Oleh: Andi Alykha Nurul Fhadilah
PALONTARAQ.ID – Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan ketika mulai membaca sejarah daerah sendiri. Awalnya saya kira sejarah itu hanya tentang tahun, kerajaan, peperangan, tokoh-tokoh besar, dan kisah masa lalu yang tersimpan dalam buku-buku tebal yang mulai menguning. Saya mengira belajar sejarah hanya akan membawa saya pada cerita tentang bagaimana orang-orang terdahulu membangun peradaban, mempertahankan wilayahnya, atau meninggalkan warisan budaya yang masih dapat dilihat sampai hari ini.
Namun, semakin jauh membaca sejarah Bugis-Makassar, khususnya sejarah Pangkep, saya justru menemukan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak: stratifikasi sosial.
Awalnya saya tidak terlalu memahami istilah itu. Saya hanya berpikir bahwa setiap masyarakat memang memiliki susunan sosial tertentu. Tetapi ketika membaca lebih jauh mengenai sistem kebangsawanan di Sulawesi Selatan, terutama konsep yang dikenal dengan ambokemmi makpabbati, saya mulai terdiam.
Prinsip itu berarti hanya pihak ayah yang mewariskan status sosial kepada anak-anaknya.
Saya kembali membaca beberapa kali karena sempat mengira salah memahami kalimat tersebut. Ternyata dalam sistem sosial lama itu, seorang anak akan mengikuti garis sosial ayahnya. Jika seorang laki-laki bangsawan menikah dengan perempuan dari kalangan hamba sahaya atau rakyat biasa, maka anaknya tetap dianggap bangsawan. Sebaliknya, jika seorang laki-laki dari kalangan rakyat biasa menikah dengan perempuan bangsawan, bahkan putri raja sekalipun, anak-anak mereka tetap dianggap berasal dari strata sosial ayahnya.
Saya benar-benar terkejut. Bukan karena sistem seperti itu pernah ada. Mungkin banyak masyarakat di dunia dahulu mempunyai aturan sosial yang serupa. Yang membuat saya terkejut adalah kenyataan bahwa jejak pemikiran seperti itu masih dapat ditemukan di sebagian masyarakat hingga sekarang.
Padahal ketika tumbuh sebagai remaja pada masa sekarang, saya lebih sering mendengar orang berkata bahwa semua manusia setara. Kami sekolah bersama tanpa memikirkan siapa keturunan bangsawan dan siapa yang bukan. Kami bermain, belajar, bercanda, berteman, dan mengejar cita-cita dengan ukuran yang lebih sering ditentukan oleh kemampuan, usaha, dan pendidikan.
Lalu saya bertanya-tanya dalam hati: bagaimana rasanya hidup pada masa ketika seseorang sudah diberi ukuran tertentu bahkan sejak lahir? Pertanyaan itu terus muncul dalam pikiran saya.
Saya sebenarnya tidak sedang mencari perdebatan mengenai siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Saya juga tidak sedang mencari alasan untuk menolak sejarah. Justru saya sedang berusaha mengerti sejarah daerah saya sendiri.
Saya ingin memahami bagaimana masyarakat dahulu membangun cara berpikirnya. Saya ingin memahami mengapa sistem seperti itu lahir. Saya ingin memahami mengapa sebagian nilai bertahan, sementara sebagian lainnya perlahan berubah. Mungkin karena itulah saya mulai merasa bahwa belajar sejarah ternyata tidak sesederhana menghafal nama raja atau tahun kejadian.
Sejarah ternyata seperti lorong panjang yang kadang membuat seseorang menemukan sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Semakin jauh membaca, saya kemudian sampai pada kisah tentang Barasa dan awal mula kekaraengan Pangkajene.
Diceritakan bahwa kekaraengan Pangkajene berasal dari kebangsawanan Barasa, sebuah wilayah yang kini masuk ke lingkungan Kampung Baru-Baru Towa. Saya membayangkan bagaimana tempat itu dahulu ketika masih menjadi pusat kekuasaan. Saya membayangkan perahu-perahu yang datang dan pergi, para pemimpin yang mengatur wilayahnya, serta masyarakat yang hidup di sekitar sungai.
Kemudian muncul kisah peperangan.
Pada awal abad ketujuh belas, Karaeng Barasa berperang melawan Kerajaan Gowa yang dibantu Raja Lombasang. Dalam peperangan itu, Barasa mengalami kekalahan.
Ada bagian cerita yang menurut saya sangat menarik. Disebutkan bahwa Karaeng Barasa dikabarkan menghilang secara rahasia bersama perahunya melalui sebuah sungai yang disebut Binanga Sangkara, muara Sungai Kalibone yang dahulu menjadi pelabuhan Kerajaan Barasa.
Ketika membaca bagian itu, saya langsung membayangkan suasananya. Malam yang gelap. Perahu yang bergerak perlahan. Air sungai yang tenang. Dan seseorang yang sedang meninggalkan kerajaannya setelah mengalami kekalahan.
Saya tidak tahu apakah gambaran di kepala saya sama dengan kenyataan masa lalu, tetapi sejarah memang sering membuat imajinasi bergerak.
Barasa kemudian masuk ke dalam wilayah kekuasaan Gowa. Arajang Barasa yang dinamai Tabaloba diberikan kepada Karaeng Lombasang dan dijadikan pusaka baru bernama Bolong Kampung. Setelah itu Raja Gowa mengangkat seorang karaeng untuk memimpin wilayah tersebut.
Semakin saya membaca, semakin saya merasa bahwa sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa. Sejarah ternyata berisi manusia-manusia dengan segala keputusan, kemenangan, kekalahan, harapan, dan ketidakpastian mereka. Dan mungkin karena itulah saya mulai memahami mengapa ada orang yang menghabiskan hidupnya untuk meneliti sejarah.
Salah satu nama yang membuat saya tertarik adalah M. Farid W. Makkulau. Saya mengenal beliau sebagai seorang budayawan dan sejarawan yang banyak menelusuri jejak sejarah Pangkep dan Sulawesi Selatan. Ketika membaca karya-karya dan rujukan yang berkaitan dengan sejarah daerah, saya mulai berpikir bahwa pekerjaan seperti itu ternyata bukan pekerjaan yang mudah.
Menjadi budayawan bukan hanya duduk lalu menulis. Menjadi budayawan juga berarti berjalan, mendengar cerita orang tua, mencari naskah, membaca sumber lama, menghubungkan berbagai kisah, lalu mencoba merangkainya menjadi pengetahuan yang dapat dipahami generasi berikutnya.
Dan entah mengapa, sebagai remaja, saya merasa kagum pada jalan seperti itu. Karena di zaman sekarang, ketika banyak orang berlomba mengejar sesuatu yang cepat, ada orang-orang yang memilih berjalan pelan demi menjaga ingatan masyarakatnya.
Saya membayangkan betapa banyak waktu yang diperlukan untuk mendengar cerita para tetua kampung.
Saya membayangkan bagaimana seseorang harus datang ke tempat-tempat bersejarah, mengumpulkan data, lalu memeriksa apakah sebuah kisah benar atau hanya legenda yang terus diceritakan turun-temurun.
Mungkin itu pekerjaan yang melelahkan. Tetapi ada sesuatu yang terasa indah di sana. Karena sesungguhnya orang yang menjaga sejarah sedang menjaga identitas masyarakatnya. Dan saya mulai merasa ingin belajar dari jalan seperti itu.
Bukan karena ingin dipandang sebagai ahli sejarah. Bukan pula karena ingin dianggap mengetahui segalanya. Saya hanya merasa ada sesuatu yang menarik ketika seseorang mulai mengenal akar tempat ia berasal.
Saya ingin berguru. Saya ingin belajar. Saya ingin mengikuti jejak Orang-orang yang menjaga sejarah dan kebudayaan. Karena semakin saya membaca sejarah Bugis-Makassar, saya semakin sadar bahwa budaya tidak selalu berisi hal-hal yang mudah diterima.
Ada bagian yang membuat bangga. Ada bagian yang membuat kagum. Tetapi ada juga bagian yang membuat terkejut. Dan mungkin memang begitulah cara sejarah bekerja.
Ia tidak selalu datang untuk menyenangkan kita. Kadang ia datang untuk membuat kita berpikir.
Tentang siapa kita. Tentang dari mana kita berasal? Dan tentang ke mana kita akan berjalan?
Saya tidak ingin mempelajari sejarah hanya untuk menghafalnya. Saya ingin mempelajarinya agar dapat memahami manusia. Termasuk memahami mengapa dahulu stratifikasi sosial menjadi sesuatu yang begitu penting dalam masyarakat Bugis-Makassar. Karena memahami sejarah bukan berarti harus menerima semua hal secara mentah.
Memahami sejarah juga berarti belajar melihat sebuah masa sesuai dengan zamannya, sambil tetap memikirkan nilai-nilai yang relevan bagi masa sekarang.
Mungkin perjalanan saya masih sangat panjang. Saya masih seorang remaja yang baru mulai membuka lembar-lembar sejarah daerah sendiri.
Masih banyak hal yang belum saya ketahui. Masih banyak naskah yang belum saya baca. Masih banyak cerita yang belum saya dengar. Tetapi setidaknya sekarang saya tahu satu hal: Saya tidak lagi hanya ingin membaca sejarah. Saya ingin belajar dari Orang-orang yang menjadikan sejarah dan kebudayaan sebagai jalan hidupnya.
Dan jika suatu hari nanti saya bisa menelusuri kampung-kampung tua, mendengar kisah para tetua, membaca naskah lama, lalu menulis kembali sejarah untuk generasi berikutnya, mungkin saat itulah saya benar-benar sedang berjalan di jejak yang pernah ditempuh oleh M. Farid W. Makkulau, yang tak lain adalah “Etta”-ku, kakekku dari pihak Mama—bukan sekadar mengikuti namanya, tetapi mengikuti semangatnya untuk menjaga ingatan kolektif dan kebudayaan masyarakatnya. (*)
(* Andi Alykha Nurul Fhadilah, Santriwati Kelas XI SMAS Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


