Mengingati Khilafah

by Penulis Palontaraq | Sabtu, Des 29, 2018 | 113 views
Bersatu dibawah Panji Ar-Rayah dan al-Liwa. (foto: rubyreksa)

Bersatu dibawah Panji Ar-Rayah dan al-Liwa. (foto: @rubyreksa)

SEORANG Katolik yang belajar di sekolah-sekolah katolik akan diajarkan, bahwa dahulu pernah ada masa ketika hampir seluruh Eropa Barat pernah bersatu dibawah agama mereka. Sebutannya jelas, Imperium Romanum Sacrum (IRS), Holy Roman Emperor, atau Kekaisaran Romawi Suci dalam bahasa kita. Ia kumpulan kerajaan yang berafiliasi pada Kristen.

Selanjutnya kita mengenal pula, IRS inilah yang ada dibelakang Perang Salib yang dimulai pada 1095. Komandonya dibawah Paus Urban II atas nama Imperium Romanum Sacrum. Bila Kristen Katolik Eropa Barat bersatu dibawah IRS, maka Eropa Timur dengan Kristen Ortodoksnya bersatu dibawah Kekaisaran Byzantium, dengan Konstantinopel ibukotanya

Pertanyaannya, bila penganut Kristen dulu bersatu di bawah satu komando, dibawah satu panji, dibawah satu bendera, dan itu diceritakan dengan bangga oleh mereka, maka apakah kaum Muslim punya kisah yang sama? Pertanyaannya, Perang Salib yang diserukan Paus Urban II itu, siapakah targetnya? Bila ada Godfrey de Bouilion dan Richard Lionheart di Perang Salib, siapa yang mereka lawan?

Inilah lucunya negeri ini. Saat ada yang menceritakan tentang Imperium Romanum Sacrum, bahwa kaum Katolik pernah bersatu dalam kepemimpinan agama, itu boleh saja. Ketika ada kisah Perang Salib, itu diterima sebagai konsekuensi kewajaran sejarah. Tapi begitu bahasannya tentang Khilafah, tentang jihad fii sabilillah, tentang Persatuan Umat Islam se-dunia dibawah Kepemimpinan Khilafah, mendadak orang alergi, dan lebih lucu lagi, termasuk ‘orang islam’ sendiri.

Aksi 212 - Mendamba tegaknya khilafah. (foto: ist/palontaraq)

Aksi 212 Bela Islam di Indonesia – Mendamba tegaknya khilafah. (foto: ist/palontaraq)

Padahal Khilafah adalah kepastian sejarah sama seperti IRS, Khilafah dan bagian-bagiannya yang waktu itu melindungi tumpah darah kaum Muslim saat Perang Salib. Tidak hanya itu, pada masa Khilafah juga, Sultan Utsmani Mehmed Celebi mengutus Walisongo hingga Nusantara bisa mengenal Islam, yang akhirnya jadi inspirasi kemerdekaan, berdirinya bangsa dan negara Indonesia.

Dalam sejarah, juga tercatat Khalifah pula yang menerima baiat Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam di Jogja. Juga yang memerintahkan kapal-kapal perangnya menjaga Aceh dari rongrongan Belanda. Bila saat ini penguasa justru menjadikan Khilafah sebagai momok, maka ada dua kemungkinan. Pertama, buta sejarah dan tak kurang pengetahuannya. Kedua, penguasa ini tahu betul, bahwa Khilafah itu bukan hanya sejarah dan masa lalu seperti IRS. Tapi juga masa depan, kepastian janji dari Allah dan Rasul-Nya. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response