BerandaLiterasiContoh Teks Pidato Tuan Rumah Penyelenggara Acara Budaya

Contoh Teks Pidato Tuan Rumah Penyelenggara Acara Budaya

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Sebagai penulis artikel dan esai budaya, serta seringkali diundang sebagai pembicara seminar budaya, beberapa pegiat budaya, khususnya di Kabupaten Pangkep, kadang meminta tolong untuk dibuatkan Teks “Pidato Budaya” dalam kapasitas dirinya sebagai Tuan Penyelenggara Acara Budaya.

Berikut ini contoh Teks Pidato singkat bagi Tuan Rumah Penyelenggara Acara Budaya. Silakan disesuaikan dengan konteks acara, tamu undangan, dan pesan khusus yang ingin disampaikan.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat Bapak Bupati Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Yang saya hormati Bapak Wakil Bupati Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.

Yang saya hormati Bapak Direktur Utama PT Semen Tonasa beserta seluruh jajaran.

Yang saya hormati Ketua DPRD Kabupaten Pangkep beserta anggota.

Yang saya hormati unsur Forkopimda Kabupaten Pangkep.

Yang saya hormati para pimpinan instansi vertikal, kepala perangkat daerah, camat, lurah, dan kepala desa.

Yang saya hormati para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, para sesepuh, serta seluruh rumpun keluarga Borong Untia (Rumpun Keluarga Puang Ago).

Serta seluruh tamu undangan yang berbahagia dan kami muliakan.

Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya, pada hari yang penuh kebahagiaan ini kita masih diberi kesehatan, kesempatan, dan umur yang berkah sehingga dapat berkumpul dalam acara budaya yang sarat dengan nilai persaudaraan dan pelestarian warisan leluhur.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Atas nama Rumpun Keluarga Borong Untia, izinkan kami menyampaikan ucapan selamat datang dan selamat bersilaturahmi kepada seluruh tamu undangan yang telah berkenan memenuhi undangan kami. Kehadiran Bapak, Ibu, serta seluruh hadirin merupakan kehormatan yang sangat besar bagi keluarga kami. Semoga langkah yang mengantarkan kita ke tempat ini menjadi amal kebaikan yang dicatat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bapak, Ibu, dan hadirin yang kami hormati.

Budaya bukan sekadar pakaian adat, tarian, musik tradisional, atau upacara seremonial. Budaya adalah jati diri. Budaya adalah cara kita menghormati orang tua, menyayangi sesama, menjaga amanah, menghargai tetangga, serta merawat hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya.

Orang-orang tua kita dahulu telah mewariskan nilai-nilai luhur yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Makassar.

Mereka berpesan:

“Sipakatau, sipakainga’, sipakalabbiri’.”

Artinya, saling memanusiakan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling memuliakan satu sama lain.

Inilah fondasi kehidupan bermasyarakat yang harus terus kita jaga.

Orang tua kita juga mengajarkan:

“Aja’ muallengi tau, na aja’ tongi nuallengi ada’.”

Jangan meremehkan manusia, dan jangan pula meremehkan adat serta nilai-nilai yang diwariskan leluhur.

Karena seseorang yang kehilangan adab akan kehilangan kehormatannya.

Dalam petuah orang Makassar juga dikenal ungkapan:

“Resopa temmangingi namalomo naletei pammase Dewata.”

Kerja keras yang tidak mengenal lelah akan mengundang rahmat dan pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pesan ini mengajarkan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh kekayaan alam, tetapi juga oleh masyarakat yang rajin bekerja, jujur, dan saling membantu.

Hadirin yang kami hormati.

Hari ini bukan sekadar pertemuan keluarga atau kegiatan budaya. Hari ini adalah ikhtiar kita menyambung mata rantai sejarah, agar anak cucu kita kelak tetap mengenal akar budayanya.

Jangan sampai generasi kita hanya mengenal budaya melalui gambar dan media sosial, tetapi tidak lagi memahami makna persaudaraan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, serta kecintaan terhadap kampung halamannya.

Sebab orang Makassar juga mengenal petuah:

“Punna tena siri’, tena ngaseng battuanna tau.”

Apabila seseorang telah kehilangan rasa malu dan harga diri, maka hilang pula kemuliaan sebagai manusia.

Siri’ bukan sekadar rasa malu, tetapi harga diri yang dijaga dengan kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak yang baik.

Oleh karena itu, melalui kegiatan budaya ini marilah kita terus mempererat tali persaudaraan, memperkokoh persatuan, merawat adat istiadat, menjaga bahasa daerah, melestarikan seni budaya, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

Mari kita jadikan budaya sebagai perekat kebhinekaan, bukan sebagai pembeda. Sebagai sumber inspirasi, bukan sekadar nostalgia.

Semoga silaturahmi yang terjalin pada hari ini menjadi kekuatan untuk bersama-sama membangun Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yang semakin maju, harmonis, berbudaya, dan bermartabat.

Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam penyambutan, pelayanan, maupun penyelenggaraan acara ini masih terdapat kekurangan. Kami menyadari bahwa sebagai tuan rumah tentu masih banyak hal yang belum dapat kami lakukan dengan sempurna.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua, mempersatukan hati kita dalam persaudaraan, melimpahkan kesehatan, rezeki yang halal dan berkah, serta menjadikan budaya sebagai cahaya yang terus menerangi perjalanan generasi yang akan datang.

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Wabillahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

***

Demikian contoh Teks Pidato bagi Tuan Rumah Penyelenggara Acara Budaya/Pesta Tradisional. Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada’ Salama’. (*)

 

(* Etta Adil, Blogger dan Pegiat Budaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT