BerandaArtikelSejarah Masuknya Islam di Malaysia

Sejarah Masuknya Islam di Malaysia

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Sejarah Masuknya Islam di Filipina

PALONTARAQ.ID – Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang menempatkan Islam sebagai agama federal sebagaimana termaktub dalam Pasal 3 Konstitusi Federal. Keberadaan Islam di Malaysia bukan sekadar fenomena teologis, melainkan pilar utama identitas Melayu.

Sejarah Islam di wilayah ini adalah narasi tentang pertemuan budaya, diplomasi perdagangan, dan transformasi sistem kenegaraan dari monarki tradisional Hindu-Buddha menuju kesultanan Islam yang berdaulat. Memahami sejarah Islam di Malaysia memerlukan tinjauan luas yang mencakup periode awal kedatangan, masa keemasan Malaka, tekanan kolonialisme, hingga restrukturisasi identitas pasca-kemerdekaan 1957.

  1. Sejarah Masuknya Islam di Malaysia

Kedatangan Islam ke Semenanjung Malaya (Tanah Melayu) tidak terjadi dalam satu peristiwa tunggal, melainkan melalui proses bertahap yang melibatkan jaringan perdagangan global. Para sejarawan seperti S.Q. Fatimi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas berpendapat bahwa Islam telah bersentuhan dengan wilayah semenanjung sejak abad ke-7 atau ke-8 Masehi. Hal ini didasarkan pada posisi strategis Selat Malaka sebagai jalur transit utama bagi pedagang Arab dan Persia yang menuju Cina.

Salah satu bukti paling konkret tentang keberadaan Islam yang terorganisir di semenanjung adalah ditemukannya Batu Bersurat Terengganu yang bertarikh 702 Hijriah (1303 M). Prasasti ini menggunakan aksara Jawi dan memuat hukum-hukum Islam mengenai perzinaan dan hutang piutang. Ini membuktikan bahwa sebelum berdirinya Kesultanan Malaka, hukum Islam sudah mulai diterapkan di wilayah pantai timur Semenanjung.

Sejarah lokal di Kedah mencatat melalui Hikayat Merong Mahawangsa bahwa Raja Kedah, Phra Ong Mahawangsa, memeluk Islam pada tahun 1136 M melalui bimbingan Syekh Abdullah al-Qumiri dan berganti nama menjadi Sultan Mudzaffar Syah. Hal ini memposisikan Kedah sebagai salah satu kesultanan Islam tertua di Malaysia.

2. Malaka: Pusat Gravitasi dan Proses Islamisasi

Puncak Islamisasi di Malaysia terjadi seiring berdirinya Kesultanan Malaka pada awal abad ke-15. Malaka bukan hanya menjadi pusat perdagangan ( entrepôt), tetapi juga menjadi “Mekkah Kecil” di Asia Tenggara.

Islam menjadi agama resmi Malaka setelah penguasanya, Parameswara (yang kemudian bergelar Sultan Iskandar Syah), memeluk Islam. Hal ini diikuti oleh pernikahan politik dengan putri dari Samudera Pasai. Dukungan istana menjadikan Islam sebagai agama elit yang kemudian merembes ke masyarakat bawah.

Islamisasi di Malaysia sangat dipengaruhi oleh perkawinan politik antara keluarga kerajaan Malaka dengan kerajaan-kerajaan tetangga di Pahang, Johor, dan Perak. Selain itu, para pedagang Muslim yang kaya sering kali menikahi putri-putri bangsawan lokal, yang secara otomatis memperluas komunitas Muslim di lingkaran kekuasaan.

Ulama-ulama dari Hadramaut dan Gujarat memainkan peran penting dalam menyebarkan Islam melalui pendekatan tasawuf yang akomodatif. Mereka mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi Melayu tanpa menghapus identitas lokal secara frontal. Bahasa Melayu kemudian mengalami proses “Arabisasi” melalui penggunaan aksara Jawi, yang menjadi media literasi utama bagi penyebaran ilmu agama, hukum, dan sastra.

3. Islam di Masa Penjajahan (1511 – 1957)

Kedatangan kekuatan kolonial (Portugis, Belanda, dan Inggris) membawa tantangan besar bagi eksistensi Islam, namun secara paradoks justru memperkuat identitas Islam sebagai simbol perlawanan terhadap “kafir” penjajah. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 menandai dimulainya tekanan terhadap Islam.

Portugis berupaya menyebarkan Kristen Katolik, namun hal ini justru memicu semangat jihad di kalangan penguasa Melayu, khususnya Kesultanan Johor-Riau dan Aceh. Sementara Inggris memperkenalkan sistem administrasi modern melalui sistem Residen. Berdasarkan Perjanjian Pangkor 1874, Inggris berjanji tidak akan mencampuri urusan “Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu”. Hal ini menyebabkan pemisahan tajam antara urusan duniawi (yang dikelola Inggris) dan urusan agama (yang tetap di bawah wewenang Sultan).

Pada awal abad ke-20, muncul gerakan reformasi Islam yang dipengaruhi oleh gerakan modernisme di Mesir (Abduh dan Rida). Kelompok ini dikenal sebagai Kaum Muda, yang menerbitkan majalah Al-Imam. Mereka mengkritik takhayul dan keterbelakangan, serta menyerukan umat Islam Melayu untuk maju melalui pendidikan dan kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah. Gerakan inilah yang menjadi embrio nasionalisme Melayu-Muslim di Malaysia.

4. Islam di Masa Kemerdekaan dan Kontemporer

Pasca-kemerdekaan pada 31 Agustus 1957, posisi Islam di Malaysia menjadi sangat sentral dalam struktur kenegaraan. Dalam Konstitusi Federal Malaysia, Islam ditetapkan sebagai Agama Federasi. Meskipun Malaysia adalah negara demokrasi parlementer, Sultan-Sultan di tiap negara bagian tetap memegang peran sebagai Ketua Agama Islam. Hal ini memberikan legitimasi konstitusional yang kuat bagi institusi Islam.

Pada masa pemerintahan Tun Dr. Mahathir Mohamad, terjadi proses “Islamisme Pemerintah” yang masif. Pemerintah memperkenalkan kebijakan “Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Pentadbiran” (pemerintahan). Pendirian institusi seperti Universitas Islam Internasional Malaysia (UIAM) dan Bank Islam merupakan bagian dari strategi untuk menjadikan Malaysia sebagai model negara Muslim modern yang maju secara ekonomi namun tetap berpegang pada nilai agama.

Sebagai negara multietnis (Melayu, Cina, India), Malaysia menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan aspirasi kelompok Islam konservatif dengan hak-hak non-Muslim. Isu-isu seperti penerapan hukum syariah dan sertifikasi halal sering menjadi diskursus hangat dalam politik nasional, yang mencerminkan dinamika antara tradisi dan modernitas.

Jadi, Sejarah Islam di Malaysia adalah potret evolusi dari sebuah keyakinan yang dibawa melalui jalur perdagangan menjadi fondasi identitas nasional yang kokoh. Islam di Malaysia berhasil bertahan melintasi berbagai zaman—mulai dari kemegahan kesultanan, gelapnya masa kolonial, hingga menjadi kekuatan penggerak pembangunan di era kemerdekaan. Keunikan Islam di Malaysia terletak pada kemampuannya menyatukan aspek tradisional (Sultan) dengan aspek modern (birokrasi pemerintah), menjadikannya salah satu episentrum pemikiran dan ekonomi Islam di dunia saat ini.

Bahan Bacaan:

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1972). Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia.

Azra, Azyumardi. (2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai’i Press.

Andaya, Barbara Watson & Andaya, Leonard Y. (2017). A History of Malaysia. London: Palgrave Macmillan.

Hooker, Virginia Matheson. (2003). A Short History of Malaysia: Linking East and West. Crows Nest: Allen & Unwin.

Mutalib, Hussin. (1990). Islam and Ethnicity in Malay Politics. Singapore: Oxford University Press.

Yatim, Othman. (1988). Batu Bersurat Terengganu: Perspektif Arkeologi dan Sejarah. Kuala Lumpur: Persatuan Sejarah Malaysia.

Milner, Anthony. (2011). The Malays. Oxford: Wiley-Blackwell.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

11 KOMENTAR

  1. Tanggapan saya mengenai sejarah masuknya islam dimalaysia melalui proses bertahap melibatkan jaringan pedagangan global yang menjadi fondasi nasional yang kokoh

  2. -Masuknya islam kemalaysia yaitu kedatangan islam pada abad ke 7 atau ke 8 kesenanjung malaya (Tanah Melayu )tdk terjadi dalam satu peristiwa tunggal,melainkan melalui proses bertahap yang melibatkan jaringan perdagangan global.Salah satu bentuk bukti keberadaan islam dimalaysia adalah semenanjung yaitu ditemukannya batu tersurat terenganu yang tertarik 702 Hijriah (1303 M).
    -Puncak islamisasi dimalaysia terjadi seiring berdirinya kesultanan malaka pada awal abad ke 15 yang dipimpin oleh sultan iskandar pasai.
    -Islam dimasa penjajahan (1511-1957) kedatangan kolonial (Potugis,Belanda dan Inggris)membawa tantangan besar bagi eksistensi islam,dan jatuhnya malaka ketangan Portugis pada 1511 menandai dimulainya tekanan terhadap islam.
    -Pada awal abad ke 20 muncul gerakan reformasi islam yang dipengaruhi oleh gerakan modernisme di mesir (Abduh dan Rida) yang disebut kelompok muda.Mereka mengkritik takhayul dan keterbelakangan,serta menyerukan umat islma melayu untuk maju melalui pendidikan dan kemabali ke Al-Qur’an dan sunnah.
    -jadi,sejarah islam dimalaysia adalah potret evolusi dari sebuah keyakinan yang dibawa melalui jalur perdagangan menjadi fondasi identitas nasional yang kokoh.

  3. tanggapan saya mengenai artikel ini, islam masuk ke malaysia melalui jalur perdagangan dan prosesnya berjalan dengan damai, kerajaan malaka memiliki peran penting sebagai pusat penyebaran agama tersebut pada masanya.

  4. Tanggapan saya:Islam masuk ke sulawesi selatan secara resmi pada awal abad ke-17,meskipun kontak dagang dengan muslim sudah terjadi jauh sebelumnya.

  5. Tanggapan saya:sejarah islam di malaysia sangan menarik karena prosesnya yang damai melalui jalur perdagangan di malaka.kesultanan maysia menjadi pusat penyebaran islam

  6. Raisatuzzakinah
    Kelas 12
    Tanggapan : Menurut saya, sejarah islam di Malaysia sangat menarik karena menunjukkan bahwa islam berkembang melalui jalur perdagangan dan kekuasaan politik, terutama melalui Kesultanan Malaka.
    saya juga memahami bahwa islam menjadi bagian penting dari identitas Melayu dan tetap dipertahankan hingga masa modern.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT