Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Setiap kali bulan Dzulhijjah menyapa umat Islam di seluruh penjuru dunia, udara dipenuhi oleh gema takbir, tahmid, dan tahlil yang bersahut-sahutan. Suara-suara itu bukan sekadar ritual lisan yang berulang tanpa makna, melainkan sebuah proklamasi spiritual yang menggetarkan arasy kesadaran manusia. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang menuntut manusia untuk terus menumpuk materi, Idul Adha hadir sebagai sebuah jeda agung. Ia mengundang kita untuk menatap ke dalam cermin jiwa kita masing-masing: Untuk apa kita hidup, kepada siapa cinta kita bermuara, dan apa yang telah kita korbankan demi membuktikan cinta tersebut?
Di pagi hari yang syahdu itu, jutaan hewan qurban disembelih. Darah mengalir membasahi bumi, namun sejatinya yang sedang diuji bukanlah tajamnya pisau atau gemuknya hewan sembelihan. Yang sedang ditimbang di neraca langit adalah ketulusan, kepasrahan, dan kesediaan kita untuk meruntuhkan berhala-berhala ego yang sering kali tanpa sadar kita sembah dalam kehidupan sehari-hari. Idul Adha adalah madrasah tahunan yang mengajarkan kita tentang satu hakikat fundamental: bahwa cinta kepada Allah SWT harus tegak berdiri kokoh di atas singgasana tertinggi hati, tanpa boleh tersaingi oleh cinta kepada apa pun dan siapa pun di alam semesta ini.
***
Untuk memahami esensi sejati dari berqurban, mesin waktu sejarah harus membawa kita kembali ke ribuan tahun silam, ke sebuah lembah gersang berbatu di wilayah Makkah dan Mina. Di sanalah drama kemanusiaan paling agung sekaligus paling menegangkan dalam sejarah iman manusia dipentaskan. Tokoh utamanya adalah seorang tua yang rambutnya telah memutih, Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan putra remajanya yang sangat dinanti, Ismail Alaihissalam.
Ibrahim adalah seorang ayah yang merindukan kehadiran seorang anak selama puluhan tahun. Dalam kesunyian malam dan di tengah padang pasir yang membakar, bait-bait doanya membubung ke langit, mengharap penerus dakwah tauhid. Ketika Ismail akhirnya lahir dari rahim Hajar, kebahagiaan Ibrahim tentu tak terlukiskan dengan kata-kata manusia. Ismail adalah pelipur lara, belahan jiwa, dan tumpuan harapan di masa senja sang nabi. Kasih sayang seorang ayah kepada anak kandung tunggalnya saat itu tentu berada pada titik puncaknya.
Namun, di tengah mekarnya bunga-bunga kasih sayang itu, datanglah ujian yang di luar nalar kemanusiaan biasa. Melalui mimpi yang benar (ru’yah shadiqah), Allah memberikan perintah kepada Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya tersebut. Bayangkan gejolak batin yang dialami oleh seorang ayah. Perintah ini tidak hanya menuntut pengorbanan fisik, tetapi juga menuntut Ibrahim untuk secara sukarela menghancurkan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya dengan tangannya sendiri.
Secara logika manusia dan dorongan naluri kebapakan, perintah ini adalah sebuah kemustahilan yang sangat menyiksa. Iblis pun datang silih berganti mengembuskan keraguan, membisikkan bahwa itu hanyalah bisikan setan, atau bahwa Allah tidak mungkin sekejam itu. Namun, di sinilah letak perbedaan antara manusia biasa dengan Khalilullah (Kekasih Allah). Bagi Ibrahim, perintah Rabb adalah mutlak. Keraguan tidak memiliki celah untuk masuk ke dalam hatinya yang telah dipenuhi cahaya makrifat.
Yang tidak kalah menakjubkan adalah bagaimana Ibrahim menyampaikan perintah ini kepada anaknya. Beliau tidak menyergap Ismail saat tidur, tidak pula memaksanya dengan kekerasan. Ibrahim mengajak anaknya berdialog, sebuah komunikasi demokratis dan penuh kelembutan yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. As-Saffat: 102)
Tanggapan Ismail adalah mukjizat keimanan tersendiri. Alih-alih menangis, memberontak, atau melarikan diri, anak muda yang saleh ini menjawab dengan kemantapan jiwa yang luar biasa:
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)
Ketika keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim meletakkan pelipis anaknya di atas tanah untuk bersiap menyembelihnya, pisau tajam itu diletakkan di leher Ismail. Pada detik yang paling menegangkan dalam sejarah iman tersebut, Allah berfirman bahwa Ibrahim telah membenarkan mimpi itu. Allah kemudian menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar (domba dari surga).
Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah monumen abadi tentang kepatuhan tanpa syarat. Allah tidak pernah menginginkan darah Ismail, tidak pula membutuhkan dagingnya. Yang Allah inginkan adalah kepatuhan total Ibrahim. Allah ingin membuktikan kepada semesta alam, termasuk kepada para malaikat, bahwa di dalam hati Ibrahim, tidak ada satu pun makhluk yang boleh menempati posisi yang sejajar dengan Allah, bahkan anak kandungnya sendiri.
Hierarki Cinta – Menempatkan Rabb di Atas Segalanya
Manusia diciptakan dengan kecenderungan alami untuk mencintai. Kita mencintai anak-anak kita dengan kasih sayang yang mendalam; kita mencintai istri atau suami kita sebagai belahan jiwa; kita mencintai keluarga dan orang tua kita sebagai akar keberadaan kita. Lebih dari itu, kita juga mencintai hal-hal yang bersifat materi: harta benda yang kita kumpulkan dengan peluh, jabatan tinggi yang memberi kita kehormatan di mata manusia, serta pekerjaan atau profesi yang menjamin kelangsungan hidup kita di dunia.
Semua bentuk cinta ini adalah fitrah yang suci dan manusiawi. Islam tidak pernah datang untuk mematikan rasa cinta tersebut. Namun, Islam datang untuk mengatur jalannya aliran cinta itu agar tidak meluap dan merusak fondasi tauhid. Ketika cinta kepada makhluk mulai menggeser cinta kepada Khalik, di situlah manusia mulai terjerumus ke dalam kemusyrikan terselubung (syirik khafi).
Allah telah memberikan peringatan yang sangat tegas dan keras dalam Al-Qur’an mengenai bahaya salah menempatkan prioritas cinta ini. Dalam Surah At-Tawbah ayat 24, Allah berfirman:
$$\text{“Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”}$$
Ayat ini adalah sebuah tamparan spiritual yang keras bagi kita semua. Ada delapan perkara duniawi yang disebutkan di sana:
- Orang tua (bapak-bapak)
- Anak-anak
- Saudara-saudara
- Pasangan hidup (istri-istri)
- Keluarga besar
- Harta kekayaan
- Bisnis/Pekerjaan (perniagaan yang ditakuti kerugiannya)
- Aset fisik (tempat tinggal yang disukai)
Semua hal di atas adalah hal-hal yang sangat kita sayangi. Namun, jika salah satu saja atau akumulasi dari delapan hal tersebut membuat kita lalai dari ketaatan kepada Allah, enggan berjuang di jalan-Nya, atau berani melanggar syariat-Nya demi mempertahankannya, maka kita berada dalam ancaman kemurkaan Allah.
1. Cinta kepada Anak dan Pasangan
Anak dan pasangan adalah ujian terbesar dalam hidup manusia (fitnah). Berapa banyak orang tua yang rela menghalalkan segala cara, melakukan korupsi, atau menipu demi mencukupi gaya hidup anak dan pasangannya? Berapa banyak orang yang meninggalkan kewajiban ibadah karena terlalu sibuk bercengkerama dengan keluarga? Idul Adha mendidik kita bahwa anak dan istri adalah titipan, bukan hak milik mutlak. Mencintai mereka haruslah dalam bingkai ketaatan kepada Allah. Kita mencintai mereka karena Allah, dan kita harus siap melepaskan keterikatan hati pada mereka demi Allah.
2. Cinta kepada Harta dan Jabatan
Harta dan jabatan sering kali menjadi berhala modern yang disembah tanpa sadar. Manusia menghabiskan waktu 24 jam sehari, memeras keringat dan membanting tulang, hanya untuk mengejar angka-angka di rekening bank atau gelar di depan nama. Ketika waktu shalat tiba, ketika panggilan untuk membantu sesama berkumandang, ego keduniawian kita sering kali berbisik: “Jangan sekarang, pekerjaan ini lebih penting. Uang ini terlalu berharga untuk diberikan.”
Melalui ibadah qurban, kita diperintahkan untuk memotong “leher” keserakahan tersebut. Kita dipaksa untuk mengeluarkan sebagian dari harta yang kita cintai untuk membeli hewan qurban dan membagikannya kepada orang lain. Ini adalah latihan praktis untuk membuktikan bahwa harta di tangan kita hanyalah alat, bukan tuan yang menjajah hati kita.
Hakikat Berqurban – Antara Simbol Fisik dan Esensi Takwa
Sering kali, ritual tahunan penyembelihan hewan qurban terjebak dalam formalitas kering. Sebagian orang merasa cukup ketika mereka telah mentransfer sejumlah uang, memilih hewan yang paling mahal agar mendapat pujian dari tetangga, atau sekadar datang menyaksikan hewan tersebut disembelih demi konten di media sosial. Ini adalah sebuah reduksi yang sangat menyedihkan terhadap nilai-nilai luhur Idul Adha.
Allah secara eksplisit menegaskan bahwa aspek fisik dari ibadah qurban bukanlah tujuan akhir. Dalam Surah Al-Hajj ayat 37, Allah menyatakan dengan sangat indah:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.”
Ayat ini meruntuhkan segala bentuk kesombongan materialistik. Allah adalah Zat Yang Mahakaya (Al-Ghani). Dia tidak membutuhkan makanan, tidak membutuhkan persembahan darah seperti dewa-dewa dalam mitologi kuno. Yang naik ke langit menemui-Nya bukanlah kepulan asap pembakaran daging atau genangan darah di tanah, melainkan getaran keikhlasan di dalam dada orang yang berkurban.
Ketulusan dalam berqurban diukur dari beberapa indikator spiritual, yaitu: Pertama, Keikhlasan yang Murni (Ikhlasun Niyyah). Berqurban semata-mata karena mengharap ridha Allah, bukan demi prestise sosial, gengsi di lingkungan perumahan, atau motif-motif politik kekuasaan. Kedua, Kualitas Hewan Terbaik. Mencontoh Habil (putra Nabi Adam) yang mempersembahkan hasil ternak terbaiknya untuk Allah, bukan mencontoh Qabil yang mempersembahkan hasil pertanian yang buruk dan busuk. Jika kita mencintai Allah di atas segalanya, tentu kita akan mempersembahkan yang terbaik dari apa yang kita miliki, bukan sisa-sisa atau yang paling murah demi sekadar menggugurkan kewajiban. Ketiga, Penyucian Jiwa dari Penyakit Hati. Prosesi penyembelihan hewan harus diiringi dengan niat menyembelih sifat-sifat kebinatangan di dalam diri kita: sifat rakus, egois, merasa lebih mulia dari orang lain, serta keinginan untuk menindas yang lemah.
***
Ibadah dalam Islam selalu memiliki dua dimensi yang berjalan seiringan dan saling melengkapi: dimensi teologis-spiritual (Hablum Minallah) dan dimensi sosial-kemanusiaan (Hablum Minannas). Begitu pula dengan ibadah qurban di Hari Raya Idul Adha.
Pertama, Hikmah Spiritual dan Teologis. Setiap kali kita mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar” saat menyembelih hewan qurban, kita sedang memperbarui ikrar bahwa hidup kita, mati kita, ibadah kita, dan pengorbanan kita hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Di dalam hati setiap manusia, selalu ada “Ismail” versinya masing-masing. “Ismail” itu bisa berupa ambisi karier yang berlebihan, cinta buta pada anak-anak yang menjauhkan dari masjid, ketakutan akan kemiskinan yang menghalangi sedekah, atau kesombongan intelektual yang menolak kebenaran agama.
Idul Adha menuntut kita untuk menaruh “Ismail” tersebut di atas altar pengorbanan, siap menyembelihnya kapan pun perintah Allah datang menyapa. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah menciptakan kedamaian batin yang luar biasa. Jiwa yang pasrah menyadari bahwa apa pun yang hilang dari genggamannya di dunia ini, selama ia memiliki Allah, ia tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, siapa pun yang memiliki segalanya di dunia tetapi kehilangan Allah, sejatinya ia tidak memiliki apa-apa.
Kedua, Hikmah Sosial dan Kemanusiaan. Daging qurban didistribusikan kepada fakir miskin, mereka yang mungkin sepanjang tahun jarang sekali dapat menikmati kelezatan daging karena keterbatasan ekonomi. Idul Adha meruntuhkan sekat-sekat kelas sosial. Pada hari itu, si kaya dan si miskin menikmati hidangan yang sama, duduk di bawah langit yang sama, merayakan kegembiraan yang setara.
Proses pengelolaan qurban—mulai dari pembelian, pemeliharaan sementara, penyembelihan, pengulitan, pemotongan, hingga pendistribusian—melibatkan kerja sama komunal yang luar biasa di masjid-masjid dan lingkungan masyarakat. Ini mempererat tali silaturahmi yang mungkin merenggang akibat kesibukan kerja sehari-hari. Dengan turun langsung membagikan daging kepada mereka yang membutuhkan, orang-orang yang berkecukupan diajak untuk melihat realitas kemiskinan secara dekat. Hal ini menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah sekaligus memicu lahirnya kepekaan sosial untuk membantu sesama di luar momen Idul Adha.
Kontekstualisasi Teladan Ibrahim di Era Modern
Bagaimana kita menerapkan nilai-nilai luhur perjuangan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail di abad ke-21 yang serbacepat dan materialistis ini? Kita tidak diperintahkan untuk membawa anak-anak kita ke bukit gersang untuk disembelih secara fisik. Namun, tantangan iman kita hari ini tidak kalah beratnya dengan pisau tajam di leher Ismail.
Di era modern, “menyembelih” ego dan ketamakan dapat diwujudkan dalam beberapa tindakan nyata. Pertama, Mengorbankan Waktu dan Kenyamanan demi Ketaatan. Di tengah kesibukan pekerjaan, rapat-rapat penting, dan kelelahan setelah seharian beraktivitas, menghentikan semuanya untuk bersujud saat azan berkumandang adalah sebuah bentuk “qurban” harian. Mengorbankan waktu tidur di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan shalat tahajud adalah bukti nyata bahwa kita lebih mencintai Rabb daripada kenyamanan tempat tidur kita.
Kedua, Mengorbankan Kepentingan Pribadi demi Kemaslahatan Ummat. Seorang pemimpin atau pejabat yang menolak suap demi menjaga integritas dan ketakwaan sedang melakukan qurban yang luar biasa. Ia mengorbankan peluang untuk memperkaya diri secara instan demi mengharap ridha Allah dan menjaga kehormatan agamanya. Seorang pengusaha yang tetap mengeluarkan zakat dan sedekah dalam jumlah besar di tengah krisis ekonomi sedang membuktikan bahwa imannya tidak dapat digoyahkan oleh ketakutan akan kemiskinan.
Ketiga, Mendidik Keluarga Menuju Jalan Allah. Teladan Ibrahim mengajarkan pentingnya membangun ketahanan iman keluarga. Ibrahim tidak mendidik Ismail menjadi anak yang manja yang hanya mengejar kemewahan duniawi. Beliau mendidik Ismail untuk mengenal Rabb-nya sejak dini. Di era digital saat ini, mengorbankan waktu kita untuk menemani anak-anak membaca Al-Qur’an, mengajarkan mereka akhlak yang mulia, dan membatasi paparan pornografi serta pergaulan bebas adalah bentuk perjuangan (jihad) keluarga yang sangat krusial.
Jadi, Idul Adha pada akhirnya adalah sebuah perjalanan kembali ke rumah spiritual kita yang sejati. Ia mengingatkan kita bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang sementara, sebuah laboratorium ujian di mana setiap detik yang kita lalui adalah soal-soal yang harus kita jawab dengan iman dan amal saleh.
Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing di keheningan hati kita: Apakah kita masih menggenggam dunia ini terlalu erat di dalam hati kita? Apakah kita masih sering mengeluh ketika Allah mengambil sedikit saja dari kenyamanan duniawi kita? Ataukah kita sudah siap, seperti Ibrahim, untuk berkata dengan keyakinan penuh: “Silakan ambil semuanya, ya Allah, asalkan Engkau tidak mengambil ridha-Mu dari jiwaku.”
Ketika pisau keikhlasan telah berhasil memotong ikatan-ikatan semu kita kepada materi, pangkat, jabatan, dan bahkan cinta buta kepada makhluk, di situlah kita akan menemukan kebebasan jiwa yang sesungguhnya. Itulah kemerdekaan sejati, sebuah kondisi di mana hati kita tidak lagi dapat diperbudak oleh apa pun selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga darah hewan qurban yang mengalir di hari raya ini menjadi saksi bisu di akhirat kelak bahwa kita telah berusaha menumbangkan ego kita, menyucikan niat kita, dan menempatkan cinta kepada Sang Khalik di atas segala-galanya di alam semesta ini. Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita untuk tetap istikamah di jalan tauhid, kepatuhan, dan pengorbanan yang tulus demi menggapai ridha-Nya yang abadi. Amin Ya Rabbal Alamin. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.



