BerandaTravelingMengenal Arca Menhir Palindo

Mengenal Arca Menhir Palindo

Laporan: Muhammad Farid Wajdi  *)

Related Post: Tips dan Trik Memandu Wisata Sejarah di Museum

PALONTARAQ.ID, PALU – Siapa yang tak kenal Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah yang setahun lalu dinobatkan sebagai Negeri Seribu Megalit, suatu julukan bagi Provinsi Sulawesi Tengah yang menyimpan berbagai peninggalan dari era megalitikum yang tersebar di beberapa wilayah.

Salah satu peninggalan dari era megalitikum tersebut adalah Patung Palindo atau Arca Menhir Palindo yang terdapat di situs Padang Sepe, Lembah Bada. Oleh masyarakat setempat, disebut Palindo yang artinya Penghibur.

Bentuknya dianggap sebagai perwujudan nenek moyang mereka sebagai seorang pahlawan yang bernama Tosalagi. Dikisahkan bahwa Tosalagi memimpin rakyat Bada berperang melawan orang dari Masamba.

Penulis disamping Patung Palindo, di halaman depan Museum Negeri Provinsi Sulawei Tengah. (foto: rama/*)
Penulis disamping Patung Palindo, di halaman depan Museum Negeri Provinsi Sulawei Tengah. (foto: rama/*)

Arca Palindo (Palindo Statue) ditemukan dalam keadaan miring sekitar 30 derajat dan berukuran tinggi 400 cm. Pada arca dipahat bentuk muka manusia yang memakai ikat kepala (pekabalu), mata bulat melotot, tangan mengarah ke phallus yang menonjol, serta tanpa kaki.

Etnolog asal Swedia yang mengunjungi Lembah Bada selama tiga hari pada bulan September 1918, Walter Kaudern, menggambarkan Palindo sebagai patung batu raksasa yang condong ke satu sisi, diapit oleh dua pohon, menghadap ke barat, dengan arah yang sedikit menyimpang ke selatan (5°).

Patung Palindo ini berbeda dari patung batu lainnya—bukan hanya karena ukurannya yang luar biasa. Kaudern menyebut patung ini relatif datar dan tipis. Ia menggambarkan bahwa Palindo memiliki wajah hampir melingkar dengan diameter 175 sentimeter. Sisi kanannya memiliki panjang sekitar 440 sentimeter. Kaudern menyatakan sebuah fitur yang luar biasa yang belum dilihatnya pada patung lain di Bada adalah mulut, bentuknya kecil tapi jelas terlihat. Demikian dituliskan dalam Kaudern, Walter 1938: 95, Ethnographical studies in Celebes: results of the author’s expedition to Celebes, 1917-1920 – Megalithic Finds in Central Celebes. 5. Göteborg: Elanders Boktryckeri Aktiebolag.

Patung Palindo saat ditemukan Etnolog asal Swedia, (Collectie Trophenmuseum/*)
Patung Palindo saat ditemukan Etnolog asal Swedia, 1918, (Foto: Collectie Trophenmuseum/Wikipedia)

Fungsi Arca menhir Palindo ini sebagai tempat upacara menjelang menanam padi dan setelah panen pagi. Kini duplikat atau tiruan patung Palindo ini dapat disaksikan di halaman depan Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tengah dan menjadi daya tarik tersendiri bagi peminat studi sejarah budaya Sulawesi Tengah. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Ketua Ikatan Pemandu Museum (IPMI) DPD Provinsi Sulawesi Tengah.

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT