BerandaAkademiaCatatan Kritis tentang Dekonstruksi Narasi "Islamisasi Transoxiana"

Catatan Kritis tentang Dekonstruksi Narasi “Islamisasi Transoxiana”

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Salah satu topik yang menarik ketika kita membincang Perkembangan Islam di Asia Tengah adalah “Islamisasi Transoxiana”. Benarkah terjadi Dekonstruksi Narasi “Islamisasi Transoxiana”? Bagaimana kita mendeskonstruksi narasi bahwa Islamisasi di Transoxiana terjadi semata-mata karena asimilasi damai atau konversi massal pasca pertempuran Talas (751 M)? Sejauh mana institusi lokal pra-Islam (Zoroaster, Buddha, Manichaeisme) memengaruhi sintesis teologis dan hukum Islam di wilayah tersebut?

Ya, jika dianalisis, memang benar bahwa Islamisasi Transoxiana adalah proses adaptasi budaya dua arah yang panjang, bukan konversi teologis instan. Pasca-Pertempuran Talas, Islam tidak langsung menghapus tradisi lokal melainkan mengalami proses integrasi kelembagaan. Para ulama Transoxiana melonggarkan beberapa penerapan fikih awal guna memfasilitasi transisi ini—misalnya, kelonggaran dalam pelafalan bacaan salat menggunakan bahasa Persia pada masa awal, seperti yang sempat didiskusikan dalam mazhab Hanafi awal.

Selain itu, struktur institusi pendidikan pra-Islam, khususnya biara-biara Buddha (Vihara) di wilayah Balkh dan Transoxiana, secara arsiteural dan fungsional memberikan pengaruh besar pada perkembangan institusi Madrasah dan Khanaqah (pusat Sufi) di kemudian hari. Islamisasi yang sukses di Transoxiana justru terjadi ketika prinsip-prinsip Islam berhasil “diterjemahkan” ke dalam kosmologi kebudayaan Persia-Turki lokal.

Jika ingin mendiskusikan topik ini lebih lanjut, mari membedahnya lebih kritis lagi dengan Referensi Diskusi: Bulliet, Richard W. (1979). Conversion to Islam in the Medieval Period: An Essay in Quantitative History. Cambridge: Harvard University Press dan Litvinsky, B. A., & Zhang, Guang-da. (1996). History of Civilizations of Central Asia: Volume III: The Crossroads of Civilizations: A.D. 250 to 750. UNESCO Publishing.

Mari diskusi, silakan tinggal jejak komentar! Barakallahu fiikum. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT