Oleh: Dr. Adian Husaini *)
PALONTARAQ.ID – Bayangkan! Andaikan, di saat kita sedang puasa Ramadhan, lalu datang seorang memberikan tawaran membatalkan puasa dengan imbalan Rp 100 juta! Apakah kita akan terima? Kita pasti akan menolak dengan tegas, “Tidak!” Betapa pun lezatnya makanan yang ditawarkan, kita tidak tergiur sedikikit pun.
Berarti, secara materi, nilai puasa kita tidak terhitung. Dalam kelaparan dan kehausan, kita merasakan kebahagiaan, karena dapat melaksanakan ibadah yang luar biasa. Puasa bukan sekedar menahan makan dan minum, agar kita menjadi sehat. Tetapi, puasa mendidik kita, untuk menahan diri melakukan hal-hal yang tidak baik. Apalagi, yang membatalkan puasa.
Inilah hakika puasa, sebagai satu proses pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Jiwa kita dilatih untuk jujur, disiplin, dan sabar. Inilah kunci kemenangan. Ditambah dengan serangkaian ibadah di bulan Ramadhan, insyaAllah, pendidikan diri selama bulan Ramadhan mencapai puncaknya.
Maka, sangat masuk akal, bahwa orang berpuasa dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh untuk ibadah karena Allah, akan meraih derajat taqwa (la’allakum tattaquun). Orang bertaqwa adalah orang yang paling mulia. Menjadi orang taqwa inilah cita-cita terbesar orang mukmin.
Orang mukmin memang berbeda dalam melihat realitas wujud yang ada. Tatapan mata dan pikirannya menembus batas-batas benda yang kasat mata. Ramadhan dilihatnya bukan sekedar bulan-bulan biasa yang datang silih berganti setiap tahun.
Ramadhan dilihatnya sebagai bulan mulia, dimana pintu-pintu rahmat, ampunan, dan barokah Allah dibuka seluas-luasnya. Orang mukmin-muttaqin beriman kepada hal yang ghaib, meskipun tidak tertangkap panca indera.
Karena itu, memang sudah seharusnya, orang mukmin merindukan status taqwa. Sebab, status taqwa adalah posisi yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia. Allah sudah memberitahukan kepada kita semua: “Yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang taqwa.” (QS 49:13).
Bukan presiden, bukan menteri, bukan gubernur, dan bukan anggota DPR, yang pasti mulia. Tapi, siapa pun, dan apa pun status dan profesinya, — jika dia bertaqwa – maka pastilah dia menjadi yang termulia di mata Allah SWT.
Menjadi orang yang taqwa begitu tinggi derajatnya. Dan orang taqwa pastilah orang yang bahagia. Allah SWT sudah memerintahkan kita: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.” (QS Ali Imran:102).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS al-Ahzab:70). “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tidak dia perhitungkan.” (QS ath-Thalaq:2-3).
Itulah beberapa perintah Allah agar kita semua benar-benar berusaha menjadi orang yang taqwa. Dijanjikan kepada kita dan bangsa kita, jika kita bertaqwa, maka kita akan mendapatkan berbagai kucuran barokah dari langit dan bumi. (QS al-A’raf:96).
Maka, jika begitu mulia dan nikmatnya menjadi orang yang taqwa, tentu rugilah kiranya, jika puasa dan ibadah kita tidak mampu mengantarkan kita pada suatu derajat taqwa. Rasulullah saw mengajari kita untuk berdoa, agar kita menjadi orang yang taqwa: “Allahumma inni as-aluka al-huda, wat-tuqa, wal-‘afafa, wal-ghina.” (Ya, Allah aku memohon kepadamu akan petunjuk, ketaqwaan, kesucian dan kemuliaan diri, serta perasaan cukup). (HR Muslim).
Jadi, taqwa adalah suatu kondisi pikiran dan jiwa orang mukmin yang merasakan kehadiran Allah SWT di mana saja dia berada. Dia ridho dengan segala kondisi yang merupakan anugerah Allah. Dia takut untuk bermaksiat kepada Allah. Tapi sekaligus dia juga cinta dan penuh harap – tidak putus asa – dari rahmat Allah. Takwa itu indah. Taqwa itu nikmat. Dan taqwa itu suatu kebahagiaan. Karena itulah, kita diperintahkan untuk berjuang keras mencapai derajat yang mulia tersebut.
Manusia yang bertaqwa pasti manusia yang bahagia. Hidupnya jauh dari perasaan takut, resah, dan sedih. Tatkala kenikmatan dikucurkan kepadanya, dia bersyukur; dia tidak lupa diri; tidak gembira yang berlebihan. Tatkala musibah melanda, dia sabar; dia yakin, bahwa tidak ada sesuatu pun akan terjadi tanpa izin dan ketentuan Allah SWT. Dia tidak resah dengan nikmat yang diraih oleh saudara-saudara, tetangga, kawan kerja, atau rival politiknya. Dia tidak iri hati dan dengki (hasad), sebab dia yakin, Allah pasti memberikan sesuatu yang baik bagi dirinya. Ia yakin, ia ridho kepada keputusan Allah.
Manusia akan sampai kepada derajat taqwa jika dirinya dipenuhi kecintaan dan keridhaan kepada Allah SWT. Imam al-Ghazali, dalam kitabnya al-Mahabbah, menulis: “Tiap-tiap yang indah itu dicinta. Tetapi yang indah mutlak hanyalah Satu. Maha Esa.
Bahagialah orang yang telah sempurna mahabbahnya akan Dia. Kesempurnaan mahabbah-nya itu adalah karena dia menginsafi tanasub (persesuaian) batin antara dirinya dan Dia.” (Dikutip oleh KH Abdullah bin Nuh dalam terjemah dan pengantarnya atas karya Imam al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin, (Bogor: Yayasan Islamic Center al-Ghazaly, 2010:v).
Jadi, tujuan puasa bukanlah sekedar menahan makan dan minum, agar tubuh sehat dan merasakan kelezatan makanan-minuman saat berbuka puasa. Tujuan ibadah puasa Ramadhan adalah agar kita menjadi manusia mulia; manusia yang tertinggi derajat kemuliaannya.
Jadi, pahami tujuan, insyaAllah kita akan merasakan lezatnya ibadah. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 25 Maret 2023).
(* Dr. Adian Husaini, www.adianhusaini.id


