Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Setiap kali bulan Agustus tiba, ruang-ruang publik kembali dihiasi merah putih. Jalanan dipenuhi umbul-umbul, kantor-kantor memasang dekorasi, dan panggung-panggung hiburan mulai berdiri di berbagai sudut kota hingga pelosok desa.
Semarak peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali makna kemerdekaan, mengenang pengorbanan para pendiri bangsa, serta memperkuat rasa cinta tanah air, persatuan, dan nasionalisme.
Namun, di tengah gegap gempita itu, terselip kegelisahan yang sulit diabaikan.
Sebagai seorang pemerhati budaya, saya melihat ada perubahan orientasi dalam memaknai perayaan kemerdekaan. Tidak sedikit kegiatan yang difasilitasi pemerintah, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, justru lebih menonjolkan aspek hiburan daripada pendidikan kebangsaan.
Panggung-panggung megah dipenuhi pertunjukan yang lebih mengedepankan sensasi, popularitas, dan euforia sesaat. Musik yang dimainkan sering kali tidak memiliki keterkaitan dengan semangat perjuangan bangsa, sementara unsur budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat justru semakin jarang mendapat tempat.
Padahal, Indonesia dibangun di atas keberagaman budaya. Tari tradisional, musik daerah, teater rakyat, sastra lisan, permainan tradisional, hingga berbagai ritual adat bukan sekadar tontonan. Di dalamnya tersimpan nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, kebersamaan, keberanian, serta kecintaan kepada tanah kelahiran.
Nilai-nilai itulah yang semestinya diwariskan kepada generasi muda melalui momentum peringatan kemerdekaan.
Ironisnya, budaya daerah perlahan seolah menjadi pelengkap acara, bahkan dalam beberapa kesempatan nyaris tidak terlihat sama sekali. Panggung-panggung yang dibangun dengan biaya yang tidak sedikit lebih sering diisi hiburan yang bersifat populer tanpa narasi kebangsaan yang kuat.
Ukuran keberhasilan sebuah perayaan terkadang hanya diukur dari ramainya penonton, kemeriahan konser, atau banyaknya artis yang hadir, bukan dari sejauh mana masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang arti kemerdekaan.
Tentu saja hiburan bukan sesuatu yang keliru. Rakyat berhak bergembira merayakan kemerdekaan. Namun, ketika hiburan kehilangan ruh edukasi dan nilai kebangsaan, maka perayaan itu berpotensi berubah menjadi seremoni yang hampa makna.
Kemerdekaan yang diperoleh melalui pengorbanan jiwa dan raga para pahlawan tidak sepatutnya diperingati hanya dengan pesta yang berakhir menjadi rutinitas tahunan tanpa pesan yang membekas.
Lebih memprihatinkan lagi apabila anggaran publik yang dialokasikan untuk kegiatan tersebut tidak memberikan manfaat jangka panjang bagi penguatan karakter masyarakat.
Dana yang berasal dari rakyat seyogyaanya dikelola secara bijaksana untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik, menginspirasi, dan memperkuat identitas bangsa. Transparansi, efektivitas, dan orientasi pada kemanfaatan publik menjadi prinsip penting dalam penyelenggaraan setiap kegiatan.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menghadirkan pesta yang meriah, melainkan bangsa yang mampu menjaga ingatan kolektifnya. Ingatan tentang sejarah perjuangan, tentang nilai persatuan, tentang keberagaman budaya yang menjadi perekat Nusantara.
Ketika budaya lokal semakin terpinggirkan di rumahnya sendiri, sesungguhnya yang sedang memudar bukan sekadar sebuah kesenian, melainkan sebagian dari identitas kebangsaan kita.
Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia semestinya menjadi panggung bagi kebudayaan Indonesia. Sanggar-sanggar seni daerah perlu diberi ruang yang lebih luas. Pelajar dapat dilibatkan dalam pembacaan teks sejarah, pementasan drama perjuangan, pembacaan puisi patriotik, pertunjukan musik tradisional, festival permainan rakyat, hingga pameran warisan budaya lokal.
Dengan demikian, kemeriahan yang tercipta tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga tentang menentukan arah masa depan. Jika peringatan kemerdekaan semakin menjauh dari nilai-nilai kebudayaan, nasionalisme, dan pendidikan karakter, maka kita patut bertanya: apakah yang sedang kita rayakan hanya sebuah tanggal dalam kalender, ataukah benar-benar semangat yang melahirkan republik ini?
Sudah saatnya perayaan kemerdekaan dikembalikan kepada ruhnya. Menjadikan kebudayaan sebagai napas utama, menjadikan seni sebagai media pendidikan kebangsaan, dan menjadikan setiap panggung sebagai ruang untuk memperkuat persatuan Indonesia.
Sebab, bangsa yang kehilangan kebudayaannya akan kesulitan menjaga jati dirinya, dan bangsa yang melupakan jati dirinya akan mudah kehilangan arah dalam perjalanan sejarah. (*)
(* Etta Adil, Blogger dan Pemerhati Budaya


