Penerapan Psikologi Sastra

Penulis cari ide dan inspirasi di salah satu cafe di Pangkep. (foto: hasbi)

Penulis cari ide dan inspirasi di salah satu cafe di Pangkep. (foto: hasbi)

Oleh: Etta Adil  *)

Tulisan sebelumnya:  ‘Psikosastra’, Belajar Psikologi dari Karya Sastra

PALONTARAQ.ID – Terkait penerapan psikologi sastra, Wellek dan Warren (1962:81) menyebut ada dua macam analisa psikologis. Yaitu analisa psikologi yang hanya berhubungan dengan penulis/pengarang dan studi psikologi dalam kaitannya dengan inspirasi dan ilham.

Psikologi Sastra sebenarnya lebih memerhatikan hal kedua karena membahas psikologi dalam hubungannya dengan aspek kejiwaan dari tokoh-tokoh dalam suatu karya sastra.

Itulah sebabnya, Penelitian Psikosastra dapat ditempuh dengan dua cara.

Pertama, Dengan menggunakan pemahaman Hukum Psikologi yang diaplikasikan sebagai metode analisa terhadap karya sastra.

Kedua, Dengan menetapkan karya sastra yang akan digunakan sebagai objek penelitian lalu baru menetapkan Hukum-hukum psikologi yang relevan untuk menganalisa.

Psikoanalisis Freud

Psikosastra dengan pendekatan psikoanalisis terhadap seni dan sastra pernah dilakukan sendiri oleh Freud terhadap beberapa karya seni diantaranya L’interpretation des Reves yang memiliki arti Interpretasi Mimpi, yang juga merupakan dasar teoritis tentang hubungan antara psikoanalisis dan sastra.

Berikutnya dalam Buku Delire et Reves dana “La Grandiva” de Jensen, Freud menganalisa Cerpen karya Jensen dengan judul La Grandiva. Freud berkesimpulan bahwa kepribadian dari tokoh dan kejadian dalam cerpen tersebut sesuai dengan teorinya tentang kepribadian manusia.

Penerapan psikoanalisis dalam sastra sebenarnya lebih banyak dilakukan oleh pengarang atau ahli sastra dibanding Psikolog sendiri seperti Charles Mauron dan Max Milner.

Lihat pula: Menulis sebagai Terapi Kejiwaan

Seorang kritikus sastra asal Perancis, Charles Mauron pada Tahun 1963, mengembangkan cara terstuktur dalam melakukan kritik karya sastra, yang kemudian dikenal dengan nama Psikokritik.

Sementara itu, Max Milner, penulis berkebangsaan Jerman menulis buku berjudul Freud et L’interpretation de la literature (Freud dan Interpretasi Sastra) yang menjelaskan Teori Psikologi Freud terkait dengan karya sastra.

Endraswara (2008:196), menyebutkan bahwa Psikonalaisis merupakan istilah khusus dalam penelitian Psikologi Sastra yang pertama kali diungkapkan Sigmund Freud.

Psikoanalisis sendiri mencakup penelitian sastra, sedang teori psikonalisis hanya diambil bagian-bagian yang relevan dan dianggap berguna saja.

Psikoanalisis digunakan untuk menganalisis tokoh dalam karya sastra, khususnya terkait kondisi kejiwaan dari para tokoh dalam karya sastra hingga dapat pula disimpulkan kondisi kejiwaan dari sang penulis.

Konsep dasar Freud tentang psikoanalisis adalah tentang ketidaksadaran. Menurutnya, kepribadian manusia terbagi atas tiga lapis, yaitu:

1. Tidak Sadar (Unconcious), Merupakan bagian terbesar dari kepribadian yang mempengaruhi perilaku manusia. Sering kali tidak terlihat secara jelas.

2. Prasadar (Preconcious), Merupakan bagian kepribadian manusia yang tidak disadari, namun berpotensi untuk menjadi sadar

3. Sadar (Conscious), Merupakan bagian dari kepribadian manusia yang sadar akan keadaan sendiri dan keadaan sekitar.

Dalam perkembangannya, Freud juga mengungkapkan konsep teknis lainnya, yaitu tingkah laku manusia lebih banyak ditentukan dan digerakkan oleh alam bawah sadar dalam kepribadiannya.

Pendekatan psikologi sastra dengan psikoanalisis memungkinkan untuk mengklasifikasikan penulis karya sastra berdasarkan tipe psikologi dan fisiologis. Psikoanalisis juga bisa menguraikan kelainan jiwa hingga ke alam bawah sadar.

Intepretasi dari karya sastra sebagai produk hasil analisa psikologi membutuhkan amatan psikolog untuk mencocokkannya dengan berbagai dokumen di luar karya sastra itu sendiri.

Secara umum, Psikoanalisis sebagai penerapan Psikosastra berguna untuk memberikan penilaian terhadap karya sastra, melihat ketidakteraturan, perubahan dan distorsi dalam karya sastra.

Psikoanalisis juga memberikan analisa psikologis terhadap tokoh-tokoh dalam karya sastra serta menyimpulkan kondisi jiwa dari pengarang.

Lihat pula:  Menulis sebagai Interaksi Sosial

Sublimasi dan Asosiasi

Proses kreasi karya sastra menurut teori psikoanalisis dapat dibagi dalam dua cara, yaitu Sublimasi dan Asosiasi.

Sublimasi berkaitan erat dengan konsep ketidaksadaran. Kreativitas untuk menghasilkan sesuatu yang baru terkandung dalam sublimasi. Contoh bentuk hasil dari sublimasi misalnya agama, berbagai macam mesin, peralatan teknik, puisi, novel, cerpen, ilmu pengetahuan dan aktivitas olah raga.

Asosiasi sendiri terkait teknik yang sering dipraktekkan para seniman, penulis dan pelukis untuk mendapatkan inspirasi dalam menghasilkan karya cipta.

Seringkali asosiasi seorang pengarang memasukkan unsur-unsur yang berasal dari kejadian yang dialaminya sendiri. Juga sebagian penulis terkadang melakukan ritual tertentu pada tempat dan waktu tertentu.

Selain itu, contoh yang lebih umum adalah soal waktu menulis, misalnya ada penulis yang lebih menyukai menulis pada malam hari, sementara penulis lainnya lebih menyukai untuk menulis pada pagi atau siang hari.

Demikian juga mengenai tempat menulis, sebagian pengarang lebih menyukai menulis di tempat yang sepi dan sunyi, sementara sebagian lainnya lebih menyukai untuk menulis di tengah kesibukan dan keramaian. (*)

 

(* Etta Adil, Pembelajar Psikologi dan Penikmat Karya Sastra.

Like it? Share it!

Leave A Response