Ikatlah Ilmu dengan Menulis

by Etta Adil | Sabtu, Jun 23, 2018 | 523 views
Ikatlah ilmu dengan menulis. (foto: ist/palontaraq)

Ikatlah ilmu dengan menulis. (foto: ist/palontaraq)

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis maka ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Demikian kata Pramoedya Ananta Toer. Menulis sama dengan bekerja untuk keabadian. Usia pemikiran bisa lebih panjang dari umur penulisnya selama pemikiran itu telah dituliskan di ruang ingatan publik, baik dalam bentuk buku, artikel di koran, atau tulisan terpublish di internet. Hanya saja yang perlu diingatkan disini adalah bagaimana menulis pemikiran asli dengan referensi yang dapat dipertanggung-jawabkan. Jika menulis hanya dengan menduplikasi karya orang lain, maka itupun berarti mengabadikan diri sebagai ‘penulis copas’.

Ulama besar Islam, Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya”. Maka menulis adalah syarat untuk menjadi pembelajar yang baik dan unggul. Seorang pembelajar akan kental dengan genealogi keilmuan jika memiliki kebiasaan menulis, yang karyanya bisa dinikmati turun-temurun dan secara terus-menerus bersambung. Tradisi keilmuan semacam ini harus menjadi proses pembelajaran yang teruji dan bertanggung jawab. Setiap pembelajar harus diuji pemikiran dan pendapatnya lewat tulisannya yang terbuka untuk dibedah, dikritik, atau dibela, sehingga keilmuannya menjadi bahan yang terbuka untuk dikembangkan melampaui umur penulisnya.

Dua buku yang memotret sisi lain Nabi Muhammad SAW. Buku inspiratif semacam ini tetap dibutuhkan anak zaman untuk membangun peradaban yang lebih baik. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dua buku yang memotret sisi lain Nabi Muhammad SAW. Buku inspiratif semacam ini tetap dibutuhkan anak zaman untuk membangun peradaban yang lebih baik. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Tradisi menulis sebenarnya harus dikembangkan dengan baik di berbagai sekolah dan pesantren, pada berbagai forum komunitas, seminar, pelatihan, dan majelis ilmu. Akar keilmuan selalu tak bisa dilepaskan dari tradisi literasi yang kuat. Budaya menulis dan membaca adalah landasan utama bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk didalamnya adalah pengetahuan dalam bidang keagamaan, bahasa, dan kemanusiaan. Ya, pesan, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya” adalah sebuah pesan mempertahankan kemajuan dan keadaban.

Pada Abad IX-X, Peradaban Islam mengalami puncak kemajuan dalam berbagai bidang sains dan hingga kini masih dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan modernisme. Sebut saja misalnya, ilmuwan dan filsuf Islam, Alfarabi, ahli astronomi dan matematikawan, Albatani, Bapak kedokteran modern Ibnu Sina yang di dunia barat dikenal dengan nama Avicenna, Bapak Aljabar dan Penemu angka 0 Alkhawarizmi. Ada pula Ibnu Khaldun, pengarang kitab Muqaddimah, serta tokoh islam lainnya yang mampu memberikan warisan berharga serta sumbangsih emas kemajuan sains modern lewat tulisannya.

Bekali diri dengan tekun membaca dan menulis. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Bekali diri dengan tekun membaca dan menulis. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Kitab Muqqadimah karya Ibnu Khaldun malahan menjadi menjadi salah satu buku yang wajib dibaca atas rekomendasi dari CEO Facebook Mark Zuckerberg. Tradisi kepenulisan para ulama dan ilmuwan muslim ini harus terus berlanjut. Mengikat ilmu dengan menuliskannya adalah tradisi penting dalam Islam. Dakwah lewat tulisan adalah salah satu metode dakwah bagi kemajuan peradaban dan terangnya dunia sains modern. Dalam konteks kekinian, tak sedikit mahasiswa dan sarjana muslim menuntaskan dahaga keilmuanya ke Timur Tengah, serta ke Benua Erofah dan Amerika untuk selanjutnya tampil sebagai pemegang sanad keilmuan yang mencerahkan.

Keteladanan menulis sanad keilmuan harus terwariskan dengan baik. Mari kita belajar dari ‘alim ulama di Nusantara yang faqih dan mumpuni keilmuannya, yang kesemuanya itu terbaca bukan hanya dari dakwahnya tapi juga lewat karya kitab yang dituliskannya. Tak dapat dipungkiri keilmuan Syaikh Ahmad Khatib al-Sambasai, Syaikh Ahmad Nahrawi Muhtaram al-Banyumasi, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani, Syaikh al-Singkili, Syaikh Ahmad al-Mingkabawi, Syekh Yusuf al-Maqassari dan masih banyak lagi ulama Nusantara lainnya yang berhasil sebagai ulama besar dalam kurun waktu Tahun 1800-1900.

Buku "Metode Pengobatan Nabi", warisan keilmuan ilmuwan muslim, Ibnul Qayyim al-Jauziyah. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Buku “Metode Pengobatan Nabi”, warisan keilmuan ilmuwan muslim, Ibnul Qayyim al-Jauziyah. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir paska kemerdekaan, kita juga menyaksikan ulama pejuang dan pejuang yang alim lewat warisan karya tulisnya. Sebut saja misalnya M. Natsir, Buya Hamka, HOS Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, dan lain sebagainya. Buya Hamka malahan menyelesaikan Tafsir al-Azhar saat dipenjara. Luar Biasa. Mereka tak pernah melepaskan pena-nya dalam mengakselerasi pemikiran dan perjuangannya untuk kemajuan bangsa, demi tanah air dan agamanya. Olehnya itu, tradisi kepenulisan ini tak boleh berhenti, terlupakan atau dilupakan.

Lewat tulisan, setiap kita harus semangat menebar kebaikan serta menginspirasi banyak orang. Sekali lagi, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Melalui tulisan dan buku, percayalah bahwa kita mampu menggerakkan orang lain, minimal menggerakkan diri dan lingkungan kita untuk tercerahkan dan berubah menjadi lebih baik. Inspirasi dan motivasi harus lewat pengetahuan dan pengalaman yang dituliskan, baik dalam bentuk buku maupun lewat tulisan di blog (ngeblog), sehingga tak lekang oleh waktu dan zaman. Mari berliterasi, entah sebagai penulis atau blogger, meningkatkan keterampilan membaca dan menulis yang baik sehingga membangun pemikiran dan pengetahuan yang berkeadaban. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response