BerandaArtikelCatatan Perjalanan Fahien ke India dan Nusantara

Catatan Perjalanan Fahien ke India dan Nusantara

Oleh: Santo Saba Piliang *)

PALONTARAQ.ID – Artikel ini tengah menjelaskan bahwa leluhur bangsa nusantara telah melakukan exvansi hingga ke tanah india, membawa ajarannya mendasari lahirnya tiga ajaran di sana

Bukti bukti ini tercatat oleh biksu Tiongkok Fa-Hien dari Perjalanannya di India dan Nusantara (399-414 M) dalam pencarian pelajaran dan kitab kitab sebelum menjadi ajaran yang bernama “Buddhism”

Fa-Hien dalam Perjalanannya di India: Ia pergi ke selatan dari Gandhara, (para musafir) dalam empat hari tiba di kerajaan Purushapura, Sebelumnya pendahulunya bepergian di negara ini dengan murid-muridnya, ia berkata kepada Ananda, “Setelah pari-nirvana saya, akan ada seorang raja bernama Kanishka, ia yang akan membangun tope di tempat ini

”Kanishka ini kemudian lahir ke dunia dan , ketika dia pergi keluar untuk melihat ke sekelilingnya, “Sakra”, Penguasa para deva, yang ingin menggairahkan gagasan itu dalam benaknya, mengilhami kemunculan seorang anak gembala kecil, sedang membuat tope tepat di jalan ( Raja)

Dari semua puncak dan kuil yang dilihat (para pengembara) dalam perjalanan mereka, tidak ada yang sebanding dengan keindahan dan kemegahan yang agung ini,
Ketika toping raja selesai, tope kecil (Yang di bangun anak laki-laki itu) bagian sisinya di selatan, lebih dari tiga hasta tingginya

Ada yang berkata, yang dibangun ini adalah tope terbaik dari yang ada di Jambudvipa atau nusantara Jambudvipa adalah salah satu dari empat benua besar di alam semesta, yang mewakili dunia yang dihuni sebagaimana digambarkan oleh umat Buddha, dan disebut demikian karena menyerupai bentuk daun pohon jambu.

Itu adalah di selatan gunung Meru, dan dibagi di antara empat raja yang luar biasa kata Jambudvipa Ini sering digunakan, peziarah tiongkok untuk menyebut nusantara saat itu

Raja ini mungkin adalah Kanishka sendiri, Fa-hien yang bersikap, dengan cara yang sangat takjub, ia dapatkan dari berbagai cerita tentangnya

Sejarawan bernama Eitel menulis tentang Raja “Kanishka” adalah para pendatang dan penakluk dari luar india, ia menunjukkan bahwa peninggalan nama lama negara mungkin masih ada di dalam Jats atau Juts

“Getae” diucapkan dalam dialog di sebut “Je-te” akhirnya berubah nama menjadi “Jat”, hingga saat ini tersebut menjadi bangsa “Jat – India” , inilah sebenarnya bangsa keturunan dari bangsa besar pendatang Scythian

“Para pendatang ini dikenal di dunia barat dengan nama lengkap Scythians, Orang Persia memberikan nama ini sebagai Sakâ dan orang Yunani sebagai Skythai

Orang India menyebut sebagai Sakas, dan Cina menyebut dengan Sai atau Sai-wang, para penyerbu ini terutama datang dari tiga suku besar Massagetae, Sacaraucae dan Dahae, yang di awal abad kedua SM melewati dan berada di negara antara Laut Kaspia dan sungai Jaxartes”

Sejarawan, Tarn 1966, 306-307 menulis: Sebagian besar dari Massagetae India adalah keturunan bangsa Scythian penyerbu kuno ini. Schythian adalah nama bangsa besar yang pernah menaklukan Persia, Darius berhasil menghalau bangsa Scythian besar itu disebut “Massagetae” yang namanya disingkat menjadi “Getae”

“Getae” diucapkan dalam dialog di sebut “Je-te” akhirnya berubah nama menjadi “Jat”, hingga saat ini tersebut menjadi bangsa “Jat – India” , bangsa keturunan dari bangsa besar pendatang Scythian

Dalam perjalanan selanjutnya bangsa yang disebut “Jat – India” ini atau Scythian berada di daerah “Sindhu” kemudian menjadi nama “Hindu”, Kata Hindu ini di era kolonialis inggris menjadi pemersatu bangsa untuk menentang kolonialis di india

Nama yang lebih umum untuk itu adalah Tukhara, dan ia mengamati bahwa orang-orang itu adalah Indo-Scythians dari Yunani, dan Tartar dari penulis Cina, yang, didorong oleh Hun (180 SM), menaklukkan Transoxiana, menghancurkan Transoxiana, menghancurkan kerajaan Bactrian (126 SM), dan akhirnya menaklukkan Punjab, Cashmere, dan sebagian besar India, raja terbesar mereka adalah Kanishak

Hushka, Jushka, dan Kanishka adalah tiga Raja Turushka yang memerintah di Kashmir sekitar tahun 1765-1645 SM, menurut Kalhana.—Kalhana menyebutkan bahwa tiga raja Turushka bernama Hushka, Jushka, dan Kanishka memerintah Kashmir 150 tahun setelah “nirwana”(1865 SM).

Kaum Scythians, membawa ajaran yang mendasari agama Buddha mencapai India barat laut sebelum pemerintahan Kalashoka (1765-1737 SM)

Bangsa Scythian/Sakâ/Skythai/Sai atau Sai-wang ini mereka membawa perubahan yang sangat besar dalam tata kehidupan masyarakat India sejak 3.102 SM sampai 1.300 SM yang kemudian menulis Veda di daratan india saat itu

Di kemudian hari di india “Veda” menjadikan munculnya penafsiran terhadap kitab Veda yang melahirkan, Aranyaka dan upanizad, “Veda” dipelajari dan ditafsirkan dengan bebas

Kebebasan ini menyebabkan timbulnya beberapa ajaran dan aliran yang berbeda-beda, yaitu Buddhism, Jainism, Hinduism :
Pada tahun 563–483 SM, Lahir Sidharta Gautama tokoh “Buddhism”
Pada tahun 549–477 SM, Lahir Mahavira tokoh “Jainsm”
Pada abad 9 M, Era Inggris di india lahir agama yang tidak berasal dari seorang pendiri atau satu titik waktu sebagaimana agama lain untuk membedakan tidak keduanya terdahulu juga tidak Islam, di saat ini “Hindu” + “isme” secara formil ada 1830 di india

Hushka, Jushka, dan Kanishka dari wilayah Gilgit keturunan Bangsa Scythian / Sakâ / Skythai / Saiatau Sai-wang, mendirikan pemerintahan mereka di Kashmir dan menyebarkan ajaran yang dibawa dari tempat asalnya, Mereka membangun tiga kota di Kashmir yaitu Hushkapura, Jushkapura, dan Kanishkapura.

Raja Kanishka, adalah pelindung besar ajaran asli yang dibawanya (1130-1080 SM).—Kushana Raja Kanishka berkembang 700 tahun setelah nirwana (1865 SM) sebagaimana tercatat dalam Samyuktaratnapitakasutra. Jadi, Kanishka pasti lahir setelah 1165 SM

Naskah Gilgit Vinayavastu juga menegaskan bahwa Kanishka menjadi raja 400 tahun setelah nirwana Vajrapani (1565 SM). Hiuen Tsang juga memberi tahu kita bahwa Guru Sangharaksha dari Raja Kanishka hidup 700 tahun setelah nirwana

Dalam catatan “Jainisme”, Kaniṣka naik takhta pada awal abad ke-7 VN, yaitu setelah kerajaan Śaka berdiri, Jainisme adalah berdasar “Dharma” yang dibawa kaum saka ke India yang doktrinnya berkisar pada sikap tidak menyakiti ( ahimsa ) terhadap setiap makhluk hidup

Dua cabang utama “Digambara” dan “Svetambara” Jainisme mengajarkan pengendalian diri atau “shramana” ‘kemandirian’ dan pengembangan spiritual melalui jalan kedamaian bagi jiwa untuk maju ke tujuan akhir

Raja Kaniṣka, membangun kota baru bernama Puruṣpura-Peshawar dan menjadikannya ibu kotanya, Raja Kaniṣka menyebarkan ajaran yang dibawanya, Ia benar-benar menghapuskan kekuasaan Parthia dari India.

Setelah menaklukkan Kashmir, ia juga menduduki beberapa wilayah di Tiongkok, Turkistan, Kashgar, Yarkhand, Khotan, membangun supremasinya atas wilayah yang sangat luas. Kerajaannya membentang dari Iran hingga Varanasi, Tiongkok-Turkistan hingga Kashmir dan hingga pegunungan Vindhya di Selatan

Ia membangun sebuah kota di Kashmir dan menamakannya Kaniṣpura/Kaniṣkapura](sekarang Kanispur) sesuai namanya sendiri, Ia menyesuaikan diri dengan budaya India dengan sangat baik sehingga ia tampak seperti penduduk asli India

Meskipun ia berasal dari budaya asing, ia mengikuti jalan seperti yang telah dirintis oleh Kaisar Aśoka dan membantu dalam penyebaran dan perluasan ajarannya”Dharma”

Dalam Kronologi Gandhara dan Baktria Kuno tercatat: Kanishka I 1131-1092 SM Kanishka, putra Vim Kadphises, adalah raja Kushanas yang terhebat, Ia memerintah atas kerajaan yang luas dari Baktria dan Gandhara di barat hingga Magadha dan Orissa di timur

Sumber-sumber Buddha memberi tahu kita bahwa Kanishka berkembang pesat 700 tahun , Ia menjadi pelindung “Dharma” ajaran yang mendasari agama Buddha. Ia menggunakan aksara Baktria, Kharoshthi, dan Brahmi dalam prasasti dan koinnya.

Raja Kanishka mencapai puncak kejayaannya 700 tahun (1865 SM) sebagaimana tercatat dalam Samyuktaratnapitakasutra. Jadi, Kanishka lahir setelah tahun 1165 SM. Naskah Gilgit dari Vinayavastu menegaskan bahwa Kanishka menjadi raja 400 tahun setelah nirwana Vajrapani (1565 SM). Hiuen Tsang juga memberi tahu kita bahwa Guru Sangharaksha dari Raja Kanishka hidup 700 tahun

Biksu Tiongkok Fa-Hien dalam perjalanannya di Nusantara: Di selatan kota, setengah yojana, ada sebuah gua batu, di sebuah bukit besar di sebelah barat daya; dan di sinilah “Para pelajar” meninggalkan bayangannya

Melihat dari jarak lebih dari sepuluh langkah, Anda tampaknya melihat wujud nyata patung, dengan corak emasnya, dan ciri-ciri khasnya dalam kerapiannya yang ditampilkan dengan jelas dan cerah

Semakin dekat Anda mendekati, semakin redupnya, seolah-olah itu hanya sesuai keinginan Anda. Ketika raja-raja dari daerah di sekitar telah mengirim seniman terampil untuk mengambil salinan, tidak satupun dari mereka yang mampu melakukannya

Di antara orang-orang di negara ini ada yang mengatakan bahwa “seribu Buddha semua harus meninggalkan bayangan mereka di sini.” inilah daerah yang di sebut dengan nama Laṅkā

Laṅkā, adalah nama daerah yang disebutkan dalam Kāvyamīmāṃsā dari abad ke-10 Rājaśekhara, Laṅkā diidentifikasi oleh sejarawan india berada di bagian paling selatan semenanjung India, sebagai sebuah pulau di suatu tempat di Samudra Hindia

Dalam Rāmāyaṇa, Kāvyamīmāṃsā Rājaāekhara dan Bālarāmāyaṇa, deskripsi pulau ini tidak mendukung identifikasinya dengan Ceylon atau Siṃhala, Pulau ini terletak di sisi barat semenanjung di luar Travancore, sementara Siṃhala atau Ceylon berada di sisi timurnya

Laṅkā adalah istilah teknis Sanskerta yang digunakan dalam ilmu-ilmu India kuno seperti Astronomi, Matematika, dan Geometri, Laṅkā sebuah tempat hipotetis di ekuator tempat meridian memotong, yaitu tempat dengan 0 ° bujur dan 0 ° lintang.

Fahien mencatat bahwa “seribu Buddha semua harus meninggalkan bayangan mereka di sini.” inilah daerah yang pada waktu tertentu jika matahari tepat di atas kepala menghasilkan efek “Tanpa Bayangan” adalah equinox, hanya ada di situs muara takus sumatra indonesia bukan Srilangka

Di sebelah timur saṅghārāma, dan di tengah-tengah hutan āmra , adalah tembok fondasi tua; ini adalah tempat Bodhisattva Asa Asga menyusun śāstra yang disebut Hin-yang-shing-kiau, tembok fondasi tua, adalah sisa reruntuhan bangunan besar tempat pembelajaran “Dharma” di masa lalu

Di sebelah barat daya kota 8 atau 9 li adalah sebuah batu yang berdiam di Nāga yang berbisa, Setelah menundukkan naga ini, Tathāgata meninggalkan bayangannya di sini, tetapi meskipun ini adalah tradisi tempat itu, tidak ada sisa bayangan yang terlihat. Kaum pendatang di india inilah manusia yang berasal dari Nusantara, nenek moyang leluhur kita kaum Arya/Schythian/Sakya/Cakya/Saka.

Schythian/Saka/ Cakya/Çaka/Aryān, Literasi kata ini terekam sempurna di relief yang tidak di expose di Borobudur, dengan kata “Maheçãkhya” dan kata “Dharma” pada teks “Kusaladharmabaejana” dan “Vinayadharmakyacita”

Nenek moyang leluhur kita kaum Arya/Schythian/Sakya/Cakya/Saka literasi teks kata itu terekam di relief Nomor 43 dasar “Borobudur” dengan teks literasi Kata “Maheçakya” berarti “Çakya” adalah Çaka/Saka

Bangsa Saka/Schythian/Cakya/Çaka/Aryān menandai penanggalan di prasasti dengan tahun “Saka” , Tapi penghitungan awal tahun saka di prasasti tidak di mulai tahun 78 Masehi, Sejatinya tahun itu adalah: Saat kaum Schythian “Çaka” atau saat bangsa Schythian menaklukan Raja “Salivahana” india, Angka tahun 78 M ini yang di salah tafsirkan untuk menghitung awal tahun Saka di prasasti

Hingga hilang sejarah kita sebelum tahun itu. Bangsa Saka/Schythian/Cakya/Çaka/Aryān, Leluhur bangsa nusantara melakukan ekspansi hingga ke india tercatat dalam buku perjalanannya di India dan Nusantara oleh Biksu Tiongkok Fa-Hien (399-414 M)

 

(* Santo Saba Piliang, Penulis INDONËSIARYĀ – True Back History of Indonesia
Exploration & Research. Beberapa tulisan/karya bukunya adalah: Vhuana Caka Pala (Nama asli Borobudur dan sejarahnya), Borobudur Bukan Candi, Klarifikasi Catatan Sejarah Borobudur, True Back History Borobudur, Ramayana adalah Nusantara, Mahabarata adalah Nusantara, Lemuria Adlantis Nusantara, Lemuria Adalah Nusantara, Adlantis adalah Nusantara,  Bali Bukan India, WE ARE ARYA (Kumpulan artikel), Srivijaya (Ungkap kadatuan Srivijaya/bukan kerajaan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT