BerandaBeritaInternasionalCatatan Akhir dari Korea: Teladan Pemimpin adalah Kunci Kemajuan

Catatan Akhir dari Korea: Teladan Pemimpin adalah Kunci Kemajuan

Oleh: A. Luthfi A. Mutty

Related Post: Inilah Rahasia Kemenangan Korsel atas Jerman, 2-0

PALONTARAQ.ID – Selama 8 hari (24 Juni-1 Juli) saya berkunjung ke Seoul. Ibukota Korsel. Teringat kembali pelajaran Pembangunan Desa saat saya kuliah di APDN Makassar (1975-1978). Salah satu mata kuliah di semester 3 .

SAEMAUL UNDONG

Republik Korea yang lebih dikenal dgn Korea Selatan merdeka pada 15 Agustus 1948. Dua tahun setelahnya, negara ini diinvasi oleh Korea Utara. Kedua negara sebangsa ini kemudian terlibat perang selama 3 tahun (1950-1953). Membuat infrastruktur dan perekonomiannya hancur.

Perang yang hanya diakhiri dgn gencatan senjata itu membuat Korsel menjadi negara agraris miskin, dgn pendapatan per kapita kurang dari $ 100. Keadaan itu jelas tidak lebih baik dari Indonesia yang setelah merdeka 1945 juga terlibat perang kemerdekaan hingga pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949.

Melihat kondisi Korsel yang begitu terpuruk, maka pada 16 Mei 1961 Jenderal Park Chung Hee menggulingkan Presiden Syngman Rhee yang korup melalui kudeta militer. Dia kemudian meluncurkan program “Saemaul Undong”.

Saemaul Undong, yaitu Program pembangunan pedesaan yang penekanannya pada perubahan pola pikir masyarakat untuk memperbaiki nasib. Masyarakat diajak membangun kemampuan diri sendiri agar tumbuh rasa percaya diri akan potensi yang dimiliki.

Bersamaan dengan itu, semangat kerjasama berdasarkan komunalisme tradisonal Korea yang mereka namakan “hyangyak” dan “doorae” (semacam gotong royong) didorong dan ditumbuhkan. Harapannya adalah agar mentalitas, etos kerja keras dan semangat kerjasama dan mau berhemat menjadi budaya kerja baru.

Saemaul Undong tidak semata tertuju pada pembangunan fisik tetapi juga pembangunan mental spiritual sebagai energi untuk kemajuan bangsa. Suatu budaya kerja baru yang tidak tergantung pada alam.

Negara yang sadar belum mampu menyediakan beras yang cukup bagi warganya, pemerintah lalu menghimbau rakyatnya hanya makan nasi satu kali sehari. Selebihnya hanya boleh makan bubur. Dan itu berlaku mulai dari istana presiden hingga ke rumah-rumah rakyat. Termasuk saat presiden menjamu tamu-tamu negara. Dikisahkan, di masa itu bila warga Korea berjumpa, maka mereka saling bertanya apakah hari ini sudah makan nasi.

NORMALISASI HUNUNGAN DENGAN JEPANG.

Untuk mendorong percepatan pembangunan ekonomi, Presiden Park melakukan normalisasi hubungan dengan Jepang. Tindakan ini banyak ditentang oleh warga Korsel yang masih dendam atas penjajahan Jepang.

Dengan normalisasi, maka Korsel mendapat bantuan teknologi dan teknisi dari Jepang. Korsel juga menerima bantuan dana dan pinjaman untuk modal pembangunan ekonomi. Park sadar bahwa kemajuang bangsa harus ditopang oleh industeri besar. Maka dana pinjaman dari Jepang itu kemudian dipinjamkan kepada konglomerat Korsel (Chaebol), yang menguasai industri-industri besar Korsel. Semua pinjaman kepada Chaebol diberikan tanpa bunga.

Untuk mendukung meningkatnya mobilitas penduduk, dibangun transportasi masal (MRT) bawah tanah. MRT yang mulai beroperasi 1974, saat ini diakui sebagai yang terluas di dunia. Bandingkan dengan MRT bawah tanah di Jakarta dgn jangkauan terbatas, baru beroperasi Tahun 2021.

Di saat bersamaan Park juga membangun jalan tol sepanjang 428 km, 353 jembatan dan 12 terowongan. Berbagai kebijakan pembangunan itu mendorong percepatan kebangkitan ekonomi Korsel yang dikenal dengan sebutan “The Miracle of Hang river”.

Target pertumbuhan ekonomi dicanangkan sebesar 7%. Dinilai banyak kalangan ketika itu sangat ambisius. Ternyata target pertumbuhan bukan hanya dapat dicapai tetapi juga terlampaui (9 % ).

Dan karena itu ramalan Douglas Mc Arthur, jenderal yang memimpin pasukan Amerika dalam membantu pasukan Korsel semasa Perang 1950-1953, terbukti meleset. Mc Arthur meramalkan bahwa Korsel perlu waktu 100 tahun untuk pulih dari kehancuran akibat perang. Ramalan itu dibingkai dalam pigura dan dipajang di Musium Nasional Kontemporer Korsel.

Berbagai kebijakan pembangunan yang diletakkan oleh Presiden Park Chung Hee menjadi fondasi bagi kemajuan Korsel yang kemudian menjadi negara industeri maju. Dibuktikan dgn pendapatan per kapitanya pada 2010 sebesar $22.151. Berada pada urutan 11 dgn PDB 1.630,53 Negara Anggota G20. Bandingkan dgn Indonesia yang pendapatan per kapitanya pada 2010 hanya $3.004,9. Dgn PDB 1.058,42, Indonesia berada pada posisi 16.

PEMIMPIN PEMERINTAHAN ADALAH KUNCI KEMAJUAN

Gambaran Korsel sebagai sebuah negara industri maju sungguh terlihat jelas ketika saya mengunjungi negara ini. 8 hari masa kunjungan dan hanya berada di seputaran Seoul tentu terlalu singkat dan sederhana untuk mengambil kesimpulan.

Tetapi apa yang saya saksikan di jalan-jalan Kota Seoul setidaknya dapat menggambarkan kemajuan itu. Kendaraan yang menggelinding lalu lalang di jalan raya didominasi produk Korsel dgn berbagai merek dan varian. Seperti KIA, Hyundai, Samsung dan Daewoo.

Terlihat juga mobil mewah produk asing dgn jumlah terbatas sekelas Rolls Royce, Mercy, BMW, Bently, Range Rover, dan lain-lain.  Namun mobil produk Jepang jarang terlihat. Selama di Seoul saya tidak pernah melihat Alphard meluntas di jalan.

Di Indonesia Alphard adalah tunggangan kelas menengah atas. Demikian pula dengan Pajero Sport dan Toyota Fortuner. Bahkan Landcruiser pun tak terlihat di jalan. Saya kemudian bertanya dalam hati. Kapan jalan raya di Indonesia dipenuhi mobil produk sendiri dgn merk sendiri.

Gambaran Korsel yg saya kemukakan di atas menunjukkan bahwa pemimpin pemerintahan adalah hal yang sangat krusial bagi kemajuan bangsa. Maka pemimpin pemerintahan pada semua tingkatan, yang punya visi, yang memiliki karakter dan integritas, yang tulus bekerja untuk rakyatnya, yang satunya kata dan perbuatannya, yang tidak sekedar pencitraan, yang dapat dicontoh oleh rakyat, perlu hadir di negeri ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT