Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Cinta yang Baik Harus Beradab seperti ilmu tajwid yang menjaga bacaan Al-Qur’an agar tidak salah makna, cinta pun harus dijaga agar tidak melampaui batas, tidak tergesa, dan tidak merusak niat.
Mengungkap Rindupun tidak harus Ribut, sebagaimana dalam kaidah Ilmu Tajwid, Rindu bisa digambarkan seperti ikhfa’, rindu yang disembunyikan, mad, sabar yang dipanjangkan, dan qalqalah, getar hati yang tertahan.
Berikut ini adalah puisi akrostik atas nama “Ustadz Syaharuddin” yang mengungkap cinta dan rindu dengan berdasar kaidah ilmu tajwid.
Cinta yang Dibaca dengan Tajwid
Ungkapan cintaku padamu seperti idzhar,
jelas di hati, jujur di niat, tak ingin kusembunyikan.
Sabar kupanjangkan seperti mad thabi‘i,
sebab rindu tak selalu harus tiba cepat.
Tiap namamu kusebut dengan tartil,
perlahan, agar maknanya tak terluka.
Aku belajar menahan rasa seperti ikhfa’,
ada rindu yang cukup Allah saja mendengarnya.
Dalam diam, hatiku sering qalqalah,
bergetar setiap kali jarak menyebut namamu.
Zikir rindu ini tak pernah salah makhraj,
karena niatku lurus, bukan main-main.
Saat kita berjumpa, rasaku menjadi idgham,
aku melebur dalam tenangmu, tanpa sisa ego.
Yakinlah, cintaku tak pernah lahn,
tak salah baca, tak keliru arah.
Adaku padamu kutata dengan ghunnah,
lembut, mendengung, menetap di relung jiwa.
Harapan ini kujaga seperti waqaf hasan,
berhenti sejenak, bukan menyerah.
Aku merindu dengan adab,
sebab cinta yang baik tahu batas dan arah.
Rindu ini bukan tergesa,
ia paham kapan harus lanjut, kapan harus sabar.
Untukmu, doaku selalu mutqin,
tepat, sungguh, dan penuh kesungguhan.
Di setiap malam, kusebut namamu tanpa suara,
seperti ayat yang dibaca hati.
Dalam jarak, aku tetap setia pada makna,
bukan sekadar bunyi.
Izin Allah adalah akhir dari semua bacaan,
tempat cintaku berharap disempurnakan.
Niscaya, bila waktunya tiba,
kita dipertemukan dalam bacaan paling indah:
cinta yang benar,
seperti Al-Qur’an yang dijaga tajwidnya.
***
Puisi akrostik diatas menegaskan bahwa cinta dan rindu tidak boleh asal diungkapkan, tapi dibaca, dijaga, dan diberi adab, sebagaimana membaca Al-Qur’an. Dengan metafora: lahn (kesalahan bacaan), makhraj, waqaf hasan, puisi ini mengingatkan bahwa cinta yang benar tidak salah niat, tahu kapan berhenti, dan tahu kapan melanjutkan.
Penutup puisi menegaskan: Allah adalah penentu akhir dari semua bacaan dan pertemuan. Artinya, cinta tidak berhenti pada rasa, tetapi menuju keutuhan makna dan keridaan Ilahi. Ringkasnya, Puisi ini ingin berkata, Cintailah seperti membaca Al-Qur’an: pelan, benar, beradab, dan penuh tanggung jawab. (*)
Minasatene-Pangkep, 2 Agustus 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen


