Beranda Fiksi Marilyn Heavens: A Poet about Tsunami

Marilyn Heavens: A Poet about Tsunami

Dampak Likuifaksi. (foto: ist/palontaraq)
Likuifaksi di Palu, Sulawei Tengah. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Etta Adil

PALONTARAQ.ID – BEBERAPA hari yang lalu, Indonesia mengenang tahun ke-14 tsunami besar yang pernah melanda dan meluluh-lantakkan Aceh, sebagian wilayah Sumatera Utara, dan Negara-negara tetangga.

Peristiwa dahsyat ini merenggut lebih dari 200.000 jiwa di seluruh dunia. Rasa sakit, penderitaan, kesengsaraan, pasti masih melekat pada mereka yang terpengaruh dan menjadi keluarga korban.

Tahun ini, serangkaian bencana besar melanda negara kita dengan sangat keras. Mulai dari gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pencairan tanah (likuifaksi) diikuti oleh gempa dan tsunami di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, serta Tsunami baru-baru ini di Selat Sunda menyisakan tragedi dan kepiluan kemanusiaan.

Lebih dari 4.000 orang kehilangan nyawa, sementara ratusan ribu lainnya masih bertahan hidup seadanya di tenda-tenda pengungsian. Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih bersyukur, tidak pongah dan berbuat kerusakan atas kehidupan yang telah kita terima.

Seorang penulis barat, Marilyn Heavens, merasakan kesedihan yang sama atas peristiwa alam yang terjadi.  Kepiluan dan kepeduliannya tersebut dituangkannya dalam bait-bait puisi berikut, A Poet about Tsunami.

A Poet about Tsunami

by: Marilyn Heavens

 

Tsunami came from nowhere,

Mother Nature called aloud,

Bringing with it only sin,

Bearing devastating sacrifice,

And death to all and kin.

 

Reality hit home within the first few hours,

As news came through the world soon new,

It seemed the earth had cracked in two,

Now our world is flawed with devastation,

Death, pain, and desolation.

 

We pray for those who died,

And feel for those in pain,

Our people’s lives were taken when that Mother came,

This Mother came from nowhere upon the highest wave,

Bringing in destruction, death, and devastation.

 

Loss, horror, and hopeless apprehension,

These words cannot portray our feeling of dismay,

Our minds in fear as we shed a tear

For those whose lost and those who suffer,

Awaiting news or searching through the thousands.

 

Undignified, coming to terms with loss of those who once loved but now no longer,

Mother Nature played her part so viciously,

Leaving just a simple question: Why?

Today I pray alone,

But I know I am not alone for the entire world will pray with me.

 

Kehidupan kita selalu mengeluh seolah-olah kita adalah yang paling menyedihkan di dunia. Biarkan ini menjadi pengingat bagi kita bahwa hidup adalah perjalanan, bahwa dunia adalah tempat transit sementara, hidup di dunia bukanlah tujuan akhir. Karena pada akhirnya, kita milik Tuhan dan kita akan kembali kepadaNYA. (*)

 

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Arti, Tujuan dan Fungsi menjadi Relawan Pendidikan

  Oleh: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Relawan pada hakikatnya adalah kata lain dari Kemanusiaan. Kalau ada orang yang ikhlas, tulus, dan bekerja tanpa pamrih untuk menolong...

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...