BerandaLiterasiPuisi: Jejak Ushul Fiqih Mufidah

Puisi: Jejak Ushul Fiqih Mufidah

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Mufidah Nurul Haq Suardi” ini menekankan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak hanya tentang kecerdasan, tetapi juga tentang niat yang lurus, akhlak yang baik, dan kemampuan beradaptasi. Kaidah Ushul Fiqih dijadikan simbol cara berpikir yang terarah—menimbang dalil, memilih maslahat, serta menghargai perbedaan.

Jejak Ushul Fiqih Mufidah

Memulai niat seperti al-umûr bi maqâshidihâ — segala amal berakar tujuan,
Untai doa dari Enrekang mengiringi langkah penuh kesungguhan,
Fikiran jernih bak qiyâs yang tajam menemukan kesesuaian,
Indah akhlaknya menjadi ijmâ’ kebaikan di lingkungan pertemanan,
Dalam belajar ia tekun, laksana dalîl yang kokoh pegangan,
Adaptif seperti istihsân, memilih cara terbaik dalam pergaulan,
Hati lembutnya menghadirkan maslahat di setiap perjumpaan.

Nur keilmuan terpancar bagai nash yang terang maknanya,
Usahanya konsisten seperti qaidah kulliyyah yang luas hikmahnya,
Ragam teman dirangkul tanpa memandang latar budayanya,
Ukhuwah dijaga seperti ‘urf yang baik dalam adat mulianya,
Langkahnya mantap, cerdas dan santun menjadi ciri pribadinya.

Hikmah dipetik dari tiap perbedaan sebagai maslahah mursalah,
Akal dan adab bersatu laksana dalil dan istinbath yang terarah,
Qalbunya bersih, menimbang sikap dengan adil dan bijaksana.

Sosok santun yang mudah mengakrabi siapa saja,
Unggul dalam belajar tanpa meninggi diri di hadapan sesama,
Aura kecantikan terpancar dari ilmu dan akhlaknya,
Rajin menuntut ilmu bagai peneliti dalil yang tak pernah lelah,
Damai hadirnya menyatukan perbedaan sosial dan budaya,
InsyaAllah menjadi santriwati berilmu, beradab, dan membawa cahaya.

***

Puisi ini menggambarkan sosok Mufidah Nurul Haq Suardi sebagai santriwati yang menapaki ilmu seperti menelusuri kaidah Ushul Fiqih—berniat lurus, berpikir jernih, memilih yang maslahat, serta mampu merangkul keberagaman dengan akhlak yang indah.

Pesan utamanya ialah: (1) Ilmu dan adab harus berjalan seimbang, karena kecantikan sejati terpancar dari keduanya. (2) Keberagaman latar belakang teman bukan penghalang, melainkan ruang belajar untuk saling memahami. (3) Ketekunan dan kecerdasan akan mengangkat derajat seseorang bila disertai kerendahan hati.

Intinya, Niat yang benar menjadi fondasi setiap langkah menuju keberhasilan. Seperti Ushul Fiqih yang menjadi dasar pengambilan hukum, kehidupan pun membutuhkan dasar nilai dan prinsip agar seseorang tumbuh menjadi pribadi berilmu, bijak, dan membawa manfaat bagi sekitarnya. (*)

Minasatene-Pangkep, 29 Desember 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT