Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Tanggal 20 Ramadhan bukan sekadar angka dalam kalender Hijriah; ia adalah titik balik geopolitik dan spiritual yang mengubah wajah dunia selamanya. Di tanggal inilah terjadi Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah), sebuah peristiwa yang menandai kemenangan mutlak tauhid atas kemusyrikan dan cinta kasih atas dendam kesumat.
Dua tahun sebelum peristiwa ini, umat Islam dan kaum Quraisy menyepakati Perjanjian Hudaibiyah. Salah satu poin pentingnya adalah gencatan senjata selama 10 tahun. Namun, perdamaian ini dirusak oleh pihak Quraisy. Bani Bakr (sekutu Quraisy) menyerang Bani Khuza’ah (sekutu Muslim) di mata air al-Watir. Kaum Quraisy bahkan membantu Bani Bakr dengan senjata dan personel secara rahasia. Pengkhianatan ini menjadi casus belli atau alasan sah bagi Rasulullah SAW untuk bergerak menuju Makkah guna menegakkan keadilan.
Pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriah, Nabi Muhammad SAW berangkat dari Madinah membawa 10.000 pasukan. Ini adalah angkatan perang terbesar yang pernah dikumpulkan umat Islam hingga saat itu. Untuk meminimalisir pertumpahan darah, Nabi Muhammad SAW menggunakan strategi psikologis, dengan Penyalaan Api Unggun.
Saat mendekati Makkah, Nabi memerintahkan setiap prajurit menyalakan api unggun di Marra az-Zahran, menciptakan ilusi jumlah pasukan yang jauh lebih besar sehingga nyali kaum Quraisy menciut. Tokoh kunci Quraisy, Abu Sufyan, masuk Islam sebelum pasukan memasuki kota. Nabi memberikan penghormatan kepadanya dengan menyatakan bahwa siapa pun yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan aman.
Pasukan Muslim memasuki Makkah dari empat arah mata angin. Nabi Muhammad SAW memasuki kota dengan menundukkan kepala di atas untanya (Al-Qashwa) sebagai bentuk ketundukan kepada Allah, bukan sebagai penakluk yang sombong. Sesampainya di Masjidil Haram, beliau melakukan tawaf dan menghancurkan 360 berhala di sekitar Ka’bah sambil membacakan ayat, “Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81).
***
Peristiwa 20 Ramadhan memberikan pelajaran yang melampaui strategi perang. Ketika penduduk Makkah berkumpul di depan Ka’bah, menunggu keputusan nasib mereka. Setelah disakiti, diusir, dan diperangi selama 20 tahun, Nabi Muhammad SAW justru berkata: “Pergilah, kalian semua bebas!” Ini menunjukkan bahwa tujuan dakwah bukanlah balas dendam, melainkan hidayah dan tersebarnya dakwah Islam.
Ketika kaum Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah, umat Islam memiliki hak moral untuk bertindak. Integritas dan kejujuran dalam berjanji adalah fondasi stabilitas sosial, dan Umat Islam telah membuktikannya sebagai Kaum yang menjunjung tinggi Perjanjian. Peristiwa Fathu Makkah membuktikan bahwa prestasi besar, mobilisasi massa, dan perjuangan fisik justru mencapai puncaknya saat berpuasa.
Tabel Ringkasan Peristiwa
Di masa kini, pelajaran penting dari “Fathu Makkah” adalah bagaimana menaklukkan ego dan hawa nafsu. Pembebasan kota Makkah dari berhala fisik melambangkan pembersihan hati kita dari “berhala-berhala” modern seperti keserakahan, kebencian, dan kesombongan. Ya, Tanggal 20 Ramadhan mengingatkan kita bahwa kemenangan sejati datang setelah kesabaran yang panjang dan ketaatan yang mutlak. (*)
Bahan Bacaan:
Al-Mubarakfuri, Syafiyyurrahman. (2007). Ar-Rahiqul Makhtum (Sirah Nabawiyah). Jakarta: Ummul Qura.
Ash-Shallabi, Ali Muhammad. (2012). Sejarah Lengkap Rasulullah SAW. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Haekal, Muhammad Husain. (2015). Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera AntarNusa.
Ibnu Hisyam. As-Sirah an-Nabawiyyah.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


