Oleh: M. Farid W Makkulau *)
Related Post: Etnografi Kuliner Sulawesi Selatan: Simbolisme dalam Sajian Tradisional
PALONTARAQ.ID – Ramadhan di tanah Sulawesi Selatan, khususnya di Pangkep, bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga senja. Ia adalah sebuah musim semi bagi kemanusiaan, di mana nilai-nilai Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakainge (saling mengingatkan), dan Sipakalabbiri (saling memuliakan) mekar dengan begitu indahnya di pekarangan rumah-rumah panggung kita.
Di tengah riuh rendah ibadah personal, terselip sebuah tradisi komunal yang mampu menggetarkan relung hati siapa pun yang menyaksikannya: penyembelihan seekor sapi atau kerbau untuk hidangan Pallu Basa Daging bagi seluruh warga kampung. Tradisi ini biasanya dipicu oleh keberanian seorang tokoh masyarakat atau warga yang diberi kelebihan rezeki oleh Allah SWT, sang Maha Pemberi Rezeki.
Tradisi Buka Puasa “Pallu Basa Daging” dalam Bulan Ramadhan ini hampir setiap kampung dilaksanakan oleh mereka yang paling berharta dan dermawan. Di sini, kekayaan tidak dilihat sebagai capaian pribadi, melainkan amanah yang harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk kegembiraan bersama.
Memutuskan untuk memotong seekor sapi atau kerbau bukan perkara kecil. Namun, bagi sang pemberi hajat, ini adalah bentuk Siri’ dalam dimensi positif—rasa malu jika ia menikmati rezeki berlebih sementara tetangganya hanya makan seadanya di bulan suci. Ia memilih untuk “mengecilkan” ego hartanya demi “membesarkan” kebahagiaan kampungnya. Keberanian ini adalah bukti bahwa di Pangkep, kesalehan individual selalu berjalan beriringan dengan kesalehan sosial.
Begitu hewan ternak disembelih, rumah sang pemilik hajat berubah menjadi episentrum kegiatan. Tanpa perlu undangan formal melalui surat, warga berbondong-bondong datang. Kaum lelaki dengan sigap berbagi tugas menguliti dan memotong daging, sementara kaum perempuan berkumpul di dapur atau di bawah rumah panggung untuk menyiapkan bumbu-bumbu Pallu Basa yang kompleks.
Aroma kelapa sangrai (pappa’) yang ditumbuk manual mulai menyeruak, beradu dengan wangi lengkuas, serai, dan rempah-rempah rahasia ibu-ibu kampung. Di sini, sekat-sekat status sosial luruh. Seorang pejabat mungkin duduk bersila di samping seorang buruh tani, sama-sama mengiris daging. Inilah momen di mana soliditas dan solidaritas kampung ditempa dalam uap panas kuali besar (kandotto’). Tidak ada upah materi, hanya tawa renyah dan doa-doa pendek yang terucap di sela-sela kesibukan.
Ketika waktu berbuka hampir tiba, berpuluh-puluh—bahkan beratus-ratus—mangkuk mulai ditata. Uniknya, dalam tradisi ini, biasanya tidak ada menu pendamping lain. Hanya nasi putih yang mengepul dan semangkuk Pallu Basa Daging yang kaya rasa.

Penyajian menu tunggal ini memiliki filosofi yang dalam. Ia melambangkan Kasadiaang (kesederhanaan) dan kesetaraan. Semua orang, dari yang paling kaya hingga yang paling miskin di kampung itu, memakan makanan yang sama, dari sapi yang sama, dan dari kuali yang sama. Kelezatan daging yang empuk dan kuah yang gurih bukan lagi sekadar soal rasa di lidah, melainkan rasa syukur yang mengalir hingga ke jantung.
Momentum yang paling mengharukan terjadi saat tanda buka puasa (sirine atau bedug) berbunyi. Prosesi buka puasa bersama se-kampung ini berlangsung sangat cepat, hanya sekitar 5 hingga 7 menit. Dalam waktu yang sesingkat itu, keajaiban terjadi. Ratusan orang menyantap hidangan dengan khidmat namun cepat. Tidak ada obrolan panjang yang sia-sia. Fokusnya adalah membatalkan puasa dengan rezeki yang disyukuri bersama.
Suasana begitu ritmis dalam buka puasa bersama tersebut, ada rasa haru yang menyeruak melihat sebuah kampung benar-benar menjadi satu keluarga besar di bawah atap yang sama. Begitu mangkuk terakhir dikosongkan, seolah ada komando yang tak terdengar, warga berbondong-bondong meninggalkan rumah hajat menuju masjid untuk shalat Maghrib berjamaah. Rumah yang tadinya riuh mendadak sunyi, menyisakan doa yang membumbung tinggi ke langit.
Inilah tradisi masyarakat yang masih menjadi benteng pertahanan budaya kita. Di zaman di mana orang sering asyik dengan ponselnya masing-masing, tradisi buka puasa bersama se-kampung ini memaksa kita untuk saling menatap, saling melayani, dan saling merasakan kehadiran fisik sesama warga. Ini adalah wujud nyata dari Pangadereng (adat istiadat) yang tetap relevan. Melalui kebersamaan menikmati Pallubasa daging, kita sedang menyiram akar kekeluargaan agar tidak kering diterjang individualisme.
Tradisi Buka Puasa bersama ini adalah “layar ponsel” alami yang menampilkan konten paling mulia: cinta kasih antar manusia. Pallu Basa Daging untuk buka puasa se-kampung bukan hanya tentang mengisi perut yang kosong setelah seharian berpuasa. Ia adalah tentang mengisi jiwa-jiwa yang haus akan kebersamaan. Ia adalah monumen syukur masyarakat Pangkep atas kemurahan Tuhan. (*)
(* M. Farid W Makkulau, Pemerhati Budaya/Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep.


