BerandaLiterasiPuisi: Berhati Putih, Menari dalam Iman

Puisi: Berhati Putih, Menari dalam Iman

Oleh: Etta Adil 

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini ditulis sebagai potret perjalanan seorang santri bernama Qhilby Abhya, yang menapaki bangku kelas satu SMA dengan hati yang bening dan semangat yang hidup. Berasal dari Kabupaten Enrekang, ia membawa ke pesantren bukan hanya kecerdasan dan ketekunan belajar, tetapi juga bakat seni tari yang telah menghiasi berbagai panggung, baik di dalam maupun di luar lingkungan pondok. Gerak yang ia persembahkan bukan sekadar ekspresi seni, melainkan bahasa syukur atas potensi yang dianugerahkan.

Sebagaimana makna namanya—berhati putih—puisi ini menyampaikan pesan tentang pentingnya ketulusan dalam berinteraksi, menghargai persahabatan, dan menumbuhkan empati sosial. Keaktifannya dalam Palang Merah Remaja, keterlibatan dalam tahfidz Al-Qur’an, kecintaan pada pelajaran kepesantrenan, serta capaian sebagai sepuluh besar Duta Santri menjadi bukti bahwa kecerdasan sejati tumbuh bersama kepedulian dan akhlak.

Berhati Putih, Menari dalam Iman

(1)

Qalbu yang bening tercermin dari sikap dan laku
Hangat dalam pergaulan, supel menyapa siapa pun
Intelek tumbuh seiring kecintaan pada ilmu pesantren
Lentik gerak menari menjadi bahasa jiwa
Berkali-kali ia tampil, di dalam dan luar pondok
Yakin mengekspresikan bakat sebagai wujud syukur

Asal Enrekang ia bawa dalam langkah merantau
Berhati putih—sebagaimana namanya, tulus dan bersahaja
Hormat pada pertemanan, setia pada kejujuran
Yang terbaik ia upayakan dalam setiap peran
Aktif sejak SMP, kini kelas satu SMA

(2)

Qudwah kecil bagi lingkungan sekitarnya
Hadir sebagai muslimah yang cerdas
Ikhlas menebar kasih
Lurus niat dalam setiap amal
Bersinar tanpa harus menyilaukan
Yang tumbuh dengan cinta dan ketulusan

Amanah prestasi ia raih, sepuluh besar Duta Santri
Bergerak di Palang Merah Remaja dengan empati
Hafalan Al-Qur’an dijaga dalam kegiatan tahfidz
Yakin bahwa ayat-ayat suci menuntun langkah
Ada perjuangan sunyi demi harapan orang tua dan ridha-Nya. 

***

Melalui puisi ini, pembaca diajak memahami bahwa menjadi santri bukan hanya tentang prestasi, tetapi tentang menjadi manusia yang utuh: cerdas dalam pikir, lembut dalam rasa, aktif dalam pengabdian, dan tulus dalam setiap niat—sebuah ikhtiar panjang untuk memenuhi harapan orang tua dan meraih ridha Allah.

Minasatene-Pangkep, 7 November 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT