BerandaFeatureSelamat Jalan Sang Musafir: Buya Prof Dr. Syafi'i Ma'arif

Selamat Jalan Sang Musafir: Buya Prof Dr. Syafi’i Ma’arif

Oleh: Muhammad Farid Wajdi 

Related Post: Belajarlah dari Muhammadiyah

PALONTARAQ.ID – “Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berduka. Telah wafat Tokoh Nasional, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif pada hari ini, Jumat (27/5/2022) Pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping.”

إنا لله و إنا إليه راجعون. أللّهمّ اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه

وأكرم نزوله ووسّع مدخله. وأدخله الجنّة وأعذه من عذاب القبر وفتنته ومن عذاب النّار

آمّين يآ ربّ العالمي

 

Sebagai informasi, Buya Syafi’i sempat menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah Gamping ini karena mengalami serangan jantung ringan. Demikian diungkap Prof Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah.

“Semoga beliau husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya, dilapangkan di kuburnya, dan ditempatkan di jannatun na’im. Mohon dimaafkan kesalahan beliau dan do’a dari semuanya,” ujar Prof Dr. Haedar Nashir.

Biografi Singkat Buya Prof Dr. H. Ahmad Syafi’i Ma’arif

Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif adalah seorang ulama, cendekiawan dan pendidik Indonesia. Beliau pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan Pendiri Maarif Institute.

Ahmad Syafii Maarif lahir di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau pada 31 Mei 1935. Ia lahir dari pasangan Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan Fathiyah. Ia bungsu dari 4 bersaudara seibu seayah, dan seluruhnya 15 orang bersaudara seayah berlainan ibu. Ayahnya adalah saudagar gambir, yang belakangan diangkat kepala suku di kaumnya.

Pada tahun 1942, ia dimasukkan ke sekolah rakyat (SR, setingkat SD) di Sumpur Kudus. Sepulang sekolah, belajar agama di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah pada sore hari dan malamnya belajar mengaji di surau di sekitar tempat tinggalnya sebagaimana umumnya anak laki-laki di Minangkabau pada masa itu.

Pendidikannya di SR, yang harusnya ia tempuh selama enam tahun, dapat ia selesaikan selama lima tahun (Tamat 1947), tetapi tidak memperoleh ijazah karena pada masa itu perang revolusi kemerdekaan. Setelah tamat SR, karena beban ekonomi keluarga,  ia tidak dapat meneruskan sekolahnya selama beberapa tahun. Baru pada tahun 1950, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau.

Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif
Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif

Merantau ke Jawa

Pada tahun 1953, dalam usia 18 tahun, Ahmad Syafi’i Ma’arif merantau ke Jawa, bersama dua adik sepupunya, yakni Azra’i dan Suward, ia diajak belajar ke Yogyakarta oleh M. Sanusi Latief. Namun, sesampai di Yogyakarta, niatnya semula untuk meneruskan sekolahnya ke Madrasah Muallimin di kota itu tidak terwujud, karena pihak sekolah menolak menerimanya di kelas empat dengan alasan kelas sudah penuh.

Tak lama setelah itu, ia justru diangkat menjadi guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di sekolah tersebut tetapi tidak lama. Pada saat bersamaan, ia bersama Azra’i mengikuti sekolah montir sampai akhirnya lulus setelah beberapa bulan belajar.

Setelah itu, ia kembali mendaftar ke Muallimin dan akhirnya ia diterima tetapi ia harus mengulang kuartal terakhir kelas tiga. Selama belajar di sekolah tersebut, ia aktif dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar (Kini dibawahi oleh Lembaga Pers Mu’allimin), sebuah majalah pelajar Muallimin di Yogyakarta.

Setelah ayahnya meninggal pada 5 Oktober 1955, kemudian ia tamat dari Muallimin pada 12 Juli 1956, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, terutama karena masalah biaya. Dalam usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok Timur untuk menjadi Guru di Kampung di Pohgading.

Pada Maret 1957, dalam usia 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya, kemudian kembali lagi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Cokroaminoto Surakarta dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat doktoral pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan tamat pada tahun 1968.

Selama kuliah, ia sempat menggeluti beberapa pekerjaan, diantaranya menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain pada 1958. Ahmad Syafi’i Maarif juga pernah membuka toko dagang kecil-kecilan bersama temannya, kemudian menjadi guru honorer di Baturetno dan Solo. Selain itu, ia juga sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Karier

Mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini, berkesempatan menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi, “Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.”

Selama di Chicago inilah, anak bungsu dari empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian Islam, bersama seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazlur Rahman. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Penulis Damiem Demantra membuat sebuah novel tentang masa kecil Ahmad Syafi’i Maarif, yang berjudul ‘Si Anak Kampung’. Novel ini telah difilmkan dan meraih penghargaan pada America International Film Festival (AIFF).

Aktivitas

Usai menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif aktif dalam lembaga yang didirikannya, Maarif Institute. Sebagai Guru besar IKIP Yogyakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta), beliau rajin menulis, di samping pembicara dalam sejumlah seminar, dalam dan luar negeri.

Sebagian besar tulisannya adalah Masalah-masalah keummatan, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Selain itu ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit antara lain berjudul : Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak?, kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985. Atas karya-karyanya, pada tahun 2008 Syafii mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina.

Karya tulis

  • Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, Yayasan FKIS-IKIP, Yogyakarta, 1975
  • Dinamika Islam, Shalahuddin Press, 1984
  • Islam, Mengapa Tidak?, Shalahuddin Press, 1984
  • Percik-percik Pemikiran Iqbal, Shalahuddin Press, 1984
  • Islam dan Masalah Kenegaraan, LP3ES, 1985

Selamat Jalan Sang Musafir

Buya Prof Dr H Ahmad Syafi’i Ma’arif selama hidupnya di Yogya menganggap diri sebagai seorang musyafir. Setidaknya begitu menurut karibnya, sesama guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Hidup itu sendiri ibarat perjalanan seorang musafir. Pun ketika beliau datang dari Sumatera Barat ke Yogyakarta: sebagai seorang musafir. Kini musyafir itu melanjutkan perjalanannya ke alam barzah. Selamat jalan Buya. (*)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT