Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Bulan Ramadhan bukan sekadar periode ritualitas ibadah vertikal antara hamba dan Sang Pencipta. Dalam lembaran sejarah, sepuluh malam terakhir Ramadhan sering kali menjadi saksi bisu terjadinya peristiwa-peristiwa besar yang mengubah arah peradaban manusia.
Jika malam ke-17 dikenal dengan Nuzulul Qur’an dan Perang Badar, maka malam-malam ganjil di penghujung bulan, termasuk 26 Ramadhan, menyimpan memori kolektif tentang konsolidasi kekuatan, wafatnya tokoh besar, hingga penaklukan wilayah-wilayah strategis.
1. Wafatnya Sang Pembela Sunnah: Imam an-Nasa’i (303 H)Â
Salah satu peristiwa duka namun monumental dalam khazanah intelektual Islam pada 26 Ramadhan 303 H adalah wafatnya Imam An-Nasa’i, penyusun kitab Sunan al-Sughra yang merupakan bagian dari Kutubus Sittah (Enam Kitab Induk Hadis). Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan Abu Abdurrahman al-Nasa’i. Lahir di kota Nasa (wilayah Khurasan), beliau menghabiskan hidupnya dengan melakukan rihlah ilmiyah (perjalanan intelektual) ke Mesir, Hijaz, Suriah, hingga Irak.
Imam An-Nasa’i adalah pribadi yang wara’, ahli ibadah, dan dikenal sangat teliti dalam menyeleksi hadits, beberapa ulama menyebut standar syarat (kriteria) haditsnya lebih ketat daripada Imam Muslim. Jelang wafatnya, beliau berada di Damaskus dan diminta menuliskan khazanah keutamaan penguasa saat itu untuk kepentingan politik. Imam An-Nasa’i menolak dan justru membacakan kitab karyanya Al-Khashais. Akibatnya, beliau dianiaya oleh kelompok fanatik hingga akhirnya wafat dalam perjalanan menuju Mekkah atau sesampainya di sana.
2. Pembebasan Wilayah dan Konsolidasi Militer di Andalusia
Dalam sejarah kekhalifahan di Spanyol Islam (Andalus), tanggal 26 Ramadhan sering kali tercatat sebagai momentum mobilisasi pasukan. Pada periode kepemimpinan Dinasti Al-Murabitun dan Al-Muwahhidun, penghujung Ramadhan digunakan untuk memperkuat garis pertahanan di wilayah perbatasan (Thughur) guna menghalau gerakan Reconquista dari kerajaan-kerajaan Kristen di Utara. Malam ke-26 Ramadhan dianggap sebagai malam “siaga satu”. Para panglima perang Muslim seringkali memilih waktu ini untuk memberikan motivasi spiritual kepada prajuritnya, menghubungkan semangat tempur dengan kemuliaan malam-malam Lailatul Qadr.
3. Dinamika Politik Dinasti Mamluk di Mesir
Mesir, sebagai pusat intelektual Islam setelah jatuhnya Baghdad, mencatat banyak peristiwa penting pada akhir Ramadhan. Pada era Mamluk Bahri, tanggal 26 Ramadhan sering menjadi hari di mana Sultan mengeluarkan dekrit-dekrit penting terkait kesejahteraan rakyat dan pemberian amnesti kepada tahanan sebagai bentuk penghormatan terhadap kemuliaan bulan suci.
Di masa Sultan Al-Mansur Qalawun, misalnya, akhir Ramadhan menjadi momentum peresmian fasilitas publik seperti Maristan (rumah sakit) dan madrasah, yang menegaskan bahwa kekuasaan dalam Islam haruslah berbasis pada kemaslahatan umat.
***
Mengapa 26 Ramadhan Signifikan? Secara astronomis dan teologis, 26 Ramadhan adalah gerbang menuju malam ke-27, yang oleh mayoritas ulama (seperti Ibnu Abbas) dianggap sebagai waktu yang paling potensial terjadinya Lailatul Qadr. Oleh karena itu, peristiwa yang terjadi pada tanggal ini memiliki dua dimensi, yaitu Dimensi Eskatologis dan Dimensi Sosiologis.
Umat Islam berada pada puncak kesadaran spiritual. Setiap tindakan, baik itu menulis hadits, memimpin perang, atau memerintah negara, dilakukan dengan kesadaran bahwa mereka sedang berada di malam-malam “seribu bulan”. Pun pada Pada tanggal 26, masyarakat Muslim biasanya telah mencapai titik puncak kelelahan fisik karena puasa, namun mencapai titik puncak kekuatan mental. Sejarah membuktikan bahwa banyak kemenangan besar justru diraih saat fisik sedang dalam kondisi paling lemah (puasa).
Para pejuang di Andalusia dan penguasa di Mesir memanfaatkan momentum 26 Ramadhan untuk meletakkan jejak peradaban, suatu mozaik dari keberanian intelektual, keteguhan akidah, dan dinamika peradaban yang tak kunjung padam. Sebagaimana halnya Imam An-Nasa’i tidak hanya menghafal hadits, tapi mengamalkannya hingga titik darah terakhir. Peradaban Islam tegak bukan hanya karena banyaknya buku yang ditulis, tapi karena adanya muslim pejuang yang berkarakter kuat yang berdiri di belakang pena tersebut. (*)
Bahan Bacaan:Â
Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A’lam an-Nubala. (Biografi mendalam Imam An-Nasa’i dan detail kewafatannya).
Ibnu Khallikan. Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ az-Zaman. (Referensi tentang tokoh-tokoh besar yang wafat di bulan Ramadhan).
Al-Maqrizi. Al-Suluk li-Ma’rifat Duwal al-Muluk. (Sejarah sosial-politik Mesir di bawah Mamluk, termasuk aktivitas bulan Ramadhan).
Kennedy, Hugh. Muslim Spain and Portugal: A Political History of al-Andalus. (Membahas strategi militer dan pertahanan wilayah perbatasan di penghujung Ramadhan).
Ash-Shalabi, Ali Muhammad. Mausu’ah Muyassar fi al-Tarikh al-Islami. (Ensiklopedi sejarah Islam yang memuat peristiwa-peristiwa penting harian).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.



