BerandaAkademiaMengapa Memilih Magister Sejarah Peradaban Islam di UIN Alauddin Makassar?

Mengapa Memilih Magister Sejarah Peradaban Islam di UIN Alauddin Makassar?

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Mengapa Mesti Belajar Sejarah Kebudayaan Islam?

PALONTARAQ.ID – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri, sampai pada hari ini, penulis masih diberikan kesehatan, kesempatan dan waktu luang untuk dapat terus belajar, belajar, dan belajar. Semangat menuntut ilmu ini bagi penulis adalah Perintah Agama sekaligus Kewajiban Individual.

Al-Qur’an dan Hadits secara eksplisit memerintahkan umat Muslim untuk menuntut ilmu. Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra'” (Bacalah), yang secara luas diartikan sebagai perintah untuk mencari ilmu, membaca, dan mempelajari segala sesuatu. Nabi SAW juga bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim (laki-laki dan perempuan).” Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah bagian tak terpisahkan dari praktek keagamaan.

Pagi hari ini, Selasa (29/7/2025), penulis menyempatkan untuk memeriksa media sosial, sekaligus mengecek Pengumuman Kelulusan 483 Mahasiswa Magister (S2) dan 117 Mahasiswa Tingkat Doktor (S3) Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Alhasil, Alhamdulillah, penulis dinyatakan lulus untuk Program Studi S2 Dirasah Islamiyah dengan Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI).

Pengumuman Kelulusan Mahasiswa Baru S2 dan S3 Tahun Akademik 2025/2026 ini tertuang dalam Keputusan Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Makassar Nomor 2986 Tahun 2025. Keputusan untuk kembali kuliah S2 ini sebenarnya merupakan rencana lama, sekitar 3-4 tahun lalu, namun baru pada Tahun 2025 ini penulis pandang sebagai waktu yang tepat. Mengapa mesti kuliah S2 lagi, kan sudah S2 (Magister Manajemen Sumber Daya Manusia, M.M.)? Mengapa tidak mengambil program Doktor (S3) saja, dan Mengapa memilih konsentrasi Sejarah Peradaban Islam (SPI) di UIN Alauddin? Sederet pertanyaan ini sebenarnya merupakan akumulasi pertanyaan dari Orang-orang terdekat penulis, dari istri, rekan sesama guru dan blogger, dari banyak sahabat dan teman.

  1. Alasan Personal dan Dasar Kepenulisan

Tak banyak orang yang tahu bahwa setamat SMA, penulis kuliah pertama kali di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL), suatu institusi pendidikan kedinasan dibawah naungan Departemen Kesehatan (1994-1997), kemudian merantau dan sepulangnya menikah dan menjalani profesi sebagai Jurnalis. Profesi sebagai Jurnalis ini hampir 10 tahun dijalani (2001 s.d. 2010), dari jurnalis koran mingguan hingga lompat ke media Fajar Group, sampai akhirnya membentuk/mengelola media online sendiri sejak tahun 2016, Ettapedia dan Media Palontaraq Group dibawah perusahaan CV. Media Palontaraq. Pada Tahun 2011-2014, penulis menyelesaikan S1 Syariah di STAI DDI Pangkep.

Banyak dinamika dalam pekerjaan dan kuliah, salah satunya adalah kenyataan bahwa semasa menjalani profesi jurnalis, beberapa kali mendapatkan sidejob, menulis buku tentang Pangkep, diantaranya yang terbit dan isinya menjadi perbincangan luas di masyarakat adalah: Sejarah dan Kebudayaan Pangkep (Pemkab Pangkep, 2007), Kapten Harimau Indonesia-Andi Mappe, Pahlawan Pejuang Kemerdekaan (Pemkab Pangkep, 2007), Biografi Perjuangan Andi Burhanuddin (Pemkab Pangkep, 2007), Manusia Bissu (Pustaka Refleksi, 2008), Sejarah Kekaraengan di Pangkep (Pustaka Refleksi, 2008), dan beberapa buku lainnya.

Sejak aktif menulis buku inilah, nama penulis mulai dikenal luas masyarakat, khususnya di Pangkep dan tak sedikit diantaranya melabeli penulis sebagai sejarawan dan budayawan dalam berbagai forum seminar, simposium, diskusi publik, bedah buku, dan kegiatan ilmiah lainnya. Hingga hari ini penulis rasanya malu dilabeli dengan predikat sebagai sejarawan dan budayawan, namun tak pernah merasai bangku kuliah di jurusan sejarah. Hal inilah yang kemudian mendorong penulis untuk kuliah kembali, memilih jurusan sejarah.

Profesi sebagai jurnalis (wartawan) selama kurang lebih 10 tahun ini memberi hikmah dan banyak pelajaran penting dalam hidup, apalagi anggapan sebagian besar orang yang mengatakan bahwa jurnalis yang kemudian menjadi penulis itu “orang hebat”, salah satunya karena pernah merekam banyak peristiwa penting di banyak tempat, dan banyak diantara narasumbernya sudah tidak ada lagi. Praktis berita atau peristiwa yang ditulisnya telah menjadi “sejarah” dengan sendirinya.

Sebenarnya profesi sebagai jurnalis itu memungkinkan seseorang itu membahas dan menulis tentang apa saja, tanpa harus melihat latar belakang pendidikannya. Margiono (alm), mantan Ketua Umum PWI Pusat selama dua periode (2008-2013 dan 2014-2019) pernah mengatakan, “Wartawan itu mengetahui sesuatu tentang semua, dan mengetahui semua tentang sesuatu“. Kutipan ini menggambarkan esensi dari profesi wartawan, yaitu kemampuan untuk memiliki pengetahuan yang luas (generalist) namun juga bisa mendalami suatu isu tertentu secara mendalam (specialist) ketika diperlukan. Inilah filosofi harus dipegang teguh oleh para jurnalis atau wartawan. Jadi, sebenarnya tidak masalah jika seorang jurnalis menulis buku sejarah, meski yang bersangkutan tidak memiliki latar belakang pendidikan sejarah.

Lantas, mengapa memilih konsentrasi studi: Sejarah Peradaban Islam? Saat menyelesaikan S1 Tahun 2014, saat itu penulis sudah masuk bekerja pula sebagai Humas Pesantren di Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep dan ditawari pula mengampu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Jadi, Kloplah! Tapi, sebenarnya ada alasan personal yang lebih mendalam dari semua alasan yang telah dijelaskan diatas. Apa itu?

Semasa menjadi jurnalis (wartawan) di Pangkep selama 10 tahun itu, banyak tempat yang didatangi, tak hanya dari perkotaan, tapi sampai menjangkau wilayah pegunungan dan kepulauannya, dari desa dan kelurahannya, hingga kampung, gang, lorong, dan pulau yang paling terpencilnya sekalipun, penulis mencoba meraba dan menelusuri asal usul tempat dan daerah yang didatangi tersebut hingga sampai pada kesimpulan: Pangkep adalah daerah yang kehilangan jejak sejarahnya! Dan anehnya, tak seorangpun yang merasa terpanggil untuk menulis sejarah daerahnya sendiri. Kalau suatu daerah kehilangan jejak sejarahnya, maka akan sukar pula daerah itu mengidentifikasi budayanya, hingga berdampak pula Pemerintahnya sukar melakukan pendekatan kemasyarakatan, karena samar identitas sosial masyarakat itu.

Mengapa pendekatan sosial, identifikasi sejarah dan budaya itu penting bagi pemerintahan? Bahkan tak hanya pemerintah, bagi perusahaan sekalipun penting dan perlu pendekatan sejarah budaya untuk mendapatkan tempat di hati masyarakat. Hal ini telah penulis buktikan sendiri, dan memakai pendekatan sejarah dan budaya itu ketika bekerja sebagai Konsultan CSR, Local Community Organizer (LCO) di PT. Semen Tonasa (2015-2018).

Jadi, untuk dilabeli mantap sebagai “Sejarawan” nampaknya tak cukup hanya pengalaman panjang mengakrabi masyarakat, dan sebagai jurnalis, tapi harus “mengilmui” bagaimana Ilmu Sejarah itu bekerja. Satu hal yang membuat penasaran penulis mengapa memilih konsentrasi studi Sejarah Peradaban Islam adalah kenyataan bahwa “Sejarah Islam” di Pangkep juga samar dan belum banyak yang tulis. Penulis menjadi terobsesi untuk kuliah S2 Sejarah Peradaban Islam dalam rangka ingin mengangkat penelitian, “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Pangkep”. Inilah alasan emosional kuliah lagi, sekaligus latar belakang kepenulisan ilmiah tentang itu.

2. Alasan Keunggulan Akademik dan Kurikulum SPI di UIN Alauddin

Mengapa memilih program studi magister Dirasah Islamiyah dengan konsentrasi Sejarah Peradaban Islam di UIN Alauddin Makassar, karena jurusan atau konsentrasi studi ini hanya ada UIN, tidak di Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan tidak juga Universitas Negeri Makassar (UNM). Pilihan ini bukan tentang gelar akademik, tetapi lebih kepada pendalaman ilmu dan lingkungan akademik yang mendukung.

UIN Alauddin Makassar, sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terkemuka di Indonesia Timur, memiliki tradisi panjang dalam studi Islam. Program Magister Sejarah Peradaban Islam (SPI) dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang perkembangan peradaban Islam dari berbagai aspek.

Penulis sangat berharap di UIN Alauddin, dengan konsentrasi studi Sejarah Peradaban Islam, akan diajak untuk Mendalami Metodologi Historiografi Islam. Bukan hanya mempelajari peristiwa, tapi juga cara meneliti, menganalisis Sumber-sumber primer dan sekunder, serta menyusun narasi sejarah yang kritis dan objektif. Selain itu Menganalisis Kontribusi Peradaban Islam, mempelajari secara mendalam peran peradaban Islam dalam perkembangan ilmu pengetahuan (matematika, kedokteran, astronomi), filsafat, seni, dan arsitektur yang berpengaruh besar terhadap dunia.

Dalam perjalanan kuliah nantinya–dimana penulis memilih non reguler (diluar jam kerja)–penulis berharap akan dapat Memahami Dinamika Sosial dan Politik, mengkaji faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pasang surutnya kekuasaan, kebudayaan, dan intelektualitas dalam sejarah Islam, melingkupi analisis konflik, integrasi, dan transformasi masyarakat Muslim. Selain itu Menjelajahi Kekayaan Intelektual Islam, mempelajari pemikiran para ulama, filosof, ilmuwan, dan reformis Muslim yang telah membentuk wacana keislaman dan peradaban.

Ada banyak hal yang penulis ingin pelajari, dan tentu saja termasuk Relevansi Lokal dan Global, dimana menyoroti relevansi Sejarah Peradaban Islam dengan konteks kontemporer, baik di Indonesia maupun di kancah global. Penulis termotivasi untuk mengkaji dan membaca banyak hasil penelitian tentang pengaruh Islam di Nusantara dan bagaimana peradaban ini berinteraksi dengan budaya lokal, dan khususnya dalam konteks Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan.

3.  Alasan Lingkungan Akademik dan Riset 

UIN Alauddin Makassar dikenal memiliki Dosen-dosen yang kompeten di bidangnya, khususnya kepakaran dalam Studi Islam dan Sejarah Islam. Salah satu sejarawan UIN Alauddin yang penulis akrabi adalah Prof Dr Ahmad M. Sewang, yang juga mantan Ketua DPP IMMIM. Penulis berharap akan mendapatkan bimbingan dari para ahli/pakar Sejarah Islam yang tidak hanya menguasai materi tetapi juga aktif dalam penelitian dan publikasi.

Selain itu, keberadaan perpustakaan yang memadai dengan koleksi literatur Islam klasik dan modern, serta akses ke jurnal-jurnal ilmiah menjadi modal penting untuk mendukung riset kesejarahan. Lingkungan kampus yang kental dengan nuansa keislaman juga bisa menjadi atmosfer yang kondusif untuk studi yang mendalam.

4. Alasan Prospek Karier dan Dampak

Penulis berharap dengan kuliah pada Magister Sejarah Peradaban Islam (SPI), sebagaimana harapan output lulusan, akan menambah berbagai prospek karier, diantaranya sebagai Akademisi/Peneliti, Pendidik, Penulis/Editor, Arsiparis/Kurator atau Pegiat Kebudayaan yang dapat mengisi peran di lembaga kebudayaan, NGO, atau media yang berfokus pada isu-isu keislaman dan studi sejarah.

Memilih UIN Alauddin Makassar untuk Studi Magister SPI berarti tidak hanya memperdalam ilmu sejarah, tetapi juga berkontribusi pada pemahaman yang lebih kaya dan kritis tentang Peradaban Islam, khususnya yang pernah tercipta dengan baik di Jazirah Sulawesi Selatan. Hal ini penulis anggap sebagai investasi penting bagi sejarawan atau ahli sejarah.

Dari semua alasan yang telah penulis kemukakan, satu hal yang tak boleh terlupakan adalah kenyataan bahwa dari Sejarah Peradaban Islam-lah kita dapat membuktikan bahwa kemajuan suatu umat sangat bergantung pada semangat keilmuan. Begitu pula sebaliknya, Semangat keilmuanlah yang dapat melahirkan kemajuan dan peradaban gemilang. Karena itu, mari untuk selalu tekun menuntut ilmu, belajar, dan terus belajar. Ilmu adalah fondasi untuk menciptakan kemakmuran, mengatasi masalah sosial, dan membangun peradaban yang adil dan makmur. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Ketua III MUI Kabupaten Pangkep, Ketua I Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan (DKPK) Kabupaten Pangkep/Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT