombaopu dalam Kompleks Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Baruga Sombaopu dalam Kompleks Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Baruga Sombaopu dalam Kompleks Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)

Benteng Sombaopu Tak Terawat

Sebagai sebuah kawasan Peninggalan sejarah, seharusnya benteng yang menjadi saksi supremasi kekuasaan Kerajaan Gowa ini dirawat dan ditata lebih baik, bukan hanya untuk kepentingan wisata, tetapi lebih kepada memberikan kenikmatan ruang pembelajaran sejarah.

Kenyataan yang terlihat, masih jauh dari harapan itu. Meski di dalam kawasan ini sudah didirikan banyak cagar budaya berupa berbagai bentuk rumah adat Kabupaten di berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, sayangnya jarak dari satu rumah adat dengan rumah adat lainnya berjauhan, tanpa ada penghubung ruang deskripsi sejarah dan ruang terbuka hijau.

Panas - Seharusnya ada Taman dan Ruang Terbuka Hijau yang cukup sebagai ruang diskusi dan belajar sejarah. (foto: ist/palontaraq)
Panas – Seharusnya ada Taman dan Ruang Terbuka Hijau yang cukup sebagai ruang diskusi dan belajar sejarah. (foto: ist/palontaraq)
Penulis saat mengantar Pelajar/Santri Studi Wisata Sejaran ke Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Penulis saat mengantar Pelajar/Santri Studi Wisata Sejaran ke Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Mengunjungi Museum Karaeng Pattingaloang dalam Kompleks Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)
Mengunjungi Museum Karaeng Pattingaloang dalam Kompleks Benteng Sombaopu. (foto: ist/palontaraq)

Dalam kompleks Benteng Sombaopu, terdapat Museum Karaeng Pattingaloang. Sayangnya pihak pengelola dan khususnya pemerintah daerah setempat masih sangat kurang memberikan kelengkapan fasilitas dan isi museum yang masih sangat terbatas.

Hal ini sangat kontras dengan kebesaran nama Karaeng Pattingaloang, yang harusnya dibarengi dengan upaya pencarian data dan bukti historis tentangnya, termasuk diantaranya seharusnya ada Perpustakaan atau Taman Baca Sejarah didalamnya.

Kehadiran Museum Karaeng Pattingaloang juga seharusnya dibaca sebagai upaya bersama meningkatkan minat baca, mengembangkan literasi dan kemampuan berbahasa, mengingat Karaeng Pattingaloang dikenal sebagai cendekiawan, ilmuwan, yang melampaui zamannya, serta menguasai banyak bahasa asing.

Setiap hari, Benteng Sombaopu cukup ramai dikunjungi para mahasiswa yang melakukan berbagai kegiatan orientasi kemahasiswaan. Sayangnya hal ini tak dibaca pihak pengelola dan pemerintah setempat untuk menyiapkan fasilitas dan ruang terbuka hijau yang nyaman bagi penikmat wisata sejarah.

Lihat pula:  Asal Usul Perubahan Nama Makassar dan Ujungpandang (2)

Jalan menuju Benteng Sombaopu

Benteng Sombaopu ini terletak di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Benteng SombaOpu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Untuk sampai ke Benteng Somba Opu, pengunjung harus melewati jembatan besi yang panjang yang melintang diatas Sungai Jene’berang. Setelah melewati jembatan besi yang dapat dilewati dua arus kendaraan roda empat ini, pengunjung akan mendapatkan petunjuk arah menuju Benteng Sombaopu.

Di tengah perjalanan, petugas Benteng Somba Opu akan meminta retribusi sebesar Rp 3.000 per pengunjung. Namun, sebelum itu, pengunjung akan menjumpai sebuah tempat permandian dan kebun binatang “Gowa Discovery Park” yang diserahkan pengelolaannya kepada pihak swasta di masa pemerintahan Gubernur Syahrul Yasin Limpo.

Ketika memasuki kawasan Benteng Somba Opu, jalanan terbuat dari batako tampak mulai rusak dan bahkan ada yang berkubang. Selain itu, terdapat beberapa rumah adat yang menjadi cagar budaya mulai rusak dimakan usia tidak kurang mendapat perhatian.

Meski perawatan dan pemeliharaan di bawah pemerintah, terdapat juga pungutan retribusi maupun sewa rumah adat untuk digunakan berbagai kegiatan.

Kondisi Benteng Somba Opu dan rumah adat yang tidak mendapat perhatian dan perawatan. Sangat disayangkan jika benteng yang ditemukan kembali pada Tahun 1980-an ini oleh beberapa ilmuwan dan sejarawan yang datang ke tempat itu tak dirawat sebagaimana mestinya sesuai dengan kebesaran sejarah yang pernah disandangnya.

Upaya rekonstruksi Benteng Sombaopu ini memang memerlukan biaya yang tak sedikit, sejak dimulainya pada Tahun 1990-an. Meski begitu pengelolaannya harus berkearifan lokal dengan penonjolan sejarah sebagaimana adanya sebagai upaya mengenali wajah sejarah dan penghargaan terhadap kawasan peninggalan sejarah. (*)

 

(* M. Farid W Makkulau, Pimred ettapedia.org/Pemerhati Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT