BerandaEdukasiDi Hadapan Sayap Pesawat Habibie, Santriwati Itu Belajar Bermimpi

Di Hadapan Sayap Pesawat Habibie, Santriwati Itu Belajar Bermimpi

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Di dalam sebuah museum, benda-benda memang tampak diam. Namun sesungguhnya, setiap benda sedang berbicara. Ia berbicara kepada mereka yang mau mendengar. Ia bercerita kepada mereka yang ingin belajar. Dan kadang-kadang, ia membangunkan mimpi yang selama ini tertidur.

Begitulah yang mungkin dirasakan oleh rombongan santriwati Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep ketika melangkahkan kaki memasuki Museum B.J. Habibie Parepare. Di hadapan berbagai koleksi yang dipamerkan—dokumen kehidupan, foto-foto perjalanan, miniatur pesawat, buku dan catatan ilmiah, penghargaan, hingga kisah perjuangan seorang anak bangsa—mereka sesungguhnya tidak hanya sedang melihat sejarah seorang tokoh. Mereka sedang bercermin kepada masa depan mereka sendiri.

Para Santriwati dihadapan miniatur pesawat karya BJ Habibie. (foto: ist/*)
Para Santriwati dihadapan miniatur pesawat karya BJ Habibie. (foto: ist/*)

Museum itu bukan sekadar ruang penyimpanan benda-benda lama. Ia adalah ruang dialog antara masa lalu dan masa depan. Di sanalah seorang santriwati dapat bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa seorang anak dari Nusantara bisa berdiri sejajar dengan ilmuwan-ilmuwan dunia? Apa yang membuatnya mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan?”

Jawaban atas pertanyaan itu tidak ditemukan pada satu benda tertentu, melainkan pada keseluruhan perjalanan hidup Bacharuddin Jusuf Habibie.

Beliau tidak dilahirkan sebagai seorang jenius yang memperoleh segalanya dengan mudah. Ia pernah kehilangan ayah di usia muda. Ia pernah hidup jauh dari tanah air. Ia pernah merasakan dinginnya musim Eropa, kerasnya persaingan akademik, dan beratnya tuntutan menjadi mahasiswa teknik di Jerman. Namun semua itu tidak membuatnya menyerah. Justru kesulitan itulah yang menempa karakter dan kedisiplinannya.

Salah satu pesawat karya BJ Habibie yang belum sempat mengudara, karena terkendala biaya belum sempat diproduksi secara nasional. (foto: ettaadil/*)
Salah satu pesawat karya BJ Habibie yang belum sempat mengudara, karena terkendala biaya belum sempat diproduksi secara nasional. (foto: ettaadil/*)

Maka, ketika para santriwati berdiri di depan koleksi museum tersebut, sesungguhnya mereka tidak sedang melihat sebuah kisah keberhasilan. Mereka sedang melihat jejak panjang dari kesabaran, kerja keras, disiplin, dan cinta yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan.

***

Menjadi Santri itu tidak berarti Membatasi Mimpi? Hal ini penting untuk dicamkan dalam hati, karena masih ada sebagian masyarakat yang memandang santri secara sempit. Ketika mendengar kata santri, yang terbayang hanyalah seseorang yang akrab dengan Al-Qur’an, hadits, kitab kuning, fiqih, tafsir, dan kehidupan masjid. Gambaran itu tentu tidak salah, tetapi belum utuh.

Tradisi pesantren sejak masa awal justru melahirkan ulama yang menguasai banyak cabang ilmu. Dalam sejarah Islam, para ilmuwan besar tidak pernah memisahkan agama dan sains. Mereka melihat keduanya sebagai jalan untuk mengenal kebesaran Allah.

Lihatlah bagaimana Ibnu Sina menulis tentang kedokteran. Al-Khawarizmi meletakkan dasar aljabar. Ibnu al-Haytham mengembangkan ilmu optika. Al-Biruni meneliti astronomi, geografi, dan geologi. Mereka adalah ahli ibadah sekaligus ilmuwan besar.

Mereka tidak pernah mempertentangkan ayat-ayat qauliyah dengan ayat-ayat kauniyah. Al-Qur’an dibaca, tetapi alam semesta juga diteliti. Wahyu dipahami, tetapi hukum-hukum fisika juga dipelajari. Karena itu, menjadi santri tidak berarti membatasi mimpi. Menjadi santri justru berarti memperluas cakrawala ilmu.

Foto bersama saat Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep berkunjung ke Museum BJ Habibie Parepare. (foto: ist/*)
Foto bersama saat Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep berkunjung ke Museum BJ Habibie Parepare. (foto: ist/*)

Kunjungan ke Museum B.J. Habibie Parepare menjadi pengingat bahwa pesantren juga memiliki tanggung jawab melahirkan generasi yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan dai yang fasih berbicara, tetapi juga membutuhkan ilmuwan yang berakhlak, insinyur yang jujur, dokter yang amanah, peneliti yang bertakwa, programmer yang menjadikan teknologi sebagai jalan kemaslahatan, dan pemimpin yang menggabungkan kecerdasan dengan integritas.

***

Salah satu bagian yang paling memikat di Museum B.J. Habibie Parepare adalah berbagai koleksi yang berkaitan dengan dunia dirgantara. Miniatur pesawat, rancangan teknologi, dokumentasi penelitian, hingga kisah lahirnya inovasi penerbangan Indonesia menghadirkan pesan yang sangat kuat.

Bagi sebagian orang, pesawat hanyalah alat transportasi. Namun bagi Habibie, pesawat adalah simbol dari kemampuan manusia menaklukkan batas. Untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang diperlukan perpaduan matematika, fisika, metalurgi, aerodinamika, ketelitian, dan disiplin yang luar biasa.

Di balik satu sayap pesawat terdapat ribuan jam belajar. Di balik satu baut terdapat penelitian yang panjang. Di balik satu desain terdapat kegagalan yang berkali-kali diperbaiki. Tidak ada jalan pintas. Dan justru di situlah pelajaran besarnya.

Generasi muda sering kali mengagumi hasil, tetapi lupa menghormati proses. Mereka melihat keberhasilan Habibie, tetapi tidak melihat malam-malam panjang yang dihabiskannya di ruang belajar. Mereka melihat gelar dan penghargaan, tetapi tidak melihat ribuan halaman buku yang telah ia baca.

Bucket Hat BJ Habibie. (foto: ettaadil/*)
Bucket Hat BJ Habibie. (foto: ettaadil/*)

Museum itu seolah berbisik kepada setiap santriwati, “Kalau engkau ingin terbang tinggi, maka belajarlah lebih tinggi lagi.”  Yang membuat Habibie dikenang bukan hanya kecerdasannya. Banyak ilmuwan yang cerdas. Banyak insinyur yang hebat. Namun Habibie memiliki sesuatu yang membuat masyarakat Indonesia mencintainya: kerendahan hati, kesederhanaan, kecintaan kepada keluarga, dan pengabdiannya kepada bangsa.

Kisah cintanya bersama Ainun bukan sekadar kisah romantis. Ia menunjukkan bahwa ilmu tidak menghilangkan kelembutan hati. Jabatan tidak menghapus kesetiaan. Prestasi tidak menghilangkan rasa syukur.

Di museum itu, berbagai dokumentasi kehidupan pribadi Habibie memperlihatkan bahwa seorang ilmuwan tetap dapat menjadi suami yang penuh kasih, ayah yang bertanggung jawab, dan pemimpin yang mencintai rakyatnya.

Inilah pelajaran penting bagi santriwati. Ilmu tidak boleh menjadikan seseorang sombong. Semakin tinggi ilmu, semakin dalam kerendahan hati.

***

Museum sesungguhnya adalah perpustakaan yang menggunakan benda sebagai bahasa. Ketika seorang santriwati memperhatikan foto-foto Habibie saat belajar di Jerman, ia sedang membaca arti ketekunan.

Ketika ia melihat berbagai penghargaan yang diterima Habibie, ia sedang membaca makna konsistensi. Ketika ia memperhatikan perjalanan kariernya, ia sedang belajar bahwa pengakuan dunia tidak lahir karena keberuntungan, melainkan karena kualitas.

Mungkin di antara rombongan santriwati itu ada yang kelak menjadi dosen. Ada yang menjadi dokter. Ada yang menjadi ahli teknologi pangan. Ada yang menjadi peneliti kecerdasan buatan. Ada yang menjadi ahli lingkungan, diplomat, pengusaha, atau penulis. Perjalanan itu dimulai dari keberanian untuk bermimpi dan kesediaan untuk belajar.

Santri dan Pesantren modern hari ini tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang memahami ilmu-ilmu agama. Pesantren juga harus melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan abad ke-21.

Penulis saat menyerahkan cenderamata ke Pengelola Museum BJ Habibie Parepare. (foto: ist/*)
Penulis saat menyerahkan cenderamata ke Pengelola Museum BJ Habibie Parepare. (foto: ist/*)

Kecerdasan buatan, robotika, bioteknologi, energi baru terbarukan, keamanan siber, data sains, teknologi kesehatan, dan eksplorasi ruang angkasa adalah bidang-bidang yang akan menentukan masa depan dunia.

Apakah santri harus takut memasuki bidang-bidang itu? Justru sebaliknya. Pesantren harus hadir di sana. Karena dunia teknologi membutuhkan orang-orang yang memiliki kompas moral. Kemajuan tanpa etika dapat melahirkan kerusakan. Sebaliknya, ilmu yang dipadukan dengan iman akan menghadirkan kemajuan yang membawa kemaslahatan.

Kunjungan ke Museum B.J. Habibie seharusnya tidak berhenti menjadi pengalaman yang indah untuk difoto dan diunggah ke media sosial. Ia harus menjadi titik balik.

Sepulang dari museum, setiap santriwati hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri, “Sudahkah aku belajar dengan sungguh-sungguh hari ini?”

“Apakah aku hanya menghafal pelajaran untuk ujian, atau benar-benar mencintai ilmu?”

“Bidang apa yang akan aku kuasai untuk memberi manfaat kepada umat?”

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mengingat nama-nama koleksi museum. Karena museum yang berhasil bukanlah museum yang membuat pengunjung kagum, melainkan museum yang membuat pengunjung berubah.

Miniatur Pesawat N219 karya BJ Habibie. (foto: ist/*)
Miniatur Pesawat N219 karya BJ Habibie. (foto: ist/*)

Kesadaran menguasai sains dan teknologi harus diterjemahkan menjadi budaya. Pesantren dapat memperkuatnya melalui berbagai langkah nyata: memperkaya koleksi perpustakaan dengan buku-buku sains populer, membentuk klub riset dan robotika, mengadakan proyek penelitian sederhana, memperkenalkan pemrograman komputer, memperluas pembelajaran matematika dan sains berbasis eksperimen, mengundang ilmuwan dan profesional sebagai inspirator, hingga mendorong santriwati mengikuti olimpiade, lomba karya ilmiah, dan kompetisi inovasi.

Yang tidak kalah penting adalah membangun keyakinan bahwa tidak ada dikotomi antara menjadi santri dan menjadi ilmuwan. Seorang hafizah Al-Qur’an dapat menjadi insinyur. Seorang mubalighah dapat menjadi peneliti. Seorang ahli fikih dapat menjadi ahli kecerdasan buatan. Semua itu mungkin apabila tekun belajar dan menjaga integritas.

***

Ketika rombongan santriwati meninggalkan Museum B.J. Habibie, mungkin mereka membawa oleh-oleh berupa foto, kenangan, atau cendera mata. Namun mudah-mudahan, ada sesuatu yang lebih berharga daripada semua itu. Mudah-mudahan mereka membawa pulang keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.

Keberanian untuk membuka buku lebih lama. Keberanian untuk mencintai matematika, fisika, kimia, biologi, teknologi, dan rekayasa, tanpa meninggalkan Al-Qur’an dan hadits.

Karena sesungguhnya, seorang santri tidak diciptakan untuk memilih antara agama atau sains. Seorang santri dipanggil untuk memadukan keduanya.

Al-Qur’an akan menjaga arah hidupnya. Sains akan memperluas kemampuannya berkarya. Teknologi akan menjadi alat pengabdiannya, dan Akhlak akan menjaga setiap langkahnya.

Foto bersama di depan Museum BJ Habibie Parepare. (foto: ist/*)
Foto bersama di depan Museum BJ Habibie Parepare. (foto: ist/*)

Di hadapan sayap-sayap pesawat yang pernah menjadi mimpi besar B.J. Habibie, para santriwati itu sesungguhnya sedang belajar satu pelajaran yang paling penting: bahwa langit bukanlah batas bagi mereka yang memiliki iman, ilmu, dan ketekunan.

Mungkin suatu hari nanti, dari ruang-ruang kelas Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep akan lahir seorang perempuan yang menghafal Al-Qur’an dengan baik, fasih berdakwah dalam tiga bahasa, menulis dengan cemerlang, sekaligus menjadi ilmuwan yang temuannya memberi manfaat bagi bangsa dan kemanusiaan.

Jika hari itu benar-benar tiba, maka kunjungan ke Museum B.J. Habibie akan dikenang bukan sekadar sebagai agenda study comparative, melainkan sebagai hari ketika mimpi-mimpi besar mulai menemukan sayapnya. (*)

 

(* Etta Adil, Blogger dan Pemandu Museum

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT