Beranda Feature Membayangkan Papua lepas dari NKRI

Membayangkan Papua lepas dari NKRI

Bintang Kejora berkibar di depan istana negara. (foto: ist/palontaraq)
Bintang Kejora berkibar di depan istana negara. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Asyari Usman, Wartawan senior

Related Post:  Menanti ‘Negara hadir’ di Papua

PALONTARAQ.ID – Mudah-mudahan saja gerakan referendum Papua tidak membesar. Dan tidak sampai menjadi negara sendiri. Soalnya, saya belum pernah menginjakkan kaki di Bumi Cendrawasih. Maaf, malu sebetulnya mengatakan ini.

Sudah lama sekali ingin mendatangi saudara sebangsa di Papua. Kunjungan ke sini selalu tertangguhkan karena dulu itu saya ingin keliling Papua selama sebulan atau lebih.

Tapi, karena masa cuti kerja tak pernah cukup, saya pun bertekad datang ke sini setelah pensiun. Teorinya, pasti banyak waktu kalau sudah tak bekerja lagi.

Ternyata, muncul masalah baru. Setelah pensiun, yang kurang bukan waktu tapi biaya. Namun, tekad untuk berkunjung ke pedalaman Papua tidak surut. Bahkan, perkembangan terbaru ini semakin membuat saya penasaran.

Penasaran untuk bertanya langsung kepada orang Papua apakah mereka sudah tak suka lagi berada di NKRI. Kalau iya, mengapa mereka tak suka.

Lihat pula: Orang Papua buat pucat Rezim Penguasa

Apakah gara-gara rasisme monyet di Surabaya? Entahlah! Kelihatannya lebih dari itu. Saya sepakat dengan kesimpulan Pak Amien Rais bahwa rasisme monyet itu hanya pemantik kerusuhan. Benar seratus persen bahwa orang Papua sudah puluhan tahun ini menyimpan sakit hati terhadap perlakuan yang mereka alami. Ketidakadilan yang akut.

Kalau gara-gara rasisme monyet itu orang Papua ingin lepas dari NKRI, sangatlah menyedihkan. Jangan-jangan nanti harus pakai paspor untuk masuk ke Papua. Itu pun kalau tak ditolak. Kalau ditolak karena orang Indonesia mereka masukkan kategori sadis, lebih sedih lagi.

Itulah bayangan saya bila Papua tak sudi lagi bersama NKRI. Semoga saja sebelum itu terjadi, saya bisa sampai ke Papua. Sehingga tidak harus memohon visa kunjungan dan masuk melewati meja imigrasi mereka.

Tak terkatakan sekiranya ini terjadi. Tapi, saya bisa membayangkan kalau orang Papua merasa semakin jauh dari Indonesia. Semakin tak betah di rumah NKRI. Wallahu a’lam.

25 Agustus 2019

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...