Oleh: Etta Adil
Related Post: Nabila Zahat Ansar: Santri Hafidzah yang Raih “Kompeten” Content Creator
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini disusun dan dirangkai atas nama “Nabila Zahat Ansar” yang menggambarkan profil santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep yang berasal dari Sekolah Indonesia Mekkah (SIM) mengikuti Program Repatriasi Adem Kemdikbud RI.
Hijrah Ilmu dari Tanah Haram
(1)
Niatnya hijrah menembus rindu, meninggalkan ayah bunda yang jauh di Tanah Haram,
Adab dijunjung tinggi, menjadi mahkota diri santriwati,
Bahasa Arab dan Inggris mengalir luwes di lidahnya,
Istiqamah dalam belajar, tekun dalam setiap amanah,
Langkahnya aktif di organisasi dan kegiatan sekolah,
Aspirasi besarnya tumbuh: berprestasi dan sukses di banyak medan.
Zaman tak menyurutkan semangatnya meraih cahaya ilmu,
Asal Sekolah Indonesia Mekkah, jejak global membentuk wawasannya,
Hafalan Qur’an pernah ditempa dalam karantina tahfidz,
menjadi bekal jiwa yang teduh dan kuat,
Aktif di pramuka dan palang merah, terlatih sigap dan peduli,
Tumbuh sebagai santriwati sopan, tangguh, dan berdaya.
Amanah dijaga, janji ditepati dengan sepenuh hati,
Nalar kritis berpadu santun dalam setiap tutur,
Santriwati IMMIM yang menjahit mimpi dengan disiplin,
Aksi nyata lebih lantang daripada sekadar kata,
Rindu orang tua di Mekkah menjadi doa yang menguatkan langkah.
(2)
Nurani teguh di bumi Minasatene Pangkep tertanam
Abadikan semangat santriwati IMMIM yang tak pernah padam
Bakti tulus meski orang tua jauh di tanah haram
Ikhlas merantau demi ilmu, tinggalkan Mekkah yang tenteram
Langkah Repatriasi ADEM, membawa harapan besar di genggam
Ananda melangkah, dari SIM menuju masa depan yang ranum
Zuhud dalam laku, namun obsesi prestasi terus menderu
Adab dijunjung tinggi, sopan santun menjadi baju
Hafalan Al-Qur’an dipahat dalam karantina yang syahdu
Arab dan Inggris fasih mengalir, bahasa dunia ia padu
Tekun melatih diri, tak gentar pada rintangan yang baru
Aktif berorganisasi, jiwa kepemimpinan kian terasah
Nyali Pramuka dan Palang Merah, bukti raga yang gagah
Sukses di berbagai bidang, menjadi mimpi yang tak kunjung lelah
Andalkan doa orang tua yang di depan Ka’bah bersimpah
Raih kejayaan, Nabila sang mutiara yang penuh berkah
***
Puisi aktostik ini menyampaikan pesan bahwa perjalanan menuntut ilmu adalah bentuk hijrah yang penuh pengorbanan, termasuk meninggalkan orang tua dan zona nyaman. Sosok Nabila digambarkan sebagai santriwati yang Menjunjung tinggi adab sebagai fondasi ilmu, bukan sekadar kecerdasan akademik, Memadukan nilai keislaman, kecakapan bahasa, dan keaktifan organisasi, sebagai bekal menghadapi dunia global.
Pilihan mondok bukanlah pilihan yang mudah. Sosok Nabila menjadikan rindu kepada orang tua sebagai energi doa dan motivasi, bukan penghalang untuk berprestasi, meneladankan bahwa santri mampu berprestasi di banyak bidang, tanpa kehilangan akhlak, kesopanan, dan ketekunan. Intinya, puisi ini menegaskan pesan bahwa santriwati sejati adalah mereka yang berani berhijrah, menjaga adab, dan menata masa depan dengan prestasi. (*)
Minasatene-Pangkep, 17 Januari 2026
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


