Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Bulan Ramadhan sering kali menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa besar yang mengubah arah sejarah dunia. Jika pada 17 Ramadhan kita mengenang Kemenangan Badr, dan pada 20 Ramadhan kita merayakan Pembebasan Makkah (Fathu Makkah), maka tanggal 21 Ramadhan membawa kita pada perenungan mendalam tentang pengorbanan dan fitnah besar (Al-Fitnatul Kubra) yang menimpa umat.
Tanggal 21 Ramadhan dalam lembaran sejarah Islam bukanlah hari biasa. Ia tercatat dengan tinta emas sekaligus kesedihan yang mendalam. Di tanggal inilah, peradaban Islam kehilangan salah satu tiang penyangga utamanya, yakni Ali bin Abi Thalib ra., sekaligus menjadi momentum penting dalam transisi kepemimpinan umat.
Pada tanggal ini, tahun 40 Hijriah, Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, wafat setelah dua hari sebelumnya diserang saat hendak melaksanakan shalat Subuh. Setelah syahidnya Utsman bin Affan, stabilitas politik umat Islam mengalami guncangan hebat. Ali bin Abi Thalib memimpin dalam situasi yang sangat sulit, di mana ia harus menghadapi perselisihan internal dengan kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan serta munculnya kelompok Khawarij—kelompok yang awalnya mendukung Ali namun kemudian membelot karena tidak setuju dengan hasil Tahkim (arbitrase).
Bagaimana kronologi penyerangannya? Tiga orang dari kaum Khawarij berkumpul di Makkah dan bersepakat untuk membunuh tiga pemimpin besar yang mereka anggap sebagai sumber perpecahan: Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, dan Amru bin Ash.
Abdurrahman bin Muljam, salah satu dari mereka, berangkat ke Kufah untuk mengeksekusi Ali. Pada pagi buta tanggal 19 Ramadhan, saat Ali berjalan menuju Masjid Kufah sambil menyeru masyarakat untuk shalat: “Ash-Shalah… Ash-Shalah!”, Ibnu Muljam menebaskan pedang beracunnya ke dahi Ali. Ali terluka parah, dan setelah dua hari berjuang melawan racun tersebut, beliau mengembuskan napas terakhir pada malam 21 Ramadhan tahun 40 H.
Apa Wasiat Terakhir ‘Ali bin Abi Thalib? Sebelum wafat, Ali tidak memerintahkan anak-anaknya untuk membalas dendam secara membabi buta. Ia berwasiat agar tetap menjaga ketakwaan kepada Allah, menjaga hubungan silaturahmi, memperhatikan anak yatim, dan yang paling mengesankan: ia meminta agar Ibnu Muljam diperlakukan secara adil menurut hukum Islam, tanpa penyiksaan.
Wafatnya Ali pada 21 Ramadhan segera diikuti dengan pembaiatan putra sulungnya, Hasan bin Ali, sebagai Khalifah. Namun, peristiwa 21 Ramadhan ini menjadi awal dari proses panjang yang disebut “Tahun Persatuan” (Amul Jama’ah), di mana beberapa bulan kemudian Hasan memilih melepaskan jabatan khilafah demi menghindari pertumpahan darah lebih lanjut di kalangan Muslim. Ini adalah konsekuensi langsung dari kekosongan kepemimpinan yang ditinggalkan Ali pada 21 Ramadhan.
***
Peristiwa tragis ini memberikan pelajaran yang sangat kaya bagi peradaban manusia. Pembunuh Ali, Ibnu Muljam, bukanlah seorang pemabuk atau pelaku maksiat biasa. Ia adalah seorang ahli ibadah dan penghafal Al-Qur’an yang memiliki pemikiran ekstrim. Ia membunuh Ali karena merasa tindakannya adalah ibadah yang diridhai Allah.
Hikmahnya apa? Ibadah tanpa ilmu dan pemahaman yang benar (moderat) dapat menjerumuskan seseorang pada radikalisme. Keikhlasan saja tidak cukup; ia harus dibarengi dengan manhaj yang benar. Meskipun Ali tahu posisinya terancam, ia tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk menindas lawan politik secara tidak sah. Bahkan saat ia terluka, ia memastikan hak-hak hukum bagi penyerangnya tetap terjaga. Ini adalah puncak dari etika kepemimpinan Islam.
Ali bin Abi Thalib adalah simbol kesabaran. Ia memimpin di masa paling sulit, menghadapi cacian dan pengkhianatan, namun tetap fokus pada tugasnya sebagai penjaga agama. Peristiwa 21 Ramadhan mengajarkan kita bahwa kebenaran terkadang harus dibayar dengan nyawa, namun warisan intelektual dan spiritualnya akan abadi.
Wafatnya Ali menjadi pembuka jalan bagi ijtihad politik Hasan bin Ali untuk berdamai. Hikmahnya, terkadang seorang pemimpin harus “mengalah” atau mengorbankan ego politiknya demi keselamatan nyawa umat Islam secara keseluruhan.
Tabel Ringkasan Tokoh: Ali bin Abi Thalib
| Kategori | Keterangan |
| Gelar | Babul Ilm (Pintu Ilmu), Asadullah (Singa Allah) |
| Status | Sepupu & Menantu Rasulullah, Khalifah ke-4 |
| Wafat | 21 Ramadhan 40 Hijriah (Usia sekitar 63 tahun) |
| Penyebab | Tebasan pedang beracun oleh Abdurrahman bin Muljam |
| Makam | Najaf, Irak (Menurut mayoritas pendapat sejarawan) |
Mengenang 21 Ramadhan bukan berarti kita larut dalam kesedihan historis, melainkan mengambil semangat Ali bin Abi Thalib dalam berliterasi dan berbudaya. Ali adalah seorang orator ulung, sastrawan, dan hakim yang cerdas. Bagi generasi masa kini, khususnya para santri dan aktivis budaya.
Ali adalah inspirasi bahwa kekuatan sejati terletak pada kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlak, bukan pada senjata. Di akhir sepuluh malam terakhir Ramadhan, saat kita mencari Lailatul Qadar, kita diingatkan oleh peristiwa 21 Ramadhan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran adalah ibadah yang tak kalah mulianya dengan shalat malam. (*)
Bahan Bacaan:
Ash-Shallabi, Ali Muhammad. (2013). Biografi Ali bin Abi Thalib. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Ibnu Katsir. Al-Bidayah wan Nihayah (Masa Khulafaur Rasyidin).
Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk.
Madjid, Nurcholish. (2008). Islam, Doktrin, dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
An-Naisaburi, Al-Hakim. Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


