Oleh: Etta Adil
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Nur Iman Suriati binti Sauri” ini menggambarkan perjalanan seorang anak yang tangguh menghadapi perantauan, mampu bangkit dari tantangan, lalu kembali ke tanah air demi pendidikan yang lebih baik. Kaidah nahwu dijadikan simbol keteraturan hidup—bahwa setiap langkah, seperti susunan kata dalam kalimat, memiliki fungsi dan tujuan.
Pesan utamanya adalah pentingnya resiliensi (daya tahan diri), kemampuan beradaptasi di lingkungan baru seperti pesantren, serta ketekunan dalam belajar hingga mampu menguasai bidang teknologi informasi dan komunikasi. Di balik semua usaha itu, doa dan harapan orang tua menjadi sumber motivasi terbesar—ibarat harakat yang menghidupkan kata—memberi arah, kekuatan, dan semangat untuk terus maju meraih masa depan.
Harakat Harapan di Tanah Perantauan
Niat teguh bagai Nashab yang lurus arahnya,
Ujian hidup menjadi Uslub penguat jiwa,
Resiliensi terangkat seperti Rafa’ mulianya.
Iman tertanam bak Isim yang tetap maknanya,
Merantau jauh bagai Majrur terikat sebab dunia,
Akhirnya pulang seperti Athaf yang menyambung cita,
Nurani memilih pendidikan sebagai cahaya.
Suriati melangkah seperti Sifat yang setia,
Untuk beradaptasi di pesantren penuh makna,
Rangkaian hari disusun rapi layaknya Rabitah bahasa,
I’rab waktu diisi belajar tanpa jeda,
Amal ilmu tumbuh perlahan namun nyata,
Tekun ibarat Taukid yang menguatkan usaha,
Ikhlas menjadikan langkahnya bermakna.
Bin menjadi penghubung seperti Ba’ yang menyerta,
Informasi dan komunikasi kini ia kelola,
Nalar teknologi dipadukan adab mulia.
Sauri terpatri sebagai doa orang tua,
Aspirasi keluarga bagai Alif Lam pengenal makna,
Usaha tak goyah meski jarak pernah ada,
Rindu kampung halaman berubah jadi tenaga,
Intinya harapan orang tua menjadi harakat jiwa.
***
Minasatene-Pangkep, 21 November 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


